Rabu Wekasan 2026 Jatuh pada 12 Agustus, Simak Pandangan Islam Soal Mitos Sial Bulan Safar
Pipit Maulidya August 11, 2026 01:32 AM

 

SURYA.CO.ID - Umat Islam akan segera memasuki penghujung bulan Safar dalam kalender Hijriah 1448 H.

Salah satu momen yang sering menjadi sorotan masyarakat adalah Rabu terakhir di bulan tersebut, atau yang dikenal dengan istilah Rabu Wekasan.

Menurut Kalender Hijriyah, Rabu terakhir bulan Safar jatuh pada tanggal 12 Agustus 2026, yang bertepatan dengan 28 Safar 1448 H.

Menjelang tanggal tersebut, muncul kembali diskusi mengenai keyakinan turunnya bala atau kesialan di bulan Safar. Lantas, bagaimana tinjauan Islam mengenai hal ini?

Menepis Mitos Kesialan Bulan Safar

Kepercayaan bahwa Safar adalah bulan yang penuh nasib buruk sebenarnya sudah ada sejak zaman Jahiliyah.

Namun, Rasulullah SAW hadir membawa ajaran yang meluruskan pemahaman keliru tersebut.

Beliau menegaskan bahwa waktu, termasuk bulan Safar, tidak memiliki kekuatan untuk membawa keburukan atau keberuntungan dengan sendirinya.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya), tidak ada pertanda buruk, tidak ada burung (pembawa sial), juga tidak ada sial pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judam (kusta), sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (HR. Bukhari).

Melalui hadis ini, Nabi SAW secara eksplisit menghapus stigma negatif terhadap bulan Safar dan menegaskan bahwa fenomena alam atau penanggalan tidak berkaitan dengan nasib buruk seseorang.

Segala Sesuatu Atas Ketetapan Allah SWT

Pandangan bahwa bulan tertentu membawa sial bertentangan dengan prinsip dasar tauhid dalam Islam.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan bahwa setiap kejadian, baik nikmat maupun musibah, merupakan bagian dari ketetapan-Nya di Lauh Mahfuz.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hadid ayat 22:

“Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22).

Ayat ini memperkuat argumen bahwa tidak ada dasar kuat untuk meyakini Safar sebagai bulan sial. Kejadian di alam semesta berlangsung sepenuhnya atas kehendak Allah, bukan karena posisi waktu atau bulan tertentu.

Pendapat Ulama: Kesialan Bergantung pada Amal, Bukan Waktu

Dilansir dari laman NU, sejalan dengan dalil Al-Qur'an dan Hadis, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam karya-karyanya menjelaskan bahwa mengkhususkan kesialan pada waktu-waktu tertentu adalah sebuah kekeliruan.

Beliau menekankan bahwa setiap bulan adalah ciptaan Allah, dan tidak ada bulan yang secara substansi membawa petaka.

Bagi umat Muslim, hal terpenting dalam menghadapi pergantian waktu adalah meningkatkan amal ibadah dan memperkuat tawakal kepada Allah SWT.

Alih-alih merasa takut akan datangnya "hari sial" pada Rabu Wekasan 12 Agustus 2026 nanti, umat Islam diajak untuk memperbanyak doa dan memohon perlindungan kepada Sang Pencipta.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.