Dosen Poliban dan ULM Gelar Pelatihan Pengolahan Maggot BSF, Begini Hasilnya
Kamardi Fatih August 10, 2026 08:46 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Upaya meningkatkan nilai tambah dan kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengelolaan maggot Black Soldier Fly (BSF) terus dikembangkan di Hulu Sungai Tengah (HST), Kalsel. 

Satu di antaranya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dalam skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai melalui hibah pengabdian kepada masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui BIMA. 

Kegiatan yang dilaksanakan di TPS 3R Datu Awang, Desa Samhurang, HST tersebut berupa Pelatihan Penggunaan Mesin Pengering Maggot BSF serta Workshop Branding dan Pemasaran Produk Maggot BSF. 

Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) TPS 3R Datu Awang dalam mengolah maggot menjadi produk yang lebih berkualitas, memiliki daya simpan lebih baik, serta memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. 

Pelatihan penggunaan mesin pengering menjadi satu di antara kegiatan utama dalam program tersebut. Peserta diberikan pemahaman dan praktik mengenai pengoperasian mesin pengering maggot BSF, mulai dari persiapan bahan, proses pengeringan, pengaturan mesin, hingga penanganan produk setelah proses pengeringan. 

Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu kelompok menghasilkan produk maggot kering dengan kualitas yang lebih seragam dan dapat dipasarkan dalam bentuk produk yang lebih praktis.

Ketua Tim Pelaksana kegiatan, Katiko Imamul Muttaqin ST MEng mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi untuk menghadirkan teknologi yang dapat diterapkan secara langsung dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami ingin memastikan bahwa teknologi yang diberikan tidak berhenti pada penyerahan alat, tetapi benar-benar dapat digunakan dan dimanfaatkan masyarakat. Melalui pelatihan ini, anggota KPP diharapkan mampu mengoperasikan mesin pengering secara mandiri serta memahami bagaimana menghasilkan produk maggot yang memiliki kualitas dan nilai jual lebih baik,” ujar Katiko.

Menurutnya, pengembangan maggot BSF memiliki potensi yang cukup besar karena selain dapat membantu mengurangi limbah organik, maggot juga dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi, khususnya sebagai bahan pakan alternatif untuk sektor peternakan.
Selain aspek teknologi pengolahan, kegiatan memberikan perhatian terhadap branding dan strategi pemasaran. Melalui workshop tersebut, anggota KPP mendapatkan wawasan mengenai pentingnya identitas produk, kemasan, pelabelan, strategi promosi, serta pemanfaatan media digital untuk memperluas jangkauan pemasaran produk maggot BSF.

Ketua KPP TPS 3R Datu Awang, Saipi Rahman, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan yang diberikan memberikan pengetahuan baru bagi anggota kelompok, terutama dalam meningkatkan kualitas produk dan mengembangkan potensi usaha dari maggot yang selama ini dibudidayakan.

“Kami sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini. Sebelumnya kami lebih banyak berfokus pada budidaya maggot, sedangkan sekarang kami mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana mengeringkan maggot dengan mesin, membuat produk menjadi lebih menarik, serta memasarkannya. Kami berharap keterampilan ini dapat terus kami kembangkan sehingga maggot yang dihasilkan bisa memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok dan masyarakat,” ujar Saipi.

Ia menegaskan, keberadaan teknologi pengering diharapkan dapat membantu kelompok dalam meningkatkan kualitas dan daya simpan produk. Dengan demikian, produk maggot tidak hanya dapat dimanfaatkan dalam kondisi segar, tetapi juga dapat diolah menjadi maggot kering yang lebih mudah disimpan dan dipasarkan.    

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dosen lintas perguruan tinggi, yaitu Katiko Imamul Muttaqin ST MEng dan Annisa Maulidia Damayanti SST MTrT dari Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) serta Ir Azhar Syafiq Imanullah SPt MSc IPM dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Kolaborasi lintas perguruan tinggi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung kepada masyarakat. Program tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga diarahkan untuk membangun kapasitas kelompok dalam mengembangkan produk yang berkelanjutan dan memiliki peluang pasar.

Melalui kegiatan PkM ini, TPS 3R Datu Awang diharapkan dapat semakin berkembang sebagai pusat pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus menjadi wadah pengembangan usaha produktif melalui budidaya dan pengolahan maggot BSF.

Program tersebut juga sejalan dengan semangat pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi tepat guna dan pengembangan ekonomi lokal. 

Dengan peningkatan kemampuan pengolahan, branding, dan pemasaran, produk maggot BSF diharapkan tidak hanya menjadi solusi dalam pemanfaatan limbah organik, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah dan peluang peningkatan pendapatan bagi masyarakat Desa Samhurang dan sekitarnya. (Banjarmasinpost.co.id/Kamardi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.