Iran mendadak merombak total struktur komando militernya di tengah situasi perang yang masih memanas.
Benarkah langkah besar ini menjadi sinyal Iran tengah menyiapkan serangan hebat kepada lawan-lawannya?
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, resmi merombak struktur komando militer negaranya lewat sebuah dekrit besar.
Perombakan ini dilakukan dengan menggabungkan dua lembaga pertahanan paling strategis di Iran.
Kedua lembaga itu adalah Staf Umum Angkatan Bersenjata dan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya.
Bersamaan dengan itu, Ali Abdollahi resmi ditunjuk sebagai Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran yang baru.
Abdollahi diberi tugas menuntaskan integrasi kedua lembaga sesuai rencana yang dirancang mendiang Ayatollah Ali Khamenei.
Ia juga dimandatkan meningkatkan kesiapan tempur seluruh angkatan bersenjata Iran agar bisa merespons ancaman lebih cepat.
Selama ini, kedua lembaga tersebut punya fungsi berbeda dalam sistem pertahanan Iran.
Staf Umum bertugas menyusun kebijakan militer nasional, sementara Khatam al-Anbiya memimpin operasi militer skala besar.
Dengan digabungkan, Iran ingin proses pengambilan keputusan militer menjadi lebih cepat dan terkoordinasi saat krisis.
Penunjukan Abdollahi dinilai tepat karena rekam jejaknya memimpin operasi militer strategis sejak 2025.
Kebijakan ini sekaligus membalik arah reorganisasi 2016, saat kedua lembaga sengaja dipisah agar berjalan independen.
Iran kini disebut kembali ke sistem komando terpusat demi mempercepat sinkronisasi strategi dan operasi lapangan.
Mojtaba Khamenei turut memerintahkan penguatan respons terhadap ancaman konvensional hingga serangan siber dan hibrida.