Sosok Lucky Sugeha, Ketua Panitia Drag Race Kotamobagu Disorot Usai Pembalap Tabrak Penonton
Rusaidah August 11, 2026 05:03 PM

 

BANGKAPOS.COM - Nama Lucky Sugeha ikut menjadi perhatian setelah insiden maut dalam ajang drag race di Kelurahan Upai, Kotamobagu, Sulawesi Utara (Sulut).

Kecelakaan tersebut melibatkan pembalap Tian Ngantung.

Mobil Honda Jazz yang dikendarainya melaju dan menghantam penonton.

Informasi terbaru, sebanyak delapan orang meninggal dunia, sementara delapan lainnya mengalami luka-luka.

Di tengah sorotan terhadap peristiwa tersebut, sosok Lucky Sugeha turut diperbincangkan. Ia diketahui merupakan ketua panitia penyelenggara ajang drag race yang berakhir tragis tersebut.

Baca juga: Sosok Dewi Sartika Sitinjak, Meninggal 13 Hari Usai Operasi Ambeien, Keluarga Laporkan RS

Lantas, siapa Lucky Sugeha?

Sosok Lucky Sugeha

Berdasarkan penelusuran Tribunmanado.co.id, Lucky Sugeha diketahui berlatar belakang sebagai seorang insinyur.

Ia juga pernah mengabdikan diri selama puluhan tahun sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kotamobagu.

Pada 2025, Lucky sempat dipercaya sebagai Plt Kepala UPTD Wilayah II Bolmong Raya pada Dinas PUPRD Provinsi Sulawesi Utara.

Ketika menjabat posisi tersebut, Lucky diketahui turut melakukan lobi untuk sejumlah proyek strategis, salah satunya terkait perbaikan jalan di Kotamobagu.

Kini, Lucky Sugeha telah pensiun dari statusnya sebagai ASN.

Dikenal Ramah dan Murah Senyum

Seorang ASN di Kotamobagu yang mengenal Lucky menyebut sosok tersebut sebagai pribadi yang ramah dan mudah tersenyum.

"Pak Lucky ini orang baik yang sudah puluhan tahun bekerja sebagai ASN di Kotamobagu," katanya, Selasa 11 Agustus 2026.

Ia mengaku terkejut ketika mengetahui Lucky Sugeha dipercaya sebagai ketua panitia penyelenggara drag race yang berujung maut di Kelurahan Upai.

"Karena setahu saya pak Lucky lebih banyak beraktivitas sebagai pengusaha usai pensiun," ucap dia.

Jalani Pemeriksaan Polisi Selama Sekitar 8 Jam
Pasca kecelakaan maut tersebut, Lucky Sugeha mendatangi Polres Kotamobagu pada Senin 10 Agustus 2026.

Ia tiba sekitar pukul 17.56 WITA dan baru menyelesaikan pemeriksaan pada Selasa 11 Agustus 2026 pukul 01.58 WITA.

Setelah menjalani pemeriksaan berjam-jam, wajah Lucky tampak lesu. Ketika hendak dimintai keterangan oleh Tribunmanado.id, ia memilih tidak banyak berbicara.

"Kalau soal pertanyaan nanti tanya penyidik saja," ujarnya sambil menuruni tangga.

Tegaskan Siap Bertanggung Jawab

Sebelumnya, Lucky Sugeha menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab atas tragedi drag race yang berlangsung di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara.

Pernyataan itu disampaikannya ketika mendatangi para korban yang masih menjalani perawatan di RSUD Kotamobagu.

“Saya sudah berada di sini, di rumah sakit. Kami siap bertanggung jawab atas para korban yang masih dalam perawatan,” ujarnya.

Saat berada di hadapan para korban di ruang perawatan, Lucky terlihat terpukul dan menyesalkan kejadian yang menyebabkan sejumlah warga kehilangan nyawa dan lainnya mengalami luka-luka.

"Intinya kami siap bertanggungjawab penuh atas kejadian ini," ucapnya.

Panitia Salurkan Bantuan kepada Keluarga Korban

Pasca tragedi yang terjadi di Jalan A.P. Mokoginta, Kotamobagu, Sulawesi Utara, pada Minggu 9 Agustus 2026, pihak panitia penyelenggara disebut telah memberikan bantuan kepada keluarga korban.

Hal tersebut disampaikan Desy Sipasi (22), salah satu anggota keluarga korban meninggal dunia sekaligus warga Upai, Kotamobagu.

Menurut Desy, keluarga korban telah menerima bantuan dari pihak penyelenggara.

"Pihak panitia memberikan bantuan ke keluarga korban, termasuk untuk keluarga nenek kami. Nenek kami ikut jadi korban," ujar dia.

Pada Senin malam (10/8/2026), Desy bersama kerabatnya, Fitri Sipasi (22), mendatangi lokasi kejadian. Kedatangan mereka bertujuan mengenang neneknya, Nilawati Mokodongan, warga Desa Pontodon, yang menjadi satu dari delapan korban meninggal dunia.

Mereka datang untuk menyalakan lilin sekaligus mengenang kepergian sang nenek.

"Kami datang untuk menyalakan lilin di lokasi nenek kami terbujur setelah ditabrak mobil itu," terang Desy.

Kesedihan masih terlihat dari wajah Desy ketika mengisahkan kembali tragedi yang menimpa keluarganya kepada Tribun Manado.

Desy, yang saat ditemui mengenakan jilbab hitam, mengatakan neneknya sempat dibawa ke Rumah Sakit Monompia Kotamobagu untuk mendapat pertolongan medis.

Namun, nyawa Nilawati tidak berhasil diselamatkan. Ia meninggal dunia pada Minggu malam ketika masih menjalani perawatan.

Menurut penuturan Desy, saat kecelakaan terjadi, sang nenek sedang bersama cucunya yang masih berusia tujuh tahun, Ravisca Mokodongan.

Ravisca juga menjadi korban dalam insiden tersebut. Beruntung, bocah itu berhasil selamat.

Meski demikian, Ravisca harus mendapatkan perawatan akibat cedera serius. Ia mengalami patah kaki serta luka pada bagian kepala.

Sementara itu, lokasi kecelakaan di Jalan A.P. Mokoginta kini berubah menjadi tempat warga dan keluarga korban mengenang tragedi tersebut.

Di titik tempat para korban tergeletak setelah ditabrak mobil Honda Jazz yang dikemudikan Tian Ngantung dari Tim Pangeran 05 McJoe, terlihat nyala lilin sebagai bentuk duka dan penghormatan bagi para korban.

(Bangkapos.com/Tribun Manado/Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.