Kebakaran Bromo Meluas hingga 899 Hektare, Satgas Ungkap Penyebab Alami Dinilai Kecil
Samsul Arifin August 11, 2026 06:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) hingga kini masih dalam penanganan tim gabungan.

Di tengah operasi pemadaman, Satgas Karhutla mulai mendalami penyebab kebakaran yang sejak 3 Agustus 2026 telah berdampak pada lahan seluas 899,35 hektare.

Satgas menilai kemungkinan kebakaran yang sepenuhnya dipicu faktor alam relatif kecil. Pertimbangan tersebut salah satunya didasarkan pada kondisi kawasan Bromo yang masih memiliki tingkat kelembaban tertentu meski tengah memasuki musim kemarau.

Dalam laporan resmi yang dikeluarkan juru bicara Satgas, Aan Jauhari, penyebab pasti kebakaran belum dapat disimpulkan. Tim masih melakukan penelusuran sembari melanjutkan operasi pemadaman di sejumlah titik.

“Pertimbangannya, kawasan Bromo disebut masih memiliki tingkat kelembaban tertentu meskipun saat ini berada pada musim kemarau,” ujar Aan, Selasa (11/8/2026).

Selain pemadaman, Satgas mulai menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kemungkinan api kembali muncul setelah titik-titik kebakaran berhasil dikendalikan.

Baca juga: Cara Reschedule dan Refund Tiket Gunung Bromo yang Kini Ditutup, Batas Pengajuan 31 Agustus 2026

Satgas siapkan patroli setelah pemadaman

Posko Terpadu yang berada di bawah tanggung jawab Dandim 0820/Probolinggo Letkol Inf Ribut Yodo Aprianto telah menyusun rencana tindak lanjut untuk menjaga kawasan yang sebelumnya terbakar.

Langkah tersebut mencakup patroli terpadu secara berkala, penempatan personel gabungan di sejumlah lokasi yang membutuhkan pengawasan, hingga pengelolaan informasi publik selama penanganan karhutla berlangsung.

Pengawasan lanjutan dinilai penting karena kondisi vegetasi yang mengering masih menyimpan potensi munculnya kembali titik api.

“Pengawasan lanjutan diperlukan karena kondisi vegetasi yang kering masih berpotensi menyebabkan api kembali muncul maupun merambat apabila terdapat sumber pemicu,” paparnya.

Upaya pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara. Selain pengerahan personel di medan yang dapat dijangkau, operasi water bombing juga terus dilakukan untuk menjangkau lokasi yang sulit ditangani secara langsung.

Kebakaran Bromo berdampak 899,35 hektare

Komandan Sektor Penanganan Karhutla TNBTS sekaligus Danrem 083/Baladhika Jaya, Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, mengatakan tim terpadu sejauh ini mampu mengendalikan perluasan kebakaran.

Meski demikian, operasi pemadaman masih menghadapi sejumlah tantangan. Kondisi vegetasi yang mengering selama musim kemarau membuat api lebih mudah menyebar.

“Juga medan terjal hingga kondisi cuaca masih menjadi tantangan dalam operasi pemadaman,” ujar Wahyu.

Wahyu memastikan situasi di kawasan wisata Gunung Bromo tetap kondusif. Penanganan kebakaran dilakukan secara terintegrasi dengan melibatkan kementerian dan lembaga, TNI, Polri, serta pemerintah daerah.

Operasi penanganan dibagi dalam empat wilayah, yakni Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.

"Kebakaran yang bermula sejak 3 Agustus 2026 ini diperkirakan telah berdampak pada lahan seluas 899,35 hektare," kata Wahyu.

Watangan menjadi wilayah terdampak terbesar

Berdasarkan data Satgas, sebagian besar luasan lahan terdampak berada di kawasan Watangan dengan luas sekitar 817,342 hektare.

Sementara itu, kawasan Argowulan tercatat terdampak sekitar 25,393 hektare. Adapun kawasan Dingklik, Pakis Bincil, dan Mungal memiliki luasan terdampak sekitar 56,65 hektare.

Saat ini, tim gabungan memfokuskan intervensi pada sejumlah lokasi yang masih membutuhkan penanganan. Personel dikerahkan untuk memastikan bara maupun titik api yang tersisa tidak merambat ke kawasan lainnya.

Penanganan dari udara juga tetap dilakukan menggunakan helikopter. Namun, operasi tersebut sempat menghadapi kendala berupa kabut tebal yang mengurangi jarak pandang pilot di sekitar lokasi kebakaran.

Selain kabut, tiupan angin serta karakter cuaca selama musim kemarau menjadi faktor lain yang harus diperhitungkan dalam menentukan strategi pemadaman.

Dua helikopter dikerahkan untuk water bombing

Untuk menyesuaikan kondisi lapangan, Satgas kini mengoperasikan dua unit helikopter untuk melakukan water bombing.

"Hari ini kami mengoptimalkan dua unit helikopter untuk water bombing dari sebelumnya tiga unit, menyesuaikan dengan dinamika cuaca dan visual pilot di lapangan," ujarnya.

Wahyu menjelaskan, pengerahan helikopter diprioritaskan untuk lokasi yang sulit dijangkau oleh tim pemadam melalui jalur darat.

Saat ini, dua helikopter terus dioperasikan untuk membantu memadamkan titik api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke wilayah lain.

Di sisi lain, penyelidikan mengenai penyebab kebakaran masih berjalan. Satgas belum menetapkan kesimpulan akhir mengenai sumber pemicu karhutla di kawasan TNBTS.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.