Sulut vs Sumsel, Adu Kekayaan Daerah Perikanan dan Lumbung Energi: Intip PDRB Triwulan II-2026
Yandi Triansyah August 10, 2026 12:27 PM

SRIPOKU.COM,PALEMBANG — Dalam peta geopolitik dan ekonomi Indonesia, Sulawesi Utara (Sulut) dan Sumatera Selatan (Sumsel) memegang peran yang sangat strategis dengan karakter keunggulan yang kontras.

Sulut berdiri megah sebagai benteng bahari dan gerbang Pasifik, sementara Sumsel mengukuhkan diri sebagai raksasa lumbung energi serta komoditas perkebunan daratan.

Sulawesi Utara mengoptimalkan letak geografisnya sebagai hub maritim timur Indonesia.

Sektor perikanan laut menjadi motor utama ekspor, ditopang oleh komoditas perkebunan bernilai tinggi seperti kopra (kelapa), cengkeh, pala, dan kakao yang telah mendunia sejak era rempah.

Baca juga: Pagar Alam vs Kotamobagu, Duel Daerah Dataran Tinggi: Segini Realisasi PAD Dua Kota Sejuk

Di sisi lain, Sumatera Selatan merupakan salah satu mesin utama penopang pasokan energi nasional.

Bumi Sriwijaya ditopang oleh cadangan batu bara terbesar kedua di Indonesia, melimpahnya migas, serta luasnya bentangan perkebunan kelapa sawit penghasil CPO, karet, hingga kopi.

Lantas, bagaimana jika kekayaan ekonomi kedua daerah ini diadu berdasarkan pencatatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku?

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip pada Senin (10/8/2026), berikut perbandingan angka PDRB Sulawesi Utara dan Sumatera Selatan pada Triwulan II-2026.

Sulawesi Utara: Gerbang Maritim Pasifik

Perekonomian Sulawesi Utara pada triwulan II-2026 mencatatkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku sebesar Rp 55,20 triliun.

Angka ini ditopang oleh geliat ekspor sektor perikanan tangkap dan olahan yang langsung menjangkau pasar internasional di kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Selain itu, kontribusi dari hilirisasi produk turunan kelapa dan komoditas rempah-rempah turut menjaga stabilitas serta laju pertumbuhan ekonomi di Tanah Nyiur Melambai.

Sumatera Selatan: Raksasa Lumbung Energi dan Komoditas

Bergeser ke barat, perekonomian Provinsi Sumatera Selatan mencatatkan skala yang jauh lebih masif.

BPS mencatat PDRB atas dasar harga berlaku Sumsel pada triwulan II-2026 berhasil menembus angka Rp 199,05 triliun.

Tinggi nilai PDRB Sumsel dipicu oleh tingginya volume produksi dan hilirisasi batu bara serta energi di dalam negeri.

Tak hanya dari sektor tambang dan migas, masifnya industri kelapa sawit (CPO) serta tingginya kontribusi sektor perkebunan karet dan kopi memberikan dorongan modal (capital intensive) yang sangat besar terhadap total nilai tambah ekonomi daerah ini.

Perbandingan ini memperlihatkan perbedaan skala ekonomi berbasis modal dan kekayaan alam daratan dibandingkan dengan ekonomi berbasis maritim dan komoditas tropis.

Sulawesi Utara membuktikan ketahanannya sebagai pusat perikanan dan perdagangan Pasifik, sementara Sumatera Selatan menunjukkan dominasi kapasitas ekonominya sebagai lumbung energi serta komoditas utama nasional.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.