TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Komisi II DPRD Klaten meninjau langsung Pasar Sidoharjo di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Senin (10/8/2026).
Hasil peninjauan digunakan sebagai penentuan keputusan dalam sidang paripurna DPRD Klaten, terkait kebijakan umum anggaran prioritas dan plafon anggaran sementara (KUA PPAS) anggaran pendapatan dan belanja Daerah kabupaten Klaten tahun 2026.
Ketua Komisi II DPRD Klaten, Agus Riyanto memaparkan, dua poin terkait Pasar Sidoharjo Kecamatan Bayat yang mengalami kebakaran.
"Yang pertama, adalah tentang pasar darurat dan rehabilitasi atau pembangunan kembali Pasar Sidoharjo ini," ujarnya.
Dimana pemerintah mengusulkan anggaran sebesar Rp 400 juta digelontorkan untuk pasar darurat, dan Rp 400 juta untuk renovasi pasar.
Sedangkan poin kedua, ialah usulan tambahan anggaran progam subsidi bunga ringan (Subur) Bank Klaten (Perseroda) sebesar Rp 162 juta.
"Sehingga kami ke sini, itu untuk uang itu dialokasikan untuk mana-mana kami kan harus tahu secara lengkap. Itu kira-kira," jelasnya.
Rapat paripurna DPRD Klaten sendiri, rencananya akan berlangsung pada Kamis (13/8/2026).
Rapat akan membahas MoU kebijakan umum anggaran prioritas dan plafon anggaran sementara (KUA PPAS) anggaran pendapatan dan belanja Daerah kabupaten Klaten tahun 2026.
Usai dilakukan rapat paripurna, nantinya akan segera diterbitkan persetujuan.
"Maksimal akhir September sudah bisa direalisasikan. Baik untuk pembangunan pasar darurat, dimulai renovasi tahap pertama pasar ini sama penyaluran (pinjaman kredit) ke Bank Klaten. Bisa langsung direalisasikan di akhir Oktober 2026," kata Agus.
Baca juga: DPRD Klaten Desak Penanganan Cepat bagi Pedagang Terdampak Kebakaran Pasar Sidoharjo Bayat
Dalam peninjauan, Agus bersama Wakil Ketua Yudi B. Prabawa, Sekretaris Darmadi, serta 5 anggota DPRD yang lain dalam tugas kunjungan lapangan.
Mereka didampingi Kepala Dinas Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (DKUKMP) Kabupaten Klaten, Anang Widjatmoko dan jajaran, serta Direktur Utama (Dirut) Bank Klaten (Perseroda), Dewi Ekosari.
Sementara itu, pedagang pasar meminta bangunan pasar sebagian yang rusak dibagun segera agar aktivitas pedagang kembali normal.
"Mudah-mudahan kalau pasar sudah dibangun, itu nanti jadi rame lagi. Nggak nyenyet koyok (seperti) kuburan," ujar salah satu pedagang, Tuti.
Total jumlah pedagang sendiri tercatat ada 101 pedagang versi pemerintah, dan yang terdampak langsung kebakaran pasar sejumlah 41 pedagang versi pedagang.
Kebakaran pasar sendiri terjadi pada 27 Juli, sore hari ketika aktivitas pasar sepi.
Diduga, penyebab kebakaran akibat kelistrikan dari kabel yang tidak sesuai atau sudah tidak layak usia pakainya. (*)