TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Setelah sempat vakum selama setahun, Festival Siak Bermadah kembali digelar di Kabupaten Siak pada 2026.
Kembalinya event ini menjadi kabar penting bagi masyarakat Siak.
Sebab, Siak Bermadah bukan kegiatan kebudayaan yang baru muncul dalam beberapa tahun terakhir.
Event ini telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Melayu Siak sejak puluhan tahun silam, bahkan ketika Siak masih berstatus sebagai kecamatan di bawah Kabupaten Bengkalis.
Karena itu, ketika Siak Bermadah tidak digelar pada 2025, sejumlah tokoh dan masyarakat turut mempertanyakan hilangnya agenda yang selama ini telah melekat sebagai salah satu identitas kebudayaan Siak.
Tahun ini, pemerintah daerah memastikan Siak Bermadah kembali masuk dalam agenda kebudayaan.
Menariknya, pelaksanaan event tersebut tidak menggunakan APBD, melainkan mendapat dukungan pendanaan dari pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Bupati Siak Afni Zulkifli mengatakan, dukungan pemerintah pusat itu diperoleh setelah Pemkab Siak mengusulkan sejumlah program kebudayaan. Setidaknya terdapat 13 kegiatan kebudayaan di Siak yang mendapat dukungan APBN tahun ini.
“Alhamdulillah, tahun ini ada sekitar 13 kegiatan kebudayaan yang insyaallah didanai APBN, termasuk Festival Siak Bermadah yang sebelumnya sempat kita efisiensikan,” kata Afni saat membuka kegiatan kebudayaan di Balairung Sri, Selasa (11/8/2026).
Menurut Afni, tahun ini terdapat dua event utama yang akan kembali dilaksanakan. Festival Sastra dan Festival Siak Bermadah. Keduanya dipastikan berjalan tanpa membebani APBD Kabupaten Siak.
“Tahun ini ada dua event yaitu Festival Sastra dan Festival Siak Bermadah, insyaallah akan kita laksanakan dan dananya tidak dari APBD,” ujarnya.
Bagi Pemkab Siak, dukungan tersebut menjadi salah satu cara untuk menjaga kegiatan kebudayaan tetap hidup di tengah kondisi keuangan daerah yang belum stabil.
Afni mengatakan keterbatasan APBD tidak boleh membuat pembangunan dan kegiatan kebudayaan berhenti.
Pemerintah daerah harus mencari sumber pembiayaan lain agar program yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan tetap berjalan.
“Gerak pembangunan dipastikan tetap berjalan di Kabupaten Siak, termasuk kegiatan kebudayaan. Kita tidak boleh menyerah. Kalau APBD tidak ada, kita masih punya sumber-sumber pembiayaan lainnya,” katanya.
Upaya mendapatkan dukungan pemerintah pusat juga dilakukan untuk revitalisasi Istana Siak dan Balairung Sri.
Dua bangunan yang menjadi bagian penting dari sejarah Kesultanan Siak itu sebelumnya direncanakan direvitalisasi melalui APBD, namun tertunda akibat efisiensi anggaran.
Tahun ini, Pemkab Siak memastikan revitalisasi tersebut mulai diupayakan menggunakan dukungan APBN.
“Tahun ini insyaallah kita akan memulai revitalisasi Istana dan Balairung Sri dari APBN. Ini ikhtiar kita,” tegas Afni.
Ia mengatakan, keberlanjutan agenda kebudayaan di Siak tidak terlepas dari upaya pemerintah daerah membuka sumber pembiayaan di luar APBD.
“Kita tidak boleh menyerah terhadap kondisi ini. Kita terus mengetuk pintu-pintu yang ada,” katanya.
Selain memastikan event budaya kembali digelar, Afni juga ingin kegiatan kebudayaan tidak hanya terpusat di kawasan pusat Kabupaten Siak.
Tradisi dan kegiatan Melayu diharapkan semakin dekat dengan masyarakat di kecamatan.
“Denyut kemelayuan dan kebudayaan itu coba kita luaskan di kecamatan. Memang pusatnya di Siak, tetapi kegiatan bisa saja dilaksanakan di tempat lain,” ujarnya.
Kembalinya Festival Siak Bermadah tahun ini sekaligus menghidupkan kembali salah satu tradisi yang telah menemani perjalanan panjang Siak.
Setelah satu tahun absen, event yang lahir sejak Siak masih menjadi bagian dari Kabupaten Bengkalis itu kembali hadir dalam agenda kebudayaan daerah. (tribunpekanbaru.com/mayonal putra)