TRIBUNGORONTALO.COM – Tujuh tahun berdiri, Pasar Rakyat Modern Butu di Desa Butu, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, masih belum menunjukkan aktivitas perdagangan sebagaimana yang diharapkan.
Kondisi pasar—yang sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat—kini mendapat perhatian langsung dari DPRD Bone Bolango.
Ketua DPRD Bone Bolango, Faisal Yunus, mengaku pihaknya baru mengetahui informasi mengenai kondisi Pasar Rakyat Modern Butu yang disebut-sebut telah lama tidak difungsikan tersebut.
“Ya informasi ini baru kita dengar juga,” kata Faisal saat diwawancarai Tribun Gorontalo, Senin (10/8/2026).
Politisi Partai Nasdem itu menyatakan bahwa DPRD akan menindaklanjuti informasi tersebut dengan merencanakan kunjungan langsung ke lokasi.
“Nanti kita akan agendakan mungkin kunjungan atau lebih baik kunjungan ya,” ujarnya.
Menurutnya, kunjungan tersebut sangat penting untuk melihat secara langsung kondisi pasar yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Nanti kita akan kunjungi pasar modern itu yang katanya sudah terbengkalai karena tidak difungsikan,” katanya.
Faisal memastikan jajaran DPRD akan turun bersama untuk mengecek kondisi pasar.
“Insya Allah nanti kita teman-teman DPRD mengunjungi tempat itu, pasar modern,” ujarnya.
Baca juga: Sempat Dipertanyakan, Begini Kejelasan Janji 1.000 Sapi dari Bupati Bone Bolango Gorontalo
Fasilitas Lengkap Namun Sepi
Pasar Rakyat Modern Butu dibangun dengan anggaran sekitar Rp5,5 miliar dan resmi diresmikan pada tahun 2019. Sejak awal, pembangunan pasar ini dirancang untuk menjadi pusat perdagangan masyarakat di kawasan Tilongkabila dan sekitarnya.
Fasilitas yang tersedia sebenarnya cukup lengkap. Pasar ini memiliki 14 kios dan 196 meja lapak yang sudah dilengkapi keran air. Selain tempat berjualan, terdapat pula mushala beserta tempat wudu, rumah potong hewan, ruang menyusui, hingga toilet terpisah untuk laki-laki dan perempuan.
Pasar ini bahkan sempat digambarkan berkonsep modern dan diharapkan mampu menjadi semacam “Thamrin City” ala Bone Bolango. Harapan besarnya, keberadaan pasar tidak hanya menyediakan tempat berjualan, melainkan juga mampu mempertemukan pedagang dan pembeli sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.
Namun sayang, perjalanan pasar tidak berjalan sesuai rencana.
Dampak Pandemi hingga Rencana Wacana Pengelolaan
Aktivitas perdagangan sempat berjalan sewaktu pasar awal dibuka. Para pedagang mulai mengisi lapak dan masyarakat berdatangan untuk berbelanja. Sayangnya, dinamika tersebut tidak berlangsung lama.
Saat pandemi Covid-19 mulai melumpuhkan aktivitas masyarakat pada tahun 2020, kegiatan perdagangan di Pasar Rakyat Modern Butu ikut terhenti total. Setelah pandemi berlalu pun, pasar ini belum sepenuhnya bangkit menjadi pusat ekonomi.
Tribun Gorontalo telah beberapa kali memantau kondisi pasar tersebut. Pada Oktober 2024, kondisi pasar sempat menyita perhatian karena aktivitas di dalamnya masih sangat terbatas.
Kala itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bone Bolango sempat menyiapkan wacana baru untuk menghidupkan kembali fungsi pasar. Pemkab Bone Bolango berencana menggandeng Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam pengelolaannya.
Rencana tersebut disampaikan oleh mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bone Bolango, Mesalina Vivi Saputra, pada Oktober 2024. Menurut Mesalina, pemerintah daerah dan pihak UNG telah menggelar pertemuan untuk membahas pola pengelolaan pasar. Pasar tersebut bahkan digadang-gadang dapat menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa sekaligus pusat kegiatan ekonomi masyarakat.
Namun hingga Agustus 2026, rencana kerja sama tersebut belum menunjukkan hasil nyata di lapangan.
Kondisi Terkini
Pantauan terbaru Tribun Gorontalo pada Sabtu (8/8/2026) menunjukkan suasana dari bagian depan pasar yang masih sangat jauh dari gambaran pusat perdagangan yang ramai.
Fisik Bangunan: Sebagian besar pintu kios tampak tertutup rapat dan lapak yang tersedia belum dipenuhi pedagang. Kerumunan pembeli pun tidak terlihat.
Lingkungan: Akses jalan menuju kawasan pasar mulai ditumbuhi rumput liar di beberapa titik. Di area atap dekat pintu masuk terdapat bagian yang berlubang, sementara cat dinding di sejumlah sisi sudah kusam dan mengelupas.
Meski begitu, pasar ini tidak sepenuhnya mati. Masih ada beberapa pedagang yang bertahan dan tetap membuka usahanya. Namun, jumlah mereka belum cukup untuk membuat kawasan pasar kembali bernyawa seperti pusat perdagangan pada umumnya.
Kondisi ini menjadi potret terkini setelah berbagai upaya yang sempat dijanjikan pemerintah daerah belum membuahkan hasil. Kini, harapan kembali tertuju pada DPRD Bone Bolango. Rencana kunjungan lapangan para legislator diharapkan menjadi titik terang untuk mengurai persoalan mendasar yang membuat pasar beranggaran miliaran rupiah ini belum berfungsi sebagaimana mestinya. (*/Jefri)