Tangis Haru Keluarga Depati Amir, Patung Pahlawan Babel Berdiri Gagah di Ibu Kota
Ardhina Trisila Sakti August 10, 2026 11:03 AM

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Sosok Pahlawan Nasional Depati Amir kini berdiri gagah di jantung Kota Pangkalpinang. Patung setinggi sekitar 3,5 meter itu ditempatkan di persimpangan Jalan Jenderal Sudirman, tepat di depan Kantor PT Timah Tbk, Kelurahan Opas Indah, Kecamatan Taman Sari.

Patung berwarna perunggu kecokelatan tersebut menampilkan Depati Amir dalam posisi tegap dengan tatapan tajam. Ia mengenakan pakaian tradisional pejuang Bangka dan destar, sementara kedua tangannya menggenggam senjata yang bertumpu ketanah. 

Di bagian bawahnya terdapat fondasi batu berwarna hitam dengan prasasti yang memuat nama, riwayat hidup, serta keterangan sejarah Depati Amir. Namun, patung itu bukan sekadar penanda baru di pusat kota.

Ada proses panjang untuk memastikan sosok yang ditampilkan tidak melenceng dari sejarah. Bahkan, sebelum diwujudkan menjadi patung, rekonstruksi wajah dan tubuh Depati Amir terlebih dahulu diperlihatkan kepada keluarga keturunannya di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Sejarawan Bangka Belitung, Dato’ Akhmad Elvian, terlibat langsung dalam proses tersebut. Menurut dia, rekonstruksi dilakukan dengan mengacu pada sumber sejarah, termasuk lukisan yang dibuat seorang Jerman bernama Franz F setelah berkunjung ke Bangka pada 1836.

“Yang kita lakukan bukan sekadar membuat patung. Kita ingin sosok Depati Amir yang ditampilkan benar-benar memiliki dasar sejarah,” kata Elvian kepada Bangka Pos, Jumat (7/8).

Dalam lukisan tersebut, Franz menggambarkan Depati Bahrin bersama keluarga dan pengawalnya. Saat itu, Depati Bahrin berusia sekitar 61 tahun, sedangkan Amir sekitar 38 tahun.

“Lukisan tersebut dibuat setelah Franz berkunjung ke Bangka pada 1836. Dalam kunjungannya, Franz mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kediaman Depati Bahrin di Mendara dan melukis Depati Bahrin beserta keluarga dan pengawalnya,” ujar Elvian.

Lukisan itu kemudian diterbitkan dalam buku Sejarawan Bangka Belitung, Dato’ Akhmad Elvian, terlibat langsung dalam proses tersebut.

Menurut dia, rekonstruksi dilakukan dengan mengacu pada sumber sejarah, termasuk lukisan yang dibuat seorang Jerman bernama Franz F setelah berkunjung ke Bangka pada 1836.

“Yang kita lakukan bukan sekadar membuat patung. Kita ingin sosok Depati Amir yang ditampilkan benar-benar memiliki dasar sejarah,” kata Elvian kepada Bangka Pos, Jumat (7/8).

Dalam lukisan tersebut, Franz menggambarkan Depati Bahrin bersama keluarga dan pengawalnya. Saat itu, Depati Bahrin berusia sekitar 61 tahun, sedangkan Amir sekitar 38 tahun.

“Lukisan tersebut dibuat setelah Franz berkunjung ke Bangka pada 1836. Dalam kunjungannya, Franz mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kediaman Depati Bahrin di Mendara dan melukis Depati Bahrin beserta keluarga dan pengawalnya,” ujar Elvian.

Lukisan itu kemudian diterbitkan dalam buku

“Kita rapat dengan keluarga, baik keluarga Depati Amir maupun keluarga Depati Hamzah. Kita tampilkan lukisan tadi,” katanya.

Respons keluarga menjadi bagian paling emosional dalam proses tersebut.

“Mereka menangis. Mereka terharu melihat sosok Depati Amir yang begitu gagah dalam lukisan yang mendekati sempurna,” ungkap Elvian.

Keluarga kemudian menyetujui hasil rekonstruksi dengan membubuhkan tanda tangan. Setelah persetujuan itu diperoleh, proses pembuatan patung dilanjutkan.

Tiga Bulan

Pengerjaan patung berlangsung sekitar tiga bulan. Detail wajah menjadi perhatian utama karena Elvian menyebut Depati Amir memiliki karakter wajah yang khas.

“Raut wajah Depati Amir itu sangat khas. Wajahnya tegas dan sorot matanya seperti selalu curiga kepada orang,” ujarnya.

Postur tubuh juga disesuaikan dengan keterangan dalam literatur sejarah. Depati Amir disebut memiliki tinggi sekitar 168-170 sentimeter dengan tubuh kekar, tegap, dan berisi.

Detail lain yang tak kalah penting ialah senjata di tangannya. Elvian meluruskan anggapan bahwa senjata tersebut merupakan pedang.

“Banyak yang mengiraitu pedang. Padahal bukan. Senjatanya adalah keris panjang Bangka yang disebut siwar,” katanya.

Siwar memiliki bilah sekitar 60 sentimeter dan pada masa itu berfungsi sebagai senjata sekaligus tongkat. Pakaian Depati Amir juga direkonstruksi berdasarkan kondisi masyarakat Bangka pada zamannya.

Menurut Elvian, keterbatasan sandang membuat masyarakat menggunakan kulit kayu untuk membuat pakaian.

Tiga jenis kayu yang menjadi rujukan ialah terap, kapur, dan jelutung, dengan getah digunakan sebagai perekat. Sementara itu, destar hitam yang dikenakan Depati Amir juga memiliki makna.

Kain tersebut disebut sebagai pemberian Sultan kepada masyarakat Bangka sebagai tanda jasa dan kemudian digunakan sebagai penutup kepala. 

Bentuk Kepedulian

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pangkalpinang Fahrizal mengatakan kehadiran patung tersebut merupakan bentuk kepedulian PT Timah terhadap sejarah sekaligus penghormatan kepada pahlawan asal Bangka Belitung.

“Ini merupakan bentuk kepedulian PT Timah terhadap nilai historis dan penghormatan kepada pahlawan dari Babel,” kata Fahrizal.

Menurut dia, lokasi patung dipilih karena berada di pusat kota dan dapat terlihat dari tiga arah jalan.

Kawasan taman dan ruang terbuka hijau di sekitar patung merupakan kewenangan Pemkot Pangkalpinang, sedangkan PT Timah turut membantu perawatan dan penjagaannya.

Fahrizal berharap patung tersebut tidak berhenti sebagai landmark baru. Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, keberadaannya diharapkan menghidupkan kembali ingatan masyarakat terhadap perjuangan Depati Amir.

“Harapannya, keberadaan Patung Depati Amir bisa menggugah semangat masyarakat untuk meneladani jiwa kepahlawanan,” ujarnya.

Patung itu kini menjadi bagian dari wajah baru Pangkalpinang sekaligus ruang edukasi sejarah. Di tengah lalu lintas pusat kota, sosok Depati Amir berdiri membawa pesan bahwa kemerdekaan dan identitas daerah dibangun dari perjuangan yang panjang. (x1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.