Tracing TBC Dimulai dari Antang
Hasriyani Latif August 12, 2026 01:07 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pemerintah Kota Makassar memperluas upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC atau TB) dengan menggelar tracing secara masif hingga ke tingkat kelurahan. 

TBC adalah penyakit infeksi menular serius yang utamanya menyerang organ paru-paru.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis.

Selain paru-paru, kuman TBC juga bisa menyebar dan menyerang bagian tubuh lain seperti tulang, kelenjar getah bening, kulit, hingga otak.

Gerakan tracing TBC menyasar 339 titik dan terintegrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Setiap titik, pemerintah menargetkan pemeriksaan terhadap 100 orang, sehingga total sasaran tracing mencapai 33.900 orang. 

Tracing berlangsung mulai Agustus hingga November 2026 dimulai dari Kelurahan Antang.

Baca juga: Waspada! 978 Penderita TBC di Pangkep Tahun 2025, Dinkes Minta Warga Periksa Jika Batuk 2 Pekan

Tracing merupakan proses penelusuran dan pemeriksaan kontak erat oleh petugas medis untuk menemukan orang yang berisiko tertular penyakit TBC.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin mengatakan tracing tidak boleh berhenti pada pencarian kasus semata. 

"Tetapi menjadi strategi untuk mendeteksi TBC, kita memastikan warga yang terindikasi segera mendapat penanganan sekaligus mencegah penyakit di lingkungan," jelas Munafri saat melaunching gerakan tersebut di Kantor Kelurahan Antang, Jl Antang Raya, Makassar, Selasa (11/8/2026).

Mantan bos PSM itu menegaskan penanganan TBC membutuhkan kerja bersama hingga ke tingkat paling dekat dengan masyarakat.

Karena itu, Dinas Kesehatan bersama puskesmas, kecamatan, kelurahan, hingga RT/RW diminta aktif membantu menemukan warga yang memiliki gejala atau berisiko terpapar.

Munafri mengakui kasus TBC di Makassar masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius. 

"TBC di Makassar ini relatif tinggi dibanding daerah-daerah lainnya. Maka dari itu, dibutuhkan penanganan ekstra, penanganan yang sangat serius karena penyakit ini bisa menular dengan sangat cepat," kata Ketua IKA Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin ini.

TRACING TB - Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar Nursaidah Sirajuddin saat launching Tracing TB Terintegrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kantor Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Selasa (11/8/2026).Dari target penemuan 9.030 kasus TB sepanjang 2026, baru 5.556 kasus yang terkonfirmasi atau mencapai 61,53 persen. 
TRACING TBC - Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin bersama Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar Nursaidah Sirajuddin saat launching Tracing TBC Terintegrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kantor Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar, Selasa (11/8/2026). Dari target penemuan 9.030 kasus TBC sepanjang 2026, baru 5.556 kasus yang terkonfirmasi atau mencapai 61,53 persen.  (humas pemkot makassar)

Ia meminta masyarakat tidak takut maupun malu menjalani pemeriksaan karena TBC bukan aib dan dapat disembuhkan apabila ditangani secara tepat.

"Jangan takut dan jangan malu, TBC ini bukan aib, ini penyakit yang bisa disembuhkan. Tapi kalau menyembunyikan penyakitnya, tidak akan pernah terselesaikan," kata politisi Golkar itu.

Menurutnya, keterbukaan masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan program. 

Warga yang terindikasi atau mengalami gejala TBC diharapkan segera memeriksakan diri sehingga dapat memperoleh penanganan sedini mungkin.

Apabila tidak ditangani, penderita TBC berpotensi menularkan penyakit tersebut kepada orang-orang di lingkungan terdekat, termasuk keluarga.

Dinkes Temukan 9.030 Kasus 

Program penanggulangan TBC di Makassar masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah. 

Dari target penemuan 9.030 kasus sepanjang 2026, baru 5.556 kasus yang terkonfirmasi atau mencapai 61,53 persen.

Data Dinas Kesehatan Kota Makassar juga mencatat capaian penjaringan terduga TBC baru mencapai 27.851 orang dari target 48.763 orang atau 57,11 persen. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr Nursaidah Sirajuddin mengatakan dari sisi pengobatan, capaian program menunjukkan angka lebih baik. 

Sebanyak 4.578 pasien dari 5.556 kasus terdiagnosis telah memulai atau menyelesaikan pengobatan secara adekuat, dengan capaian 82,40 persen.

"Laporan evaluasi menyebut capaian pengobatan tersebut mencerminkan mutu layanan klinis serta kepatuhan berobat yang relatif baik," kata Nursaidah.

Sementara pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak serumah target 72.240 orang, baru 516 orang yang mendapatkan TPT atau hanya 0,71 persen.

Menurut Nursaidah, kondisi tersebut membutuhkan perhatian serius karena kontak serumah merupakan kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar TBC dari anggota keluarga yang telah terdiagnosis.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Dinkes akan memperkuat investigasi kontak di seluruh puskesmas. 

Tidak hanya mengandalkan tenaga kesehatan, tetapi juga melibatkan kader kesehatan, komunitas, fasilitas pelayanan kesehatan swasta, klinik, hingga rumah sakit.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.