TRIBUNJOGJA.COM - Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) sering kali hanya identik dengan ketahanan fisik dan baris-berbaris pada peringatan 17 Agustus. Namun, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menerapkan standar baru yang jauh lebih ketat dan komprehensif pada seleksi Paskibraka 2026.
Guna mencegah infiltrasi ideologi menyimpang, seleksi tahun ini secara khusus melibatkan penelusuran rekam jejak digital peserta, serta mewajibkan pembekalan materi anti-terorisme dan radikalisme.
Para peserta terpilih pun tidak langsung purnatugas usai peringatan kemerdekaan, melainkan terus mengemban amanah sebagai duta Pancasila hingga pertengahan tahun 2027.
Transformasi fundamental ini merupakan implementasi langsung dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 51 Tahun 2022 dan Peraturan BPIP Nomor 3 Tahun 2022. Regulasi ini mengamanatkan bahwa Paskibraka bukan sekadar petugas upacara, melainkan program strategis untuk mencetak agen perubahan, mengarusutamakan Pancasila, dan membentuk calon pemimpin bangsa.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY, Lilik Andi Aryanto, menegaskan bahwa parameter kelulusan tidak lagi terpusat pada kemampuan fisik semata. Keterlibatan lintas instansi diterjunkan untuk menguji integritas dan ideologi 79 siswa yang bersaing di tingkat provinsi.
"Ada beberapa penilaian. Pertama tes wawasan kebangsaan, kemudian tes kesehatan, psikotes, kesamaptaan, dan postur tubuh. Pengujinya juga dari beberapa unsur, ada TNI, Polri, dan psikolog. Pemeriksaan kesehatan dari unsur RS Grhasia, psikologi dari BKD (Badan Kepegawaian Daerah), kemudian ada penelusuran rekam jejak digital dari PPI (Purna Paskibraka Indonesia)," papar Lilik, Selasa (11/8).
Pendidikan dan karakter yang ditanamkan didesain untuk jangka panjang. Lilik mematahkan anggapan umum yang mengira kiprah Paskibraka usai setelah upacara penurunan bendera 17 Agustus.
"Tugas mereka nanti berakhir sampai 1 Juni 2027, bukan selesai hanya pada saat ini saja. Nanti tugas terakhir mereka adalah menjadi petugas upacara pada Hari Kelahiran Pancasila. Selama pelatihan, mereka tidak hanya menjalani latihan fisik. Siang hari latihan fisik, kemudian malam harinya ada pembekalan materi tertentu, seperti Empat Konsensus Kebangsaan. Mereka juga kami beri pemahaman tentang anti-terorisme, radikalisme, public speaking, dan keistimewaan. Jadi, materi tentang ideologi Pancasila dan kepemimpinan turut kami sampaikan kepada mereka," ungkap Lilik merinci.
Proses penjaringan bibit terbaik ini telah dimulai sejak Februari 2026 di tingkat kabupaten/kota dengan animo mencapai lebih dari 200 pendaftar per wilayah. Dari tahapan tersebut, sebanyak 79 siswa berhak maju ke seleksi tingkat provinsi yang digelar pada 4 hingga 8 Mei 2026.
Mengenai sistem eliminasi dan distribusi pasukan, Lilik menjelaskan skema tersebut secara mendetail agar tidak ada siswa yang kehilangan kesempatan bertugas.
"Kalau seleksi kan bertahap. Seleksi dari umum itu di kabupaten. Untuk seleksi di provinsi, kami menerima hasil seleksi dari kabupaten. Dari masing-masing kabupaten mengirimkan 16 orang atau delapan pasang. Kemudian kami pilih empat pasang yang ditetapkan masuk ke provinsi, dan empat pasang lagi kami kembalikan ke kabupaten. Dari 20 pasang tersebut, kami kirimkan tiga pasang untuk mengikuti seleksi di nasional. Kemudian terpilih satu pasang. Berarti masih ada dua pasang yang dikembalikan ke provinsi. Jadi, petugas Paskibraka di DIY ada 38 orang atau 19 pasang," jelasnya.
Satu pasang (dua pelajar) yang berhasil lolos menyisihkan kandidat lain untuk mewakili DIY di tingkat nasional adalah Ahmad Raditya dari SMK Penerbangan AAG Adisutjipto (Sleman) dan Anggita Ayu Mahanani Hanifah dari SMA Negeri 1 Bantul. Keduanya saat ini tengah menjalani Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan Nasional di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Depok, Jawa Barat, sejak 14 Juli hingga 22 Agustus 2026.
Sementara itu, untuk 38 anggota Paskibraka Provinsi DIY, pemusatan latihan (diklat) dilaksanakan pada 1-20 Agustus 2026. Para peserta yang terdiri dari perwakilan Kota Yogyakarta (4 putra, 4 putri), Bantul (4 putra, 3 putri), Kulon Progo (4 putra, 4 putri), Gunungkidul (4 putra, 4 putri), dan Sleman (3 putra, 4 putri) ini seluruhnya diwajibkan tinggal di asrama Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan DIY.
Guna mencetak disiplin baja, Kesbangpol DIY menggandeng 11 pelatih gabungan yang terdiri dari Korem 072/Pamungkas (4 personel), Denpom (1 personel), Lanud Adisutjipto (2 personel), Lanal Yogyakarta (2 personel), Brimob Polda DIY (1 personel), dan Polda DIY (1 personel).
Proses ini juga didampingi oleh 17 pamong dari Duta Pancasila Purna Paskibraka Indonesia (DPPI) DIY, serta narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, hingga perwakilan Keraton Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman.
Seluruh rute pelatihan telah dipetakan secara spesifik. Latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB) dan tata upacara dipusatkan di Lapangan Monumen Pahlawan Pancasila. Sementara itu, gladi kotor, gladi bersih, hingga puncak Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI akan dilangsungkan di Istana Kepresidenan Yogyakarta, dilanjutkan dengan prosesi pengukuhan yang khidmat di Gedhong Pracimasana, Kepatihan Yogyakarta.