Kolaborasi Lima Kesenian Tradisional Jawa Timur akan Tampil di Istana Merdeka
Titis Jati Permata August 11, 2026 09:05 AM

 


SURYA.co.id, TULUNGAGUNG – Seratus penari Jawa Timur bersiap membawa wajah kesenian daerah ke panggung nasional.

Mereka menjalani kurasi akhir di GOR Lembupeteng, Jalan Soekarno-Hatta, Tulungagung, Senin (10/8/2026) malam, sebelum diberangkatkan ke Jakarta untuk tampil dalam rangkaian upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka.

Kurasi tersebut dilakukan langsung oleh tim kurator dari Kementerian Pariwisata RI.

Setelah proses kurasi rampung, para penari dijadwalkan berangkat dari GOR Lembupeteng menuju Jakarta pada Selasa (11/8/2026) pagi.

Tim tari di bawah arahan Harmoni Jawa Timur akan menyuguhkan kolaborasi lima kesenian tradisional dari sejumlah daerah di Jawa Timur.

Lima Tari Jadi Satu Pertunjukan

Lima kesenian yang akan dibawakan yakni Tari Remo yang berakar dari Jombang, Jaripah dari Banyuwangi, Topeng Malang dari Malang, Jaranan Sentherewe dari Tulungagung, serta Glipang dari Probolinggo.

Kolaborasi tersebut menjadi gambaran keberagaman seni tradisi Jawa Timur dalam satu penampilan.

Baca juga: Kesenian Tiban di Purwoharjo Banyuwangi, Lestarikan Budaya Turun Temurun

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari, mengatakan kepercayaan tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap kekayaan kesenian Jawa Timur.

Menurutnya, para seniman muda yang terlibat juga tidak muncul secara instan. Mereka telah melalui proses latihan dan pengembangan kemampuan dalam waktu panjang.

“Seniman-seniman mudanya juga sangat luar biasa. Mereka bukan instan, tetapi mengasah diri sejak lama,” ujar Evy.

Branjang Kawat Jadi Catatan Khusus

Dalam proses kurasi, Evy memberikan catatan khusus terhadap karakter Branjang Kawat dalam Tari Remo.

Menurutnya, karakter tersebut harus ditampilkan dengan ekspresi yang kuat dan sesuai dengan sosok yang dibawakan.

Evy menilai masih ada penari yang menampilkan ekspresi terlalu ramah ketika membawakan karakter tersebut.

“Saya hafal banget Branjang Kawat karena ini salah satu kesenian yang saya suka. Dia sombongnya minta ampun,” ucap Evy.

Catatan tersebut langsung ditindaklanjuti koreografer. Ekspresi para penari yang dinilai belum sesuai kemudian diperbaiki malam itu juga agar karakter Branjang Kawat tampil lebih kuat saat pertunjukan di Jakarta.

Penari Cilik Usia 9 Tahun Ikut Berangkat

Tim tari tersebut ditunjuk dari Sanggar Seni Lestari Widodo Wiryotomo Tulungagung.

Namun, dalam proses persiapannya, sanggar tersebut menggandeng koreografer dari sejumlah wilayah di Jawa Timur.

Komposisi penari juga tidak hanya berasal dari Tulungagung.

Selain didominasi penari asal Tulungagung, tim tersebut melibatkan penari dari Malang, Blitar, Kediri, dan Trenggalek.

Salah satu yang mendapat perhatian khusus adalah Damar Wisnu Dewangga. Penari berusia 9 tahun itu menjadi peserta termuda dari total 100 penari yang terpilih.

Evy mengaku sudah melihat kemampuan Wisnu sejak dua tahun lalu ketika tampil di Gedung Negara Grahadi Surabaya.

“Dua tahun lalu Wisnu tampil di Grahadi. Waktu itu masih kecil, tetapi sudah luar biasa. Sekarang tambah luar biasa,” katanya.

Bawa Nama Jawa Timur ke Istana

Selain tampil di Istana Merdeka, para penari juga akan memperoleh sertifikat dari Istana Negara dan Gubernur Jawa Timur. Mereka juga akan mendapatkan uang pembinaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Evy meminta dukungan dan doa masyarakat Jawa Timur agar seluruh anggota tim dalam kondisi sehat sehingga dapat memberikan penampilan terbaik.

Ia juga berpesan kepada para penari untuk menjaga nama baik Jawa Timur dan Tulungagung selama menjalankan tugas tersebut.

“Mohon doa restu masyarakat Jawa Timur agar anak-anak kita selalu sehat dan bisa tampil maksimal. Jaga nama baik Jawa Timur dan nama baik Tulungagung,” pesannya.

Tulungagung Dinilai Punya Potensi Besar

Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin mengaku bangga karena para seniman muda dari daerahnya dipercaya tampil dalam rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka.

Menurutnya, kesempatan tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan bagi para penari, tetapi juga peluang untuk memperkenalkan Tulungagung kepada masyarakat yang lebih luas.

“Karena nanti kesenian ini tidak hanya disiarkan secara nasional, tetapi juga internasional,” kata Ahmad.

Ia menilai kepercayaan tersebut sekaligus menunjukkan Tulungagung memiliki kekayaan seni budaya yang dapat menjadi salah satu kekuatan daerah.

Keberagaman kesenian tersebut, lanjutnya, dapat membantu meningkatkan citra Tulungagung sekaligus mendorong sektor pariwisata.

Pada akhirnya, perkembangan seni dan pariwisata diharapkan turut memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat.

“Terima kasih kepada para pelatih dan penari. Mereka sangat bersemangat. Pemkab Tulungagung sangat mendukung,” tandasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.