Harga Pangan Global Naik ke Level Tertinggi dalam 3,5 Tahun, Ini Penyebabnya
Agustina Melani August 10, 2026 07:00 PM

Liputan6.com, Jakarta - Harga pangan global naik ke tingkat tertinggi dalam 3,5 tahun pada Juli 2026. Kenaikan harga pangan global itu didorong oleh gangguan rantai pasok akibat risiko geopolitik serta kondisi cuaca yang semakin panas dan kering.

Demikian berdasarkan data PBB yang dirilis pada Jumat, 7 Agustus 2026, dikutip dari laman Anadolu, Senin (10/8/2026).

Indeks Harga Pangan dari Organisasi Pangan dan Pertanian atau the UN Food and Agriculture Organization’s (FAO) naik 0,6% dari bulan sebelumnya menjadi 131,1 poin pada Juli, level tertinggi sejak Januari 2023.

Kenaikan harga sereal, gula dan minyak nabati mengimbangi penurunan harga daging dan produk susu.

Meskipun terjadi kenaikan terbaru ini, harga pangan global masih berada 18,2% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang tercatat pada Maret 2022.

Indeks Harga Sereal FAO naik 3,4% secara bulanan (month-on-month) dan 6,9% secara tahunan (year-on-year) menjadi 113,8 poin.

Harga gandum global naik 5,8% dari Juni dan 9,9% dari tahun sebelumnya, seiring berlanjutnya gangguan arus ekspor di Laut Hitam dan kerusakan infrastruktur ekspor yang meningkatkan kekhawatiran pasokan.

Indeks Harga Minyak Nabati naik 3,7% menjadi 195,7 poin, mencapai level tertinggi sejak Juni 2022, karena harga minyak kelapa sawit dan minyak kedelai tetap tinggi.

Indeks Harga Gula naik 5,6% dari bulan sebelumnya menjadi 95 poin, meskipun masih 8% lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan bulanan ini mencerminkan kekhawatiran mengenai dampak cuaca panas dan kering yang berkepanjangan terhadap hasil panen di Uni Eropa serta potensi pengaruh kondisi El Nino terhadap prospek produksi di negara-negara produsen utama di Asia.

Sementara itu, Indeks Harga Daging turun 2,8% secara bulanan menjadi 127,7 poin, menandai penurunan bulanan pertama tahun ini, namun tetap 0,8% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Indeks Harga Produk Susu turun 0,8% dari Juni dan 24,8% secara tahunan menjadi 116,2 poin, melanjutkan tren penurunan yang terlihat sejak April.

Harga Pangan Global Melesat Tersengat Biaya Energi

Sebelumnya, harga pangan dunia naik untuk bulan ketiga berturut-turut pada April 2026. Kenaikan harga pangan global didorong lonjakan harga minyak nabati dan peningkatan harga sereal dan beras di tengah tingginya biaya energi.

Demikian disampaikan Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO) pada Jumat, 8 Mei 2026 dikutip dari Anadolu Agency, Minggu (9/5/2026).

"Patokan harga komoditas pangan dunia naik pada April untuk bulan ketiga berturut-turut di tengah tingginya biaya energi dan gangguan yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah,” demikian seperti dikutip.

Rata-rata indeks harga pangan FAO 130,7 pada April, naik 1,6% dari revisi Maret dan 2% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Indeks harga minyak nabati FAO naik 5,9% dari Maret ke level tertinggi sejak Juli 2022, didukung oleh harga minyak sawit, kedelai, bunga matahari.

Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero menuturkan, sistem pertanian global terus menunjukkan ketahanan meskipun terjadi gangguan yang terkait dengan krisis Selat Hormuz. Sementara itu, minyak nabati menghadapi kenaikan harga lebih kuat sebagian besar karena harga minyak lebih tinggi dan permintaan biofuel yang lebih kuat.

 

Indeks Harga Sereal

Indeks harga sereal di FAO naik 0,8% secara bulanan, mencerminkan kenaikan harga gandum dan jagung. Sementara itu, indeks harga beras keseluruhan meningkat 1,9% karena harga minyak mentah dan turunannya meningkatkan biaya produksi dan pemasaran di negara-negara pengekspor beras.

Indeks harga daging FAO mencapai rekor tertinggi baru pada April, naik 1,2% dari Maret dan 6,4% secara tahunan, dipimpin oleh kenaikan harga daging sapi.

Sebaliknya, indeks harga susu turun 1,1% dari Maret. Sementara itu, indeks harga gula merosot 4,7%, tertekan oleh harapan pasokan global yang melimpah.

FAO juga menaikkan perkiraan produksi sereal global pada 2025 menjadi 3,04 miliar ton, naik 6% dari tahun sebelumnya. Sementara itu, merevisi perkiraan produksi gandum 2026 sedikit lebih rendah menjadi 817 juta ton.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.