SURYA.CO.ID, SURABAYA - Universitas Airlangga terus memantapkan posisinya di panggung akademik internasional dengan merangkul pakar kanker ginekologi ternama kelas dunia asal Taiwan demi menghadirkan inovasi medis yang terjangkau bagi masyarakat Indonesia.
Pengukuhan akademisi berprestasi global ini menjadi langkah strategis universitas dalam mengakselerasi kualitas riset, pendidikan, serta layanan kesehatan bagi perempuan.
Melalui kemitraan global ini, kampus ternama di Surabaya itu optimistis dapat melahirkan terobosan bedah modern berbiaya efisien.
Upaya ini sekaligus membuktikan komitmen nyata perguruan tinggi dalam menjawab tantangan pengobatan kanker yang kian mahal di tanah air.
Baca juga: FK Unair Datangkan Dua Pakar Belanda, Peneliti Muda Berpeluang Tembus Jurnal Dunia
Universitas Airlangga (Unair) terus memperkuat kolaborasi internasional sekaligus mendorong riset lintas disiplin sebagai bagian dari pengembangan akademik.
Salah satunya dengan mengukuhkan Professor Peng-Hui (Peter) Wang, MD, PhD, sebagai Adjunct Professor Universitas Airlangga di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Senin (10/8/2026).
Pengangkatan ini menjadi bagian dari komitmen Universitas Airlangga sebagai World Class University yang menjunjung tinggi nilai Excellent with Morality, sekaligus memperluas kolaborasi global dalam pendidikan, penelitian, dan inovasi di bidang onkologi ginekologi.
“Universitas Airlangga peringkat 276 dunia berdasarkan QS World University Rankings serta peringkat tiga nasional membawa tanggung jawab untuk terus melakukan program internasionalisasi. Harapan kami dengan kolaborasi ini, maka bisa menguatkan langkah untuk kami maju dan meningkatkan kualitas kami di dunia internasional,” ujar Prof. Dr. Eighty Mardiyan K.,Sp.OG., Subsp. Urogin-RE selaku Dekan FK UNAIR, Senin (10/8/2026).
Kehadiran akademisi sekaligus ahli bedah dari Taiwan itu diharapkan membuka lebih banyak peluang kolaborasi internasional, mulai dari bidang pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Professor Wang merupakan salah satu clinician-scientist terkemuka di Asia dalam bidang onkologi ginekologi (tumor dan kanker kandungan).
Dr. dr Brahmana Askandar Tjokroprawiro, Sp.OG, Subsp.Onk, Ketua Departemen Obstetri dan Ginekologi FK UNAIR menilai Prof Peter Wang dipilih bukan hanya karena memiliki pengalaman sebagai ahli bedah, tetapi juga karena rekam jejak akademiknya.
Prof Wang menjabat sebagai profesor di Taipei Veterans General Hospital sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran National Yang Ming Chiao Tung University, Taiwan, serta dikenal atas kontribusinya dalam pengembangan onkologi ginekologi, minimally invasive surgery, penelitian translasional, dan berbagai uji klinis internasional.
Selain menjabat sebagai Immediate Past President Taiwan Association of Gynecologic Oncologists, Prof Wang juga dikenalkan sebagai board member Asian Society of Gynecologic Oncology (ASGO) dan East Asian Gynecologic Oncology Trial Group (EAGOT).
“Beliau ahli bedah handal, dosen handal, akademisi luar biasa. Dengan lebih dari 900 publikasi ilmiah internasional, dengan H-index 62, sangat tinggi, menggambarkan intelektualitas akademik yang luar biasa. Diharapkan bisa membawa kita maju di kancah global,” ungkap Dr. dr Brahmana.
Baca juga: Unair Perluas Riset Internasional melalui Jaringan OIC untuk Isu Global
Prof. Wang disebut telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu dan pelayanan kanker ginekologi di tingkat global.
Selain sebagai akademisi dan dosen, Prof Peter Wang juga memiliki keahlian khusus di bidang onkologi ginekologi.
Bidang itu mencakup penanganan berbagai tumor dan kanker pada organ reproduksi perempuan, seperti kanker serviks, kanker rahim, dan kanker ovarium.
Menurut dr. Brahmana, kanker ginekologi masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius di Indonesia.
Berdasarkan data yang disebutnya dari WHO yang dirilis 2026 berdasarkan data 2024, kanker serviks dan kanker ovarium termasuk dalam kelompok kanker yang banyak ditemukan pada perempuan di Indonesia.
“Artinya masih menjadi masalah utama dari semua kanker di perempuan di Indonesia,” ujarnya.
Di sisi lain, Surabaya dinilai telah memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat layanan kesehatan dan pendidikan kedokteran, khususnya bagi wilayah Indonesia Timur.
“Dokter-dokter dari FK Unair aktif dalam pengembangan ilmu kedokteran, baik di tingkat nasional maupun kancah global,” ucapnya.
Baca juga: FK UNAIR Perkuat Jejaring Global, Gandeng Adelaide University Bahas Sistem Kebidanan
Sementara itu, Prof Peter Wang mengatakan salah satu kontribusi yang ingin diberikan sebagai Adjunct Professor FK Unair adalah mendorong pola pikir baru dalam pengembangan inovasi bedah.
Menurutnya, perkembangan teknologi kedokteran memang memberikan peluang besar dalam meningkatkan pelayanan dan keselamatan pasien. Namun, teknologi dengan tingkat kecanggihan tinggi juga sering membutuhkan biaya yang besar.
Karena itu, ia menilai inovasi tidak selalu harus diwujudkan dengan menggunakan teknologi paling mahal.
“Yang paling penting adalah proses berpikir yang baru. Ketika sumber daya kita terbatas, bagaimana kita mengubah teknologi yang sukses tetapi berbiaya tinggi menjadi sesuatu yang dapat digunakan untuk pasien kita,” ujar Prof Peter Wang.
Dalam bidang bedah, salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah sistem operasi robotik. Teknologi itu memiliki keunggulan, tetapi biaya penggunaannya masih relatif tinggi.
Karena itu, Prof Peter Wang melihat peluang untuk mengembangkan atau memodifikasi teknologi agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sumber daya di Indonesia.
Menurut Prof Peter Wang, pendekatan itu menjadi salah satu kontribusi yang ingin ia bawa selama menjadi bagian dari FK Unair.
Ia berharap kolaborasi dengan FK Unair tidak hanya menghasilkan transfer pengetahuan, tetapi juga melahirkan inovasi yang dapat menjawab kebutuhan nyata pasien di Indonesia.
“Saya berusaha membantu Universitas Airlangga membuat inovasi-inovasi, karena pengobatan khususnya kanker semakin mahal. Bagaimana membuat inovasi untuk negara low-middle income sehingga bagaimana inovasi itu menjembatani negara itu bisa mendapat manfaat,” sebutnya.
Melalui kolaborasi ini, Universitas Airlangga berharap dapat memperkuat posisinya sebagai pusat unggulan pendidikan dan penelitian di kawasan Asia serta menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan perempuan.
“Pengangkatan Professor Wang sebagai Adjunct Professor bukan hanya bentuk penghargaan akademik tapi juga merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuatpendidikan, penelitian, dan inovasi pelayanan kesehatanperempuan khususnya di bidang kanker ginekologi. Kami berharap kemitraan ini melahirkan kolaborasi ilmiah yang berdampak bagi Indonesia maupun komunitas global," tutur Prof. Dr. Eighty.