Kolaborasi dengan BNPB, Fly Bali Bantu Penanganan Karhutla di Pontianak
Putu Dewi Adi Damayanthi August 11, 2026 09:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA – Setelah 3 bulan membantu misi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pontianak, Kalimantan Barat, helikopter Bell 206L-4 nomor registrasi PK-FBI milik operator Fly Bali kembali ke Pulau Dewata pada Senin 10 Agustus 2026.

Mendarat sekira pukul 15.58 WITA di heliport Fly Bali, yang berlokasi di Jalan Pantai Melasti, Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Bali ini ditumpangi tiga kru termasuk penerbang helikopter Capt. Jabir Satria Prima.

Kedatangan kembali tim dari misi penanganan karhutla di Pontianak ini disambut dengan ucapan selamat datang dan pengalungan bunga baik kepada tiga kru maupun terhadap armada helikopter tersebut.

Dimana keterlibatan Fly Bali dalam misi penanganan bencana karhutla di Pontianak ini hasil kolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang meminta bantuan operator Fly Bali untuk mendukung patroli udara di wilayah Kalimantan Barat.

Baca juga: Rp600 M Bisa Dipakai BNPB, Kemenkeu Tidak Punya Anggaran Khusus untuk Bencana Sumatera dan Aceh 

Hasil patroli udara dari helikopter PK-FBI ini dijadikan acuan bagi BNPB untuk melakukan water bombing dalam penanganan karhutla.

Business Development Manager Fly Bali, Nita Tedja, mengatakan pihaknya mulai menjalankan misi tersebut sejak bulan April lalu dan berakhir hari ini yang ditandai dengan kembalinya tim ke Pulau Dewata.

Selain menjalankan misi patroli udara penanganan karhutla di Pontianak, pihaknya juga mengoperasikan satu helikopter lainnya untuk misi serupa di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Di mana operasi di wilayah tersebut hingga kini masih berlangsung menggunakan helikopter sejenis.

"Fly Bali, selain melakukan perjalanan pariwisata untuk tamu-tamu yang berada di Bali, juga sering mendukung program pemerintah yaitu program patroli untuk kebakaran hutan di beberapa area di Indonesia," ujar Nita Tedja, saat ditemui di Fly Bali Heliport.

Menurut Nita, keterlibatan Fly Bali dalam operasi kebencanaan tidak hanya dilakukan di Kalimantan. 

Dalam satu tahun terakhir, pihaknya juga turut membantu penanganan bencana banjir di Aceh. 

Dalam misi tersebut, Fly Bali mengirimkan helikopter untuk mendukung kegiatan penanganan bencana, termasuk membantu pergerakan bantuan logistik di wilayah Aceh dan sekitarnya.

Sementara itu, Capt. Jabir Satria Prima, menyampaikan ketika pertama kali tiba di wilayah tersebut sekitar akhir April atau awal Mei, jumlah titik api masih belum terlalu banyak.

Namun, kondisi berbeda terlihat menjelang berakhirnya misi di Pontianak. 

Jumlah titik api yang terpantau disebut sudah cukup banyak. 

"Bahkan di bandara pun jarak pandang hanya sekitar 1 km. Itu membuat kota Pontianak dan sekitarnya menjadi sesak dengan polusi asap," ungkap Capt. Jabir.

Selama misi tersebut berlangsung kurang lebih 3 bulan, helikopter PK-FBI mencatat total jam terbang mencapai 200 jam untuk melakukan patroli udara. 

Penerbangan dilakukan untuk memantau sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, mulai dari bagian utara, timur hingga selatan.

Cakupan patroli juga meliputi wilayah Singkawang hingga Ketapang. 

Pemantauan dari udara dilakukan sebagai bagian dari dukungan terhadap upaya penanganan kebakaran di wilayah tersebut.

Capt. Jabir lebih lanjut menyampaikan, kendala selama pelaksanaan patroli udara secara umum tidak terlalu signifikan. 

Namun, terdapat kondisi tertentu yang membuat kru harus melakukan koordinasi lebih lanjut dengan helikopter water bombing milik BNPB.

"Kecuali di titik-titik yang mana paling dekat dengan kota Pontianak itu kami harus bergantian untuk mencapai satu titik karena kami harus berkoordinasi dengan helikopter water bombing yang menyiram air," ungkapnya.

Untuk operasi misi penanganan bencana karhutla di Pontianak ini, Fly Bali menyiapkan total sekitar lima hingga enam orang kru. 

Namun, jumlah personel yang berada di dalam helikopter ketika menjalankan penerbangan disesuaikan dengan kebutuhan misi.

"Dalam operasi ini, kru yang terlibat dalam penanganan bencana total kru itu kami mencapai lima hingga enam orang. Tapi saat terbang kami hanya berdua. Satu observer untuk mengambil dokumentasi lalu satu lagi itu saya sendirian," jelas Capt. Jabir.

Ia menegaskan pihaknya mewakili operator helikopter Fly Bali akan terus mendukung berbagai misi penyelamatan dan kegiatan kebencanaan yang dilakukan bersama pemerintah. 

"Fly Bali pasti akan selalu tetap support misi penyelamatan dan kolaborasi dengan pemerintah, demi bangsa Indonesia ini karena kami semua di sini bersaudara satu bangsa, satu Indonesia ini," tegasnya yang mengaku bersyukur dapat menyelesaikan misi operasi dengan baik.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.