10 Titik Panas Terdeteksi di Kaltara, BMKG Sebut Tersebar di Malinau hingga Bulungan
Amiruddin August 10, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Munculnya sejumlah titik panas atau hotspot di wilayah Kalimantan Utara, kembali menjadi perhatian, di tengah kondisi cuaca yang mulai kering.

Terlebih, beberapa wilayah di Pulau Kalimantan bagian selatan dan barat (Kalbar dan Kalsel), saat ini juga terpantau memiliki titik panas, dengan tingkat kepercayaan yang cukup tinggi.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terkait kemungkinan munculnya kabut asap di Kalimantan Utara.

Kepala BMKG Tarakan, M Sulam Khilmi, menjelaskan bahwa masyarakat perlu membedakan antara hotspot dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sebab, keberadaan titik panas yang terpantau melalui citra satelit, belum secara otomatis menunjukkan telah terjadi kebakaran hutan dan lahan di lokasi tersebut.

"Jadi ada perbedaan hotspot dan kebakaran hutan dan lahan.

Hotspot itu titik panas," ujar M Sulam Khilmi.

Baca juga: BMKG Tarakan Beri Peringatan Gelombang Tinggi, Berisiko Bagi Nelayan yang Melaut di Perairan Kaltara

Ia menjelaskan, hotspot merupakan titik yang terdeteksi memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan objek di sekitarnya ketika satelit melintas.

Dengan demikian, titik panas yang muncul dari hasil pemantauan satelit, masih harus dilihat berdasarkan tingkat kepercayaannya, serta kondisi sebenarnya di lapangan.

"Jadi belum tentu itu kebakaran hutan dan lahan," jelasnya.

Ia menerangkan, hotspot memiliki tiga klasifikasi berdasarkan tingkat kepercayaan atau confidence level.

Salah satunya adalah kategori menengah dengan tingkat kepercayaan berada pada kisaran 20 hingga 80 persen.

Pada kategori tersebut, titik panas yang terdeteksi belum dapat langsung dipastikan sebagai lokasi kebakaran.

"Yang medium.

Medium itu kan antara 20-80 persen.

Dan level kepercayaannya.

Nah itu belum tentu karhutla," kata Sulam Khilmi.

Berbeda ketika titik panas yang terdeteksi memiliki tingkat kepercayaan di atas 80 persen.

Menurut Sulam Khilmi, titik dengan tingkat kepercayaan tinggi biasanya ditandai sebagai titik merah, dan indikasinya, jauh lebih kuat mengarah kepada adanya kebakaran.

"Beberapa sudah level konfidensinya di atas 80 persen.

Jadi titiknya sudah merah.

Biasanya kalau 80 persen ke atas ini bisa dipastikan di sana ada kebakaran, kebakaran hutan dan lahan," tuturnya.

Untuk kondisi Kalimantan Utara sendiri, BMKG Tarakan saat ini memang menemukan sejumlah titik panas berdasarkan pemantauan citra satelit.

Namun, titik-titik tersebut belum dapat langsung disebut sebagai karhutla, karena sebagian masih berada pada kategori tingkat kepercayaan menengah.

"Saat ini memang ada beberapa titik ya, terutama wilayah didominasi oleh wilayah Malinau dan Bulungan ya.

Ini kalau tidak salah ada sekitar 10 hotspot ya saat ini," kata Sulam.

Dalam perkembangan pemantauan berikutnya, jumlah titik yang terdeteksi tercatat sebanyak 10 titik panas, dengan rincian empat titik berada di wilayah Malinau, dan tiga titik lainnya berada di wilayah Tanjung Selor, dan sekitarnya.

Khusus dari enam titik panas di wilayah Bulungan, salah satu lokasi yang terpantau merupakan kawasan yang secara historis cukup sering mengalami kejadian karhutla yakni Tanjung Palas Timur.

Namun demikian, Sulam Khilmi kembali menegaskan bahwa keberadaan titik panas tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan, bahwa telah terjadi kebakaran hutan dan lahan.

"Namun ini kategorinya menengah ya.

Jadi kategori menengah antara 20 sampai 80 persen.

Dan ini belum bisa dipastikan ini adalah kebakaran hutan dan lahan," jelasnya.

Baca juga: BMKG Tarakan Akui Rilis Potensi Tsunami di Kaltara, Ada Kenaikan Gelombang 30 Sentimeter

Ia menjelaskan, titik panas tersebut muncul karena saat satelit melintas, terdapat objek yang memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan lingkungan di sekitarnya.

"Hanya pada saat satelit melintas, titik itu suhunya lebih tinggi daripada objek di sekitarnya.

Itu definisi dari hotspot itu," katanya.

Karena itu, menurut Sulam Khilmi, hotspot lebih tepat dipahami sebagai indikator awal untuk membantu mendeteksi wilayah yang memiliki potensi terjadi karhutla.

"Jadi hotspot dan kebakaran hutan dan lahan itu dua hal yang berbeda.

Jadi kalau karhutla itu dampak atau situasi real di lapangan ya.

Tapi kalau hotspot itu untuk mempermudah kita, titik-titik mana yang berpotensi ada karhutla," ungkapnya.

Sementara untuk Kota Tarakan, BMKG memastikan tidak ada titik panas yang saat ini terpantau melalui citra satelit.

Padahal, sejumlah kawasan di Tarakan seperti Juata dan Amal selama ini dikenal memiliki potensi kejadian kebakaran lahan, terutama ketika hujan tidak turun dalam beberapa hari.

Menurutnya, tidak terdeteksinya titik panas di Tarakan bukan berarti wilayah tersebut sama sekali tidak mungkin mengalami kebakaran.

Sebab, kebakaran yang terjadi di suatu wilayah dapat saja berlangsung singkat dan berhasil dipadamkan, sebelum satelit melintas di lokasi tersebut.

"Karena kalau ada kebakaran lalu cepat dipadamkan, ada satelit lewat tidak terdeteksi karena sudah padam," bebernya.

Artinya, pemantauan hotspot melalui satelit merupakan salah satu indikator dalam mendeteksi potensi karhutla, namun tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menyimpulkan kondisi di lapangan.

Sulam mengatakan, secara historis terdapat sejumlah wilayah di Kalimantan Utara yang perlu mendapatkan perhatian ketika memasuki periode kering.

Di antaranya adalah kawasan Tanjung Palas Timur.

Wilayah tersebut disebut cukup sering mengalami kejadian karhutla pada tahun-tahun sebelumnya.

"Seperti tahun-tahun sebelumnya ya.

Kita mengalami itu di wilayah Tanjung Palas Timur.

Tanjung Palas Timur ini sering terjadi," ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari karakteristik wilayah yang mengalami musim kemarau, serta memiliki kawasan perkebunan yang cukup luas.

"Karena bagaimanapun di sana mengalami musim kemarau ya.

Tanjung Palas Timur ya.

Dan di sana juga wilayahnya, perkebunan yang luas," jelasnya.

Selain Tanjung Palas Timur, wilayah lain yang juga perlu diwaspadai berada di Kota Tarakan, terutama kawasan Juata dan Amal.

Sulam menyebut dua kawasan tersebut memiliki karakter yang cukup mudah mengalami kebakaran, ketika tidak mendapatkan hujan dalam beberapa hari.

"Di daerah Juata dan daerah Amal.

Ketika tidak terjadi hujan dalam tiga atau lima hari, sampai lima hari, karakternya memang mudah terjadi kebakaran," tukasnya.

 (*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.