TRIBUNNEWS.COM – Gempa bumi berkekuatan besar dengan magnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin pagi waktu setempat (10/8/2026).
Sekitar enam jam setelah gempa terjadi, Presiden Kolombia mengonfirmasi bahwa sebanyak 111 orang telah dipastikan meninggal dunia di berbagai wilayah negara tersebut.
Tim penyelamat langsung dikerahkan untuk membebaskan warga yang terjebak setelah sejumlah bangunan runtuh di Kota Cali dan kota-kota lainnya.
Pusat gempa tercatat berada di ujung timur Provinsi Choco di sepanjang pesisir Pasifik Kolombia, yang menurut Layanan Geologi Kolombia merupakan gempa terkuat dalam satu dekade terakhir di negara tersebut.
Presiden Kolombia yang baru dilantik, Abelardo de la Espriella, menyatakan bahwa dirinya telah mengambil alih secara langsung komando penanganan darurat dari pihak pemerintah.
Ia menegaskan bahwa prioritas utama tim penyelamat saat ini adalah mencari warga yang masih berpotensi terjebak di bawah reruntuhan, sekaligus mendeklarasikan status darurat nasional.
"Per pukul 12.30 (waktu setempat), korban tewas mencapai 111 orang dan 87 orang luka-luka, dengan 1.575 rumah rusak, 37 hancur total, 61 bangunan ambruk, serta 18 pusat kesehatan dan 52 sekolah mengalami kerusakan," ujar de la Espriella saat menyampaikan pidato dari Bogota.
Sebelumnya dalam keterangan di platform media sosial X, De la Espriella menyampaikan bahwa ia telah mengambil alih secara langsung penanganan darurat di wilayah San José del Palmar.
“Saya juga akan berada langsung di Pereira untuk berdiri bersama para korban terdampak dan memantau respons pemerintah.” terang De La Espriella.
Presiden kemudian mengonfirmasi perjalanannya ke Bogota untuk memimpin upaya penyelamatan dari kantor pusat Unidad Nacional para la Gestión del Riesgo de Desastres (UNGRD) yang setara dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Indonesia .
"Saya telah mendirikan Posko Komando Gabungan di UNGRD, dari mana saya secara pribadi akan memimpin upaya untuk membantu komunitas di Chocó, Wilayah Kopi, dan seluruh area yang terdampak," tegas Presiden de la Espriella.
Baca juga: Update Gempa M 7,4 di Kolombia: 69 Orang Tewas, Puluhan Bangunan Runtuh
Dampak kehancuran akibat gempa terlihat jelas di berbagai wilayah.
Di kota Cali, Pereira, and Manizales, warga mulai melaporkan bangunan-bangunan yang ambruk.
Di Manizales, sebuah menara katedral serta belasan bangunan lainnya mengalami kerusakan parah atau runtuh total, menurut keterangan Wali Kota Jorge Eduardo Rojas.
Gubernur Risaralda, Juan Diego Patiño, dalam laporan awal korban jiwa mengungkapkan bahwa setidaknya 40 orang tewas di ibu kota Pereira, sementara tiga korban lainnya meninggal di Manizales.
Di Cali, sejumlah orang dilaporkan terjebak di bawah reruntuhan bangunan, dengan setidaknya 27 orang tewas di Provinsi Valle del Cauca.
Bagian atap bandara Pereira juga dilaporkan ambruk berdasarkan video yang dibagikan di media sosial.
Otoritas setempat memutuskan untuk menangguhkan penerbangan menuju Pereira, Manizales, Quibdo, Armenia, Cartago, dan Buenaventura guna memeriksa kondisi infrastruktur dari potensi kerusakan lanjutan.
Sementara itu, di Quibdo yang merupakan ibu kota Choco, sedikitnya empat orang dinyatakan tewas dan 69 lainnya mengalami luka-luka, sebagaimana disampaikan oleh Gubernur Nubia Carolina Cordoba dalam laporannya.
Guncangan gempa bumi ini juga dirasakan sangat kuat hingga ibu kota Bogota dan Medellin, meski tidak ada laporan adanya korban luka di kedua kota tersebut.
Bencana gempa dahsyat ini turut menarik perhatian para pemimpin dunia. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyatakan bahwa Uni Eropa siap memberikan dukungan lebih lanjut kepada Kolombia.
"Malam ini, hati Eropa bersama masyarakat Kolombia," tulis Ursula melalui akun media sosialnya.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyampaikan bahwa pihak AS memantau secara dekat situasi yang sedang terjadi dan siap mendukung rakyat Kolombia.
(Tribunnews.com/Bobby)