Congek Bukan Penyakit Sepele
IKL August 10, 2026 10:03 AM

Oleh: dr. Musmuliadi, Sp.THT-BKL, dokter spesialis THT-KL RSU Putri Bidadari Aceh

SERAMBINEWS.COM - “Ah, cuma congek.” Kalimat itu masih sering terdengar ketika seseorang mengeluhkan telinganya mengeluarkan cairan. Sebagian masyarakat menganggap congek sebagai penyakit biasa yang akan sembuh sendiri. Ada pula yang memilih membeli obat tetes tanpa pemeriksaan, bahkan menggunakan ramuan tradisional atau mengorek telinga dengan berbagai benda. Akibatnya, infeksi dapat terus berlangsung hingga bertahun-tahun tanpa penanganan yang tepat.

Padahal, di balik anggapan yang tampak sederhana itu, congek menyimpan risiko yang tidak kecil. Penyakit ini dapat menurunkan kemampuan pendengaran, mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan prestasi belajar anak, hingga memicu komplikasi serius apabila terlambat ditangani.

Dalam istilah medis, congek dikenal sebagai Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK), yaitu infeksi kronis pada telinga tengah yang ditandai dengan adanya lubang pada gendang telinga disertai keluarnya cairan dari telinga secara berulang atau terus-menerus. Penyakit ini umumnya merupakan kelanjutan dari infeksi telinga akut yang tidak sembuh sempurna atau tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat.

Gejala yang paling sering dialami adalah keluarnya cairan dari telinga. Cairan tersebut dapat berwarna bening, putih kekuningan, hingga kehijauan dan kadang disertai bau yang tidak sedap. Sebagian penderita juga mengeluhkan pendengaran berkurang, telinga berdenging, atau rasa penuh di telinga. Pada kondisi tertentu, infeksi dapat disertai nyeri, demam, bahkan gangguan keseimbangan.

Masalahnya, banyak penderita masih merasa dapat beraktivitas seperti biasa sehingga menganggap kondisi tersebut tidak berbahaya. Mereka baru mencari pertolongan ketika pendengaran mulai menurun drastis atau muncul komplikasi. Padahal, semakin lama infeksi berlangsung, semakin besar pula risiko kerusakan struktur telinga.

Gendang telinga yang berlubang menyebabkan proses penghantaran suara menjadi tidak optimal. Bila infeksi terus berlanjut, tulang-tulang pendengaran di telinga tengah dapat ikut mengalami kerusakan. Akibatnya, gangguan pendengaran menjadi semakin berat dan, pada sebagian kasus, dapat bersifat permanen. Kondisi ini tentu berdampak pada kualitas hidup, kemampuan berkomunikasi, hingga produktivitas seseorang.

Pada anak-anak, dampaknya bahkan lebih luas. Gangguan pendengaran akibat congek dapat memengaruhi perkembangan bahasa, kemampuan belajar, dan prestasi di sekolah. Anak mungkin tampak kurang memperhatikan pelajaran, sering meminta lawan bicara mengulang perkataan, atau mengalami kesulitan berkomunikasi. Tidak jarang kondisi tersebut disalahartikan sebagai masalah perilaku, padahal penyebab utamanya adalah gangguan pendengaran yang tidak disadari.

Selain gangguan pendengaran, infeksi kronis juga berpotensi menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Infeksi dapat menyebar ke tulang di sekitar telinga (mastoiditis), menyebabkan kelumpuhan saraf wajah, bahkan, dalam kasus tertentu, menjalar ke dalam rongga tengkorak hingga mengakibatkan meningitis atau abses otak. Walaupun komplikasi tersebut tidak sering terjadi, risikonya meningkat apabila congek dibiarkan tanpa pengobatan.

Kabar baiknya, congek bukanlah penyakit yang tidak dapat diatasi. Dengan diagnosis yang tepat dan penanganan sejak dini, sebagian besar penderita dapat memperoleh hasil pengobatan yang baik. Dokter akan membersihkan telinga secara aman, memberikan obat tetes telinga atau antibiotik bila diperlukan, serta mengevaluasi kondisi gendang telinga. Pada kasus tertentu, operasi penutupan gendang telinga, seperti miringoplasti atau timpanoplasti, dapat dilakukan untuk memperbaiki fungsi pendengaran sekaligus mencegah infeksi berulang.

Namun, keberhasilan pengobatan tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Peran masyarakat juga sangat penting. Infeksi telinga akut harus diobati hingga tuntas. Telinga juga perlu dijaga tetap kering, terutama jika sudah terdapat lubang pada gendang telinga. Selain itu, hindari kebiasaan memasukkan cotton bud, benda tajam, atau cairan yang tidak dianjurkan ke dalam telinga. Pengobatan sendiri tanpa pemeriksaan justru berisiko memperparah kerusakan telinga.

Di era ketika informasi kesehatan begitu mudah diperoleh, kesadaran untuk menjaga kesehatan telinga juga perlu terus ditingkatkan. Pendengaran merupakan salah satu modal utama dalam belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menikmati kehidupan. Kehilangan pendengaran sering kali terjadi secara perlahan sehingga tidak disadari hingga kondisinya sudah berat.

Karena itu, jangan pernah menganggap remeh telinga yang mengeluarkan cairan. Bila keluhan berlangsung lebih dari beberapa hari, berulang, disertai bau, atau pendengaran mulai berkurang, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan atau dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher (THT-KL). Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang untuk mempertahankan fungsi pendengaran dan mencegah komplikasi.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap congek. Penyakit ini bukan sekadar telinga yang “berair”, melainkan infeksi kronis yang dapat mengancam pendengaran dan kualitas hidup. Mengenali gejalanya, mencari pertolongan medis sejak dini, serta menjalani pengobatan dengan benar merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menyelamatkan pendengaran seseorang.

Sebab, menjaga pendengaran berarti menjaga kemampuan kita untuk berkomunikasi, belajar, bekerja, dan menikmati setiap suara yang memberi makna dalam kehidupan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.