TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Babak baru pendidikan di Kota Tarakan Kalimantan Utara resmi dimulai. Calon siswa Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) Tarakan mulai mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (10/8/2026).
SNT 11 Tarakan, menjadi salah satu dari 17 Sekolah Nasional Terintegrasi yang mulai dibuka secara serentak di Indonesia. Momen tersebut juga menjadi penanda dimulainya pelaksanaan program sekolah nasional yang digagas pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Wali Kota Tarakan, Khairul mengatakan kehadiran SNT merupakan bagian dari program pemerintah pusat yang diharapkan dapat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak Tarakan.
"Jadi Sekolah Nasional Terintegrasi ini kan program dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, ya," ujar Khairul.
Baca juga: Pemkot Tarakan Matangkan Lokasi Transit Siswa SNT, Kemendikdasmen Lakukan Verifikasi dan Validasi
Ia mengungkapkan, perjalanan SNT Tarakan bermula ketika Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah berkunjung ke Tarakan pada tahun sebelumnya. Dalam kunjungan tersebut, Khairul ditanya mengenai kesiapan Pemerintah Kota Tarakan apabila SNT dibangun di daerah ini.
"Memang riwayatnya tahun lalu saya waktu Pak Wamen sempat datang ke sini, saya ditanya, 'Pak Wali kira-kira kalau kita bangun di sini Sekolah Nasional Terintegrasi kira-kira siap enggak? Syarat-syaratnya apa? Lahan ya,'" ungkapnya saat menyampaikan informasi kepada media siang tadi.
Pertanyaan mengenai lahan menjadi salah satu pekerjaan awal yang harus diselesaikan Pemkot Tarakan. Pasalnya, pemerintah pusat mensyaratkan ketersediaan lahan sekitar 20 hektare untuk pembangunan SNT.
"Lahan 20 hektare itu saya cari dulu ya. Karena memang sih kita punya lahan, tapi kan harus lihat dulu yang mana yang feasible untuk itu dari segi apa, administrasinya sudah enggak ada masalah dan lain-lain gitu," katanya.
Proses tersebut kemudian berjalan hingga akhirnya tim dari pemerintah pusat turun langsung melakukan peninjauan ke Tarakan.
Menurut Khairul, komunikasi antara Pemkot Tarakan dengan pemerintah pusat semakin intensif dalam satu hingga dua bulan terakhir sebelum SNT akhirnya ditetapkan dibangun di Tarakan.
"Ternyata itu terus berproses sampai kemarin, mungkin baru dua bulan terakhir kami agak intens komunikasi sampai tim turun meninjau Tarakan ini, tim turun meninjau dan setelah itu ditetapkanlah," jelasnya.
Proses persiapan SNT Tarakan juga tetap berjalan ketika Khairul menunaikan ibadah haji. Dalam masa tersebut, koordinasi dan sejumlah pertemuan dengan pemerintah pusat di Jakarta ditangani Wakil Wali Kota Tarakan.
"Pada saat saya kemarin berangkat naik haji,di-handle oleh Pak Wakil untuk pertemuan-pertemuan di Jakarta pada saat itu," tuturnya.
Tidak berhenti di sana, Pemkot Tarakan juga harus memastikan kepastian kerja sama dan penandatanganan sebelum proses penerimaan siswa baru dilaksanakan. Khairul mengatakan, pihaknya sempat dipanggil ke Jakarta untuk memastikan proses tersebut.
Baca juga: Besok Pendaftaran Sekolah Nasional Terintegrasi Tarakan Ditutup, Pendaftar tak Langsung Diterima
Namun karena terdapat sejumlah agenda pemerintahan di Tarakan, dirinya mendelegasikan kehadiran tersebut kepada Plt Sekda Tarakan kala itu, Alias.
"Kemarin terakhir juga sebelum penerimaan siswa baru, kita juga sempat dipanggil ke Jakarta untuk kepastian penandatanganan, cuma kebetulan karena banyak kegiatan di sini saya wakilkan, delegasikan ke Plt Sekda waktu itu Pak Alias, ya," ujarnya.
Persoalan lain muncul ketika proses penerimaan siswa mulai dibuka.Waktu pendaftaran yang tersedia relatif singkat, sementara persyaratan calon siswa cukup ketat. Khairul menyebut pendaftaran hanya dibuka dalam waktu beberapa hari dan kemudian diperpanjang.
"Penerimaan siswanya juga agak mepet kemarin itu, hanya berapa hari, 3 atau 4 hari begitu. Ditarget harus selesai di Juli kemarin sampai tanggal berapa, terus diperpanjang ke 30 Juli, tambah 3 hari lagi kalau enggak salah," katanya.
Salah satu persyaratan yang membuat proses penerimaan cukup ketat adalah ketentuan nilai akademik calon siswa. Khairul menyebut calon siswa harus memiliki nilai rata-rata minimal 80 dalam lima semester.
"Karena memang persyaratan siswa yang mau diterima kan agak sedikit anu ya, agak sedikit ketat menurut saya, karena dia harus 5 semester ini dia minimal nilainya rata-rata 80," jelasnya.
Persyaratan tersebut membuat proses penjaringan siswa sempat menghadapi tantangan.
"Karena memang persyaratan siswa yang mau diterima kan agak sedikit anu ya, agak sedikit ketat menurut saya," katanya.
Meski demikian, hingga pendaftaran ditutup, kuota yang disiapkan akhirnya terpenuhi.
"Itulah yang kita agak sulit kemarin. Tapi alhamdulillah di detik-detik terakhir memang pendaftarannya terbatas memang, jadi bisa memenuhi 40-40, maksudnya 40 SMP dan 40 SMA itu," ungkap Khairul.
Dengan demikian, total siswa yang diterima pada tahap awal SNT Tarakan mencapai 80 siswa, terdiri dari 40 siswa jenjang SMP dan 40 siswa jenjang SMA.
Setelah melalui rangkaian persiapan tersebut, SNT Tarakan kini mulai menjalankan kegiatan pendidikan. Senin (10/8/2026), kegiatan MPLS mulai dilaksanakan. Khairul turut membuka kegiatan tersebut setelah memimpin apel pada pagi hari.
Di tingkat nasional, pembukaan SNT juga dilakukan secara serentak. Khairul mengatakan pembukaan tersebut dipusatkan di Bogor dan dipimpin langsung Menteri Pendidikan.
"Sekarang ini sedang secara nasional dibuka 17 serempak secara nasional dicanangkan di Bogor. Pak Menteri Pendidikan sendiri yang memimpin apel, nah kalau di sini saya memimpin apel tadi pagi," jelasnya.
SNT Tarakan pun menjadi bagian dari 17 sekolah yang pertama kali dibuka secara nasional. Untuk Kalimantan ada dua yakni pertama di Tarakan, kedua ada di IKN.
Kehadiran SNT di Tarakan diharapkan dapat membantu pemerintah daerah mengurai persoalan daya tampung sekolah, khususnya pada jenjang pendidikan menengah.
Khairul mengatakan semakin banyak fasilitas pendidikan yang tersedia, semakin besar pula peluang anak-anak Tarakan mendapatkan tempat untuk melanjutkan pendidikan.
"Harapan saya, harapan kita semua tentu bahwa semakin banyak fasilitas yang disiapkan, tentu anak-anak kita akan lebih gampang masuk, lebih banyak tempat mereka bisa diterima sekolah," ujarnya.
Ia menyebut jumlah lulusan yang setiap tahun masuk ke jenjang pendidikan berikutnya cukup besar.
"Karena kita tahu di sini setiap tahun juga apa, angkatan untuk masuk sekolah itu kan cukup banyak ya, cukup banyak sekali ya. Apalagi SMA misalnya, itu kan cukup banyak," katanya.
Dengan hadirnya SNT, ditambah program Sekolah Rakyat, Khairul berharap persoalan daya tampung pendidikan di Tarakan secara perlahan dapat terurai.
"Sehingga alhamdulillah mudah-mudahan nanti tahun-tahun ke depan sudah agak mulai terurai karena adanya Sekolah Rakyat yang bisa menerima juga tingkat SMA," jelasnya.
Menurutnya, Sekolah Rakyat tahun ini juga sudah menerima siswa pada beberapa jenjang pendidikan.
"Tahun ini kan sudah menerima juga SD, SMP, SMA kalau Sekolah Rakyat," katanya.
Khairul menjelaskan SNT pada konsep awalnya dirancang untuk mencakup jenjang pendidikan yang lebih luas. Mulai dari TK atau PAUD hingga SMA. Namun, pelaksanaan tahap awal tahun ini baru dimulai untuk jenjang SMP dan SMA.
"Ini tahun ini sudah menerima SMP, SMA. Sebenarnya Sekolah Nasional Terintegrasi ini kalau di konsep awalnya itu mulai dari TK/PAUD sampai dengan SMA konsepnya. Cuma tahun ini kayaknya dimulai dari SMP, SMA dulu," tukasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah