Mentan Amran Sulaiman Tinjau Kekeringan di Gresik dan Berikan Solusi Pompa
Titis Jati Permata August 11, 2026 07:32 PM

 

SURYA.co.id, GRESIK - Kekeringan yang melanda lebih dari 200 hektare lahan pertanian di Kabupaten Gresik mendapat perhatian langsung Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.

Amran turun ke Desa Munggugianti, Kecamatan Benjeng, Gresik, Selasa (11/8/2026), untuk melihat kondisi lahan sekaligus mencari solusi agar petani tetap bisa mendapatkan pasokan air.

Mengenakan kemeja putih, Amran mengecek langsung area persawahan bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Wakil Bupati Gresik dr Asluchul Alif, serta jajaran Kementerian Pertanian.

Baca juga: Ratusan Siswa Sekolah Rakyat Gresik Dilatih Simulasi Bencana, Bangun Kesiapsiagaan Dini

Di lokasi, Amran melihat penggunaan alat geolistrik untuk mencari titik sumber air di sekitar lahan pertanian yang terdampak kekeringan.

Tak hanya meninjau, Amran juga berinteraksi dengan petani dan menyerahkan bantuan hand tractor kepada buruh tani di sekitar lokasi.

Pompa Jadi Solusi Pertama

Amran mengatakan pemerintah tidak ingin menganggap kecil persoalan kekeringan yang melanda ratusan hektare lahan di Gresik.

Menurutnya, intervensi harus dilakukan secepat mungkin agar kekeringan tidak berdampak lebih besar terhadap produktivitas pertanian.

"Hari ini kami langsung mengecek lapangan karena mendapat laporan ada lebih dari 200 hektare lahan yang mengalami kekeringan. Luasan ini tidak boleh dianggap remeh. Sekecil apa pun persoalannya, kami harus memberikan solusi di lapangan," ujar Amran.

Solusi pertama diberikan untuk lahan yang memiliki sumber air di sekitar area persawahan.

Pemerintah akan mengirimkan pompa agar air dari sumber terdekat dapat segera dialirkan ke lahan yang membutuhkan.

"Untuk lahan yang memiliki sumber air di dekat area persawahan, kami langsung berikan pompa. Tidak perlu birokrasi panjang, langsung kami berikan agar bisa segera digunakan," tegasnya.

Lahan Tanpa Sumber Air Dibuatkan Sumur

Sementara untuk lahan yang tidak memiliki sumber air di sekitar persawahan, pemerintah menyiapkan alternatif berupa sumur dangkal.

Amran mengatakan metode tersebut akan digunakan untuk mencari sumber air bawah tanah yang dapat dimanfaatkan petani selama kondisi kemarau.

"Untuk area persawahan yang tidak memiliki sumber air, kami siapkan sumur dangkal. Di sekitar lokasi ini juga terlihat ada air yang bisa dimanfaatkan. Jadi, kami melakukan mitigasi untuk mengurangi risiko kekeringan," jelasnya.

Menurut Amran, langkah tersebut merupakan bagian dari mitigasi menghadapi kondisi kemarau sekaligus menjaga produksi pangan nasional.

Ia menyebut produksi beras Jawa Timur saat ini mencapai sekitar 1,3 juta ton dan menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah.

"Alhamdulillah, produksi beras Jawa Timur saat ini mencapai 1,3 juta ton dan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Jadi, kita boleh tenang, tetapi tidak boleh lengah. Kita harus tetap bekerja keras memitigasi risiko kekeringan tahun ini. Insyaallah aman," katanya.

Buruh Tani Bakal Bisa Dapat Bantuan Alat

Dalam kunjungannya ke Gresik, Amran juga mendapat masukan langsung dari para buruh tani mengenai akses terhadap bantuan alat dan mesin pertanian.

Ia mengatakan masih banyak buruh tani yang belum tersentuh program bantuan akibat regulasi yang berlaku saat ini.

Persoalan tersebut, kata Amran, akan dibawa ke Jakarta untuk segera dilakukan evaluasi.

"Masih banyak saudara kita, khususnya buruh tani di seluruh Indonesia, yang belum tersentuh bantuan karena regulasi. Insyaallah setelah kembali ke Jakarta, regulasi itu akan kami ubah agar buruh tani bisa mendapatkan traktor, combine harvester, alat tanam, dan peralatan lainnya," ujarnya.

Amran juga berjanji akan menyederhanakan mekanisme pengajuan bantuan.

Menurutnya, proses administrasi tidak perlu dibuat berbelit-belit. Pengajuan cukup melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk kemudian diteruskan ke Kementerian Pertanian.

"Tidak perlu tanda tangan yang rumit. Cukup PPL yang menerima dan menandatangani pengajuan. Setelah kami terima di Jakarta, alat yang dibutuhkan akan segera dikirim," katanya.

Petani 73 Tahun Kesulitan Cari Air

Kekeringan yang terjadi di Desa Munggugianti bukan sekadar persoalan angka luas lahan.

Lasih, petani berusia 73 tahun, mengaku harus berkeliling mencari air agar tanaman jagungnya tetap bisa tumbuh.

Menurut Lasih, kondisi kering telah berlangsung hampir satu bulan. Tanaman jagung yang baru berusia sekitar 16 hari pun membutuhkan pasokan air agar dapat berkembang dengan baik.

"Kekeringan ini sudah hampir satu bulan. Jagung saya baru berumur 16 hari. Tanahnya kering terus, sekitar dua minggu, kemudian ditanami jagung. Kalau tanahnya tidak mendapatkan air, pertumbuhan jagung tidak bisa bagus," tutur Lasih.

Kesulitan terbesar, kata dia, terjadi ketika tanaman membutuhkan air untuk pemupukan.

Ia bahkan harus mencari sumber air menggunakan tandon untuk menyiram tanaman.

"Kalau pemupukan, kami harus mencari air ke mana-mana. Air itu dibawa dengan tandon untuk menyiram tanaman sekaligus membantu proses pemupukan. Kalau tidak ada air, tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik," ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi gambaran langsung dampak kekeringan yang kini dihadapi petani di wilayah Benjeng.

Pemerintah pun memilih mempercepat intervensi melalui pompa dan sumur dangkal agar kebutuhan air pertanian dapat segera dipenuhi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.