Usai dari DPRD, Demo Tolak Utang Jember Berlanjut di Bapenda, Suasana Sempat Memanas
Haorrahman August 10, 2026 07:57 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Ketegangan antara massa pendemo menolak rencana pinjaman daerah dan sejumlah kepala desa di Jember berlanjut hingga Kantor Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jember, Senin (10/8/2026). Sebelumnya kericuhan sebelumnya terjadi di Gedung DPRD Jember saat massa pendemo dan rombongan kepala desa bertemu. Situasi memanas setelah seorang anggota LSM Laskar Jahanam, Achmad Busyairi, mengaku dicekik oleh seorang kepala desa.

Setelah situasi di Gedung DPRD Jember berhasil dilerai, massa pendemo bergerak ke dua lokasi. Sebagian menuju Polres Jember, sementara kelompok lainnya mendatangi Kantor Bapenda Jember di Jalan Jawa, Kecamatan Sumbersari.

Massa mengetahui sejumlah kepala desa yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) dan Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (PKDI) Jember juga mendatangi Bapenda.

Para kepala desa tersebut sebelumnya bertemu dengan DPRD Jember. Mereka kemudian menemui Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Jember yang juga Kepala Bapenda Jember, Achmad Imam Fauzi.

Dalam pertemuan itu, kepala desa menyampaikan aspirasi terkait kondisi anggaran pembangunan desa. Mereka meminta pemerintah tetap memperhatikan pembangunan desa di tengah keterbatasan anggaran.

Baca juga: Demo Tolak Utang Daerah Pemkab Jember Memanas, Pendemo dan Kepala Desa Bersitegang

Massa Blokade Pintu Bapenda

Kedatangan kepala desa di Bapenda membuat massa penolak utang kembali mendatangi lokasi. Mereka menuntut dipertemukan dengan kepala desa yang disebut terlibat dalam insiden dengan Achmad Busyairi.

Massa yang mayoritas berasal dari LSM Laskar Jahanam kemudian memenuhi bagian depan Kantor Bapenda dan memblokade akses masuk. Gerbang kantor juga ditutup massa.

Akibat aksi tersebut, aktivitas keluar-masuk di kompleks Bapenda Jember sempat terganggu selama sekitar 1,5 jam.

Massa terus meminta kepala desa yang mereka tuding mencekik Achmad Busyairi keluar dan menemui mereka.

"Ayo keluar, pertemukan dengan orang yang mencekik saudara kami tadi," ujar Dwi Agus Budianto dari LSM Laskar Jahanam.

Situasi kembali tegang ketika massa bersikukuh ingin bertemu dengan kepala desa tersebut.

Baca juga: Aksi Demo Tunggal Petani Tolak Rencana Utang Rp 786 Miliar Pemkab Jember

Ketua Apdesi Jember Kamiludin dan Ketua PKDI Jember Meseran kemudian menemui massa. Kamiludin meminta kedua pihak menahan diri dan menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

"Kami prihatin dengan kejadian tadi, kami tidak ingin ada aksi anarkhis. Kami ingin ini diselesaikan secara kekeluargaan, dengan kepala dingin," ujar Kamiludin.

Namun, ajakan tersebut belum mampu meredakan suasana. Massa menolak dan ketegangan kembali meningkat hingga nyaris terjadi bentrokan.

Personel Polres Jember kemudian tiba di Kantor Bapenda. Kehadiran polisi membantu membuka kembali akses keluar-masuk kantor.

Massa akhirnya meninggalkan lokasi meski tuntutan mereka untuk bertemu dengan kepala desa yang dimaksud belum mendapatkan penyelesaian seperti yang diharapkan.

Baca juga: Fraksi PDIP DPRD Jember Tolak Utang Rp 786 Miliar, Usulkan Realokasi Anggaran

Awal Kericuhan

Rangkaian ketegangan tersebut bermula dari aksi Forum Komunikasi Masyarakat Cinta Jember (FKMCJ) yang digelar di halaman DPRD Jember, Senin (10/8/2026).

Koordinator aksi, Jumantoro, memprotes rencana Pemerintah Kabupaten Jember mengambil pinjaman daerah senilai Rp 786 miliar pada  PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero).

Pada awalnya, aksi tersebut hanya dilakukan Jumantoro. Namun, massa kemudian bertambah setelah sejumlah anggota LSM, termasuk Penjara Jember dan Laskar Jahanam Jember, bergabung.

Puluhan orang akhirnya memadati sisi barat halaman DPRD Jember dan kemudian masuk ke gedung dewan.

Pada saat yang sama, ratusan kepala desa berada di Gedung DPRD Jember untuk mengikuti rapat dengar pendapat dengan anggota DPRD.

Salah satu kepala desa, Kepala Desa Sukosari Ahmad Romadlon, menyampaikan pandangannya mengenai rencana pinjaman daerah.

Menurut Ahmad, pinjaman daerah tidak menjadi persoalan selama dana tersebut digunakan untuk kepentingan pembangunan.

Pandangan itu disampaikannya melalui mikrofon dari halaman Gedung DPRD Jember. Saat itu situasi masih relatif kondusif.

Baca juga: DPRD Jember Pertanyakan Rencana Utang Daerah dan Defisit APBD Rp 1 Triliun, Sejumlah Fraksi Menolak

Ketegangan mulai terjadi ketika massa pendemo dan rombongan kepala desa bertemu di area lobi DPRD Jember. Adu mulut kemudian terjadi dan berlanjut dengan aksi saling dorong ketika rombongan kepala desa hendak menuju lantai dua gedung dewan.

Karena terdapat dua agenda berbeda, massa penolak pinjaman kemudian ditemui anggota DPRD di Ruang Badan Musyawarah. Sementara rombongan kepala desa mengikuti agenda di Ruang Paripurna lantai dua.

Ketegangan kembali pecah ketika kedua kelompok bersinggungan saat berpindah ruangan.

Dalam situasi tersebut, seorang anggota Laskar Jahanam mengaku dicekik oleh seorang kepala desa. Insiden itu kemudian memicu kemarahan massa lainnya.

Kedua kelompok akhirnya dilerai oleh Jumantoro, personel Satpol PP, anggota Polres Jember, serta sejumlah kepala desa.

Namun, persoalan tersebut belum sepenuhnya berakhir. Ketegangan kemudian berlanjut ketika massa penolak utang mendatangi Kantor Bapenda Jember.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.