SURYA.co.id, SURABAYA – Beragam persoalan kesehatan di Indonesia masih membutuhkan jawaban melalui riset.
Mulai tuberkulosis (TB), masalah kognitif, hingga penyakit kardiovaskular menjadi persoalan besar yang membutuhkan penelitian dengan dampak nyata bagi masyarakat.
Namun, tantangan peneliti bukan sekadar menemukan masalah.
Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana memformulasikan masalah besar tersebut menjadi konsep penelitian yang jelas, dapat dilaksanakan, memiliki kebaruan, sekaligus menghasilkan manfaat.
Hal tersebut disampaikan Prof. Delvac Oceandy, MD., Ph.D dari The University of Manchester dalam Guest Lecturer bertajuk “Infeksi dan Perkembangan Saraf Janin” di Auditorium Lantai 9, Kampus B Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Senin (10/8/2026).
Prof Delvac mengatakan, banyak masalah kesehatan yang dapat dijadikan titik awal penelitian.
Baca juga: AI Akan Gantikan Pekerjaan Rutin, Unusa Ubah Kurikulum Berbasis Outcome Based Education
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah persoalan juga telah disinggung, termasuk TB dan masalah kognitif.
Ia sendiri menyoroti persoalan penyakit kardiovaskular. Berdasarkan proyek yang dilakukan di Malang, ia menyebut sekitar 20 hingga 30 persen atau sepertiga masyarakat di wilayah pedesaan memiliki risiko penyakit jantung.
“Masalah banyak. Cuma bagaimana kita memformulasikan masalah yang besar itu menjadi satu konsep riset yang bisa dieksekusi,” ujarnya.
Menurut Prof Delvac, proses tersebut membutuhkan tahapan untuk menguji dan memformulasikan persoalan kesehatan yang besar menjadi sebuah pertanyaan riset yang dapat diimplementasikan melalui metode yang tepat.
Setidaknya terdapat sejumlah faktor penting yang perlu dipertimbangkan peneliti.
Pertama adalah kebaruan atau novelty. Penelitian harus memiliki unsur kebaruan sehingga tidak sekadar mengulang penelitian yang sudah dilakukan.
Kedua adalah kelayakan untuk dilaksanakan. Sebuah ide penelitian yang menarik harus dapat diterjemahkan menjadi penelitian yang feasible atau memungkinkan untuk dikerjakan dengan sumber daya dan metode yang tersedia.
Ketiga adalah manfaat hasil penelitian. Peneliti perlu mempertimbangkan apakah hasil yang diperoleh nantinya dapat dimanfaatkan dan memberikan dampak.
“Yang penting adalah memformulasikan masalah yang besar menjadi satu konsep riset yang visible, bisa dilaksanakan, tapi juga masih memenuhi beberapa faktor utama yaitu kebaruan, kedua apakah ini bisa dilaksanakan, yang ketiga apakah nanti kalau ada hasilnya, hasilnya itu bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Ia menekankan, persoalan kesehatan yang besar tidak otomatis menjadi penelitian yang baik apabila tidak dapat diterjemahkan menjadi pertanyaan riset yang spesifik dan dapat dieksekusi.
Karena itu, peneliti perlu melalui proses untuk menguji sekaligus memformulasikan masalah kesehatan tersebut hingga menjadi bentuk pertanyaan penelitian yang dapat dijawab melalui metode ilmiah.
Sementara itu, Wakil Rektor III Unusa Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian kepada Masyarakat, Hubungan Eksternal, dan Pemeringkatan Global, Prof. Dr. Bambang Sektiari Lukiswanto, DEA., DVM., mengatakan kehadiran Prof Delvac tidak hanya menjadi kuliah tamu, tetapi juga diharapkan memperkuat kolaborasi riset.
Menurut Bambang, Unusa tidak sekadar ingin mengadopsi materi yang disampaikan dalam kuliah tamu tersebut. Lebih dari itu, Unusa ingin meningkatkan kolaborasi dengan Prof Delvac maupun The University of Manchester.
“Jadi kita bukan mengadopsi, tapi kita akan meningkatkan kolaborasi,” ujarnya.
Bambang menyebut Prof Delvac merupakan profesor yang sangat reputabel dari The University of Manchester.
Dalam kesempatan tersebut, Unusa dan Prof Delvac juga telah membicarakan sejumlah tema serta bentuk kolaborasi yang berpotensi dikembangkan.
Kolaborasi tersebut, lanjutnya, juga berkaitan dengan pembangunan budaya riset di lingkungan Unusa.
Bambang mengatakan Unusa selama ini telah mengembangkan riset dan memiliki capaian publikasi internasional serta peneliti yang masuk dalam jajaran peneliti utama di Indonesia.
Namun, ke depan, Unusa ingin riset yang dikembangkan tidak hanya berhenti pada capaian akademik. Penelitian harus mampu menjawab persoalan besar sekaligus memberikan kemanfaatan bagi masyarakat Indonesia.
“Kita ingin bahwa riset-riset yang kita kembangkan itu adalah riset-riset tadi yang bermanfaat, yang bisa menyelesaikan masalah besar, tapi kemudian juga bisa memberikan kemanfaatan yang baik di masyarakat Indonesia,” katanya.
Menurut Bambang, pengembangan riset tersebut penting karena persoalan kesehatan tidak berdiri sendiri dan dapat berpengaruh terhadap perkembangan manusia dalam jangka panjang.Ia mencontohkan persoalan preeklamsia maupun stunting.
Penanganan masalah tersebut tetap diperlukan, tetapi perhatian terhadap kesehatan dan tumbuh kembang manusia juga perlu dilihat secara lebih luas.
Karena itu, penguatan budaya riset di Unusa diarahkan pada penelitian yang mampu mengidentifikasi masalah besar, merumuskannya menjadi pertanyaan ilmiah yang dapat dieksekusi, sekaligus menghasilkan temuan yang memiliki manfaat nyata.
Melalui penguatan kolaborasi dengan peneliti internasional seperti Prof Delvac dan The University of Manchester, pihaknya berharap kapasitas riset tidak hanya berkembang dari sisi publikasi, tetapi juga semakin kuat dalam menghasilkan penelitian yang relevan dengan persoalan kesehatan masyarakat.