SURYA.co.id – Sebuah tulisan tangan milik seorang mahasiswi Universitas Mulawarman (Unmul) viral di media sosial setelah bentuknya dinilai sangat unik.
Bukan karena tulisan tersebut sulit dibaca akibat tidak rapi, melainkan karena susunan hurufnya justru tampak sangat teratur, kecil, dan rapat.
Foto tulisan tangan itu diunggah akun Instagram @kaltimku pada Jumat (7/8/2026).
Dalam foto tersebut, hampir seluruh halaman tugas dipenuhi tulisan dengan jarak antarkata yang sangat sempit.
Sekilas, deretan huruf pada halaman tersebut terlihat seperti pola yang berulang.
Sejumlah warganet bahkan membandingkannya dengan benang jahitan, deretan rumput, hingga huruf "w" yang ditulis berulang kali.
Namun, ada satu detail dalam foto yang kemudian membuat unggahan tersebut semakin menarik.
Di tengah tulisan yang memenuhi halaman, terlihat catatan dari dosen menggunakan tinta biru.
Catatan tersebut bukan kritik terhadap kerapian tulisan, tetapi permintaan agar tulisan dibuat lebih renggang sehingga lebih mudah dibaca.
Keunikan tulisan mahasiswi tersebut terletak pada bentuk huruf yang seragam dan tersusun sangat rapat.
Hampir tidak terlihat ruang kosong yang lebar di antara kata maupun baris.
Kondisi itu membuat tulisan terlihat padat meskipun secara visual tampak teratur.
Pembaca masih dapat mengenali bentuk hurufnya, tetapi membutuhkan konsentrasi lebih untuk mengikuti rangkaian kata dari satu bagian ke bagian berikutnya.
Hal inilah yang membuat tulisan tersebut berbeda dari kasus tulisan tangan yang viral karena dianggap berantakan.
Dalam foto ini, persoalannya justru berada pada jarak tulisan yang terlalu dekat.
Kerapian dan keterbacaan menjadi dua hal yang berbeda. Tulisan bisa dibuat sangat konsisten dan memenuhi halaman dengan rapi, tetapi tetap membutuhkan penyesuaian agar nyaman dibaca orang lain.
Di antara deretan tulisan kecil tersebut terdapat catatan dari dosen yang ditulis menggunakan tinta biru.
Isi pesannya berbunyi, "Next time tulisannya tolong dibuat lebih renggang ya cantik!"
Kalimat tersebut menjadi bagian yang menarik perhatian karena disampaikan dengan nada yang relatif ringan.
Dosen tidak meminta mahasiswa mengubah karakter tulisannya secara keseluruhan, tetapi hanya memberikan saran agar jarak tulisan diperlebar pada tugas berikutnya.
Pesan singkat itu sekaligus menunjukkan persoalan utama dari tulisan tersebut. Bukan kerapian yang menjadi masalah, melainkan kepadatan tulisan yang berpotensi membuat pembaca lebih sulit mengikuti isi tugas.
Unggahan @kaltimku menyebut tulisan tersebut merupakan milik seorang mahasiswi Universitas Mulawarman. Keterangan unggahan juga menyoroti bahwa setiap orang memiliki ciri khas tulisan tangan masing-masing.
Dalam kasus ini, ciri khas tersebut terlihat dari ukuran huruf yang kecil dan susunan tulisan yang sangat rapat hingga menyerupai pola jahitan.
Respons warganet pun beragam. Sebagian mengaku masih dapat membaca tulisan tersebut tanpa mengalami banyak kesulitan.
Sementara itu, pengguna media sosial lainnya melihat bentuk yang berbeda ketika memperhatikan halaman tugas tersebut.
Ada yang menganggapnya seperti deretan rumput, sedangkan sebagian lainnya justru melihat pola seperti huruf "wwwwww".
Perbedaan tanggapan tersebut memperlihatkan bahwa satu bentuk tulisan dapat menghasilkan kesan visual yang berbeda bagi setiap orang.
Tulisan tangan pada dasarnya merupakan cara seseorang menuangkan informasi secara manual. Karena setiap orang memiliki kebiasaan berbeda dalam membentuk huruf, ukuran, kemiringan, serta jarak antarkata, hasilnya pun tidak selalu sama.
Dalam konteks tugas kuliah, tulisan tidak hanya ditujukan untuk diri sendiri. Ada dosen atau pihak lain yang perlu membaca dan memahami isi tulisan tersebut.
Karena itu, tulisan yang rapi bukan satu-satunya ukuran. Jarak antarkata, jarak antarbaris, dan ukuran huruf juga berpengaruh terhadap kenyamanan pembaca.
Catatan dosen pada lembar tugas tersebut dapat dilihat dalam konteks itu.
Saran untuk membuat tulisan lebih renggang bukan berarti karakter tulisan mahasiswi tersebut buruk, tetapi menjadi masukan agar tulisan yang sudah rapi juga lebih mudah dibaca.
Viralnya tulisan tangan mahasiswi Unmul ini menunjukkan bahwa sesuatu yang sederhana dapat menarik perhatian ketika memiliki ciri visual yang tidak biasa.
Tulisan tersebut justru menarik karena memperlihatkan paradoks: semakin rapat dan seragam susunan hurufnya, semakin kuat pula kesan unik yang muncul ketika dilihat dari kejauhan.
Namun, dari sisi komunikasi, kerapian sebaiknya tetap berjalan bersama keterbacaan. Tulisan yang ditujukan kepada orang lain idealnya tidak hanya terlihat teratur, tetapi juga memberikan ruang yang cukup agar informasi dapat dibaca dengan nyaman.
Pada akhirnya, catatan sederhana dari dosen tersebut menjadi pesan yang cukup relevan: tulisan yang sudah rapi bisa dibuat lebih baik lagi dengan memberikan ruang bagi pembacanya.