Wiwit Kopi Segunung Jombang, Tradisi Syukur Saat Musim Panen Tiba
Titis Jati Permata August 10, 2026 10:32 AM

 

 


SURYA.co.id, JOMBANG – Buah-buah kopi yang memerah di antara rimbunnya kebun Kampung Adat Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Jombang, Jawa Timur, menjadi tanda musim panen telah tiba.

Namun, warga Segunung tidak langsung memetiknya.

Sebelum tangan menyentuh buah kopi yang matang, mereka lebih dulu berkumpul di tengah kebun untuk berdoa dan mengucap syukur.

Bagi masyarakat setempat, panen bukan sekadar momentum mengambil hasil dari kebun, tetapi juga saat untuk mengingat hubungan mereka dengan alam.

Prosesi itulah yang dikenal sebagai Wiwit Kopi.

Tradisi yang digelar pada 8-9 Agustus 2026 tersebut menjadi bagian dari rangkaian Adat Bumi sekaligus penanda dimulainya musim panen kopi di Kampung Adat Segunung.

Sebelum Memetik, Warga Mengucap Syukur

Pagi itu, kebun kopi menjadi ruang berkumpul warga.

Mereka menjalani prosesi wiwit sebelum kemudian memulai pemetikan buah kopi yang telah matang.

Ketua Kampung Adat Segunung, Supi’i, menjelaskan bahwa wiwit dalam bahasa Jawa berarti memulai.

Karena itu, Wiwit Kopi dimaknai sebagai awal dimulainya aktivitas panen setelah warga menunggu buah kopi matang di kebun.

“Wiwit Kopi merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang diperoleh. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari identitas Kampung Adat Segunung karena kehidupan masyarakat sangat dekat dengan lingkungan perkebunan,” ujar Supi’i kepada SURYA.co.id, Senin (10/8/2026).

Baca juga: Sambut Muktamar NU ke-35, Alumni Tambakberas Siapkan 25 Ribu Cangkir Kopi Gratis untuk Peserta

Bagi masyarakat Segunung, kopi bukan hanya komoditas yang memiliki nilai ekonomi.

Tanaman tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus tumbuh bersama tradisi yang diwariskan antargenerasi.

Memetik Kopi, Memetik Harapan

Setelah doa, pemetikan buah kopi menjadi bagian utama prosesi.

Buah yang telah berwarna merah dipetik satu per satu. Aktivitas yang terlihat sederhana itu menjadi penanda bahwa masa penantian selama musim tanam telah berakhir dan berganti dengan masa panen.

Bagi para petani, panen membawa harapan yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil perkebunan.

Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, keberlangsungan kebun yang harus dijaga, serta kehidupan masyarakat yang selama ini sangat bergantung pada hasil alam.

Setelah prosesi di kebun selesai, hasil panen kopi dan aneka hasil bumi warga kemudian dibawa dalam arak-arakan menuju Balai Ageng Giri Kedaton.

Gunungan berisi hasil pertanian dan jajanan pasar turut menjadi bagian dari rangkaian Adat Bumi.

Warga berjalan bersama. Mereka yang memetik kopi, membawa hasil bumi, maupun sekadar mengikuti prosesi melebur dalam satu arak-arakan.

Di titik inilah Wiwit Kopi tidak hanya menjadi ritual panen, tetapi juga ruang perjumpaan masyarakat.

Dari Kebun Kopi ke Meja Makan

Setibanya di Balai Ageng Giri Kedaton, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa dan selamatan.

Warga kembali memanjatkan syukur atas hasil pertanian dan perkebunan sekaligus memohon agar musim panen berlangsung lancar.

Suasana kebersamaan kemudian semakin terasa ketika warga dan mahasiswa KKN Kelompok 37 UPN “Veteran” Jawa Timur mengikuti tumpengan bersama.

Kehadiran mahasiswa tidak sekadar sebagai penonton tradisi. Mereka ikut berbaur dalam berbagai kegiatan dan menikmati makanan bersama warga.

Di sekitar meja makan, jarak antara mahasiswa dan masyarakat yang sehari-hari hidup di tengah perkebunan kopi seolah menghilang.

Percakapan berlangsung dalam suasana sederhana. Tradisi yang semula menjadi milik masyarakat setempat pun berubah menjadi ruang bertukar pengalaman dengan generasi muda dari luar kampung.

Kopi Tak Hanya untuk Diminum

Wiwit Kopi tahun ini juga dikemas dengan sejumlah kegiatan yang lebih dekat dengan generasi muda.

Salah satunya lomba goreng kopi.

Kopi lokal Segunung tidak hanya ditampilkan sebagai hasil perkebunan, tetapi diolah menjadi bagian dari permainan dan hiburan warga.

Kegiatan tersebut menjadi cara kreatif memperkenalkan kopi lokal sekaligus menghadirkan suasana riang dalam rangkaian tradisi.

Setelah berbagai kegiatan berlangsung, warga juga mengikuti pembagian atau perebutan hasil bumi yang telah disiapkan.

Bagi masyarakat Segunung, hasil bumi itu bukan sekadar sesuatu yang diperebutkan. Ada pesan tentang berbagi rezeki di dalamnya.

Hasil yang tumbuh dari tanah dan kebun pada akhirnya kembali dinikmati bersama.

Tradisi yang Menjaga Hubungan dengan Alam

Supi’i menilai Wiwit Kopi menjadi pengingat bahwa tradisi masyarakat Segunung tidak lahir secara tiba-tiba.

Tradisi tersebut tumbuh dari hubungan panjang antara manusia, alam, dan kehidupan sosial masyarakat.

“Doa sebelum panen menjadi bentuk rasa syukur. Pemetikan kopi menandai dimulainya musim panen, arak-arakan hasil bumi menggambarkan kebersamaan, sedangkan selamatan menjadi ruang untuk berbagi dan memanjatkan harapan,” jelasnya.

Karena itu, Wiwit Kopi tidak berhenti sebagai seremoni tahunan.

Tradisi tersebut menjadi cara masyarakat memperkenalkan identitas kampung kepada generasi berikutnya sekaligus menjaga agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hilang oleh perubahan zaman.

Keterlibatan mahasiswa KKN Kelompok 37 UPN “Veteran” Jawa Timur juga membuka ruang pertukaran pengetahuan.

Mahasiswa dapat melihat langsung kehidupan sosial dan budaya masyarakat perkebunan. Sebaliknya, warga mendapat kesempatan memperkenalkan tradisi mereka kepada generasi muda yang datang dari luar kampung.

Pada akhirnya, Wiwit Kopi bukan semata cerita tentang buah kopi yang berubah merah lalu dipetik.

Ia adalah cerita tentang manusia yang menunggu hasil dari tanah yang mereka rawat.

Tentang rasa syukur setelah melewati satu musim.

Tentang warga yang memilih berkumpul ketika hasil bumi tiba.

Dan tentang sebuah kampung yang berusaha menjaga warisan leluhur agar tetap hidup ketika zaman terus berubah.

Di Segunung, ketika kopi mulai dipetik, yang dirayakan bukan hanya panen.

“Yang dirayakan adalah syukur, kebersamaan, dan hubungan manusia dengan alam yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” pungkas Supi’i.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.