Presiden Amerika Serikat Donald Trump melompat untuk membela Presiden FIFA Gianni Infantino yang tengah disorot keras — tetapi ia justru sama sekali meleset dari inti persoalannya.
Trump menilai akan menjadi sebuah “kesalahan yang mengerikan” bila Infantino diganti dari jabatan Presiden FIFA, ketika pria Swiss itu menghadapi tekanan yang kian besar untuk mundur.
Namun, pembelaan dari orang nomor satu di Amerika Serikat tersebut tanpa sengaja justru menyingkap alasan utama di balik keretakan yang mengancam merusak sendi-sendi sepak bola dunia.
Infantino saat ini sedang menghadapi ujian terbesar sepanjang masa kepemimpinannya. Bagi jutaan pendukung di seluruh dunia, administrator asal Swiss itu sudah lama dipandang sebagai simbol kerakusan korporasi.
Ia dijuluki “megalomaniak” oleh para kolumnis surat kabar terkemuka dan dianggap sebagai sosok yang terobsesi terus-menerus memperbesar turnamen, mengencerkan kualitas persaingan, serta mengejar hasil komersial tanpa henti, sehingga Infantino jauh dari sosok yang populer.
Semua hal tersebut juga terjadi dengan mengorbankan para suporter yang datang ke stadion serta tradisi sepak bola itu sendiri.
Permusuhan dari kalangan penggemar kini telah merembet ke lorong-lorong eksekutif setelah terbitnya surat terbuka bersama yang turut ditandatangani oleh presiden UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan Concacaf.
Konfederasi-konfederasi tersebut menuduh kepemimpinan FIFA melakukan “kegagalan penilaian” dan “pelanggaran kepercayaan yang mendasar” setelah Infantino mencoba mendorong rencana untuk menjual kepemilikan komersial di Piala Dunia, serta kompetisi FIFA lainnya, kepada para investor dalam tenggat waktu yang dipersingkat, yang oleh banyak pihak diyakini dimaksudkan untuk membatasi pengawasan.
Dengan tiga dari enam badan kontinental sepak bola menuntut penyelidikan independen dan menolak memberikan dukungan kepada Infantino, Trump menggunakan media sosial untuk membela bos FIFA tersebut.
“FIFA akan membuat kesalahan yang mengerikan jika, dengan alasan apa pun, mereka sampai mempertimbangkan untuk mengganti presiden Gianni Infantino,” kata Trump.
“Dia luar biasa, setelah baru saja memimpin Piala Dunia paling sukses, empat kali lipat, yang pernah diselenggarakan. Jika dia pergi, itu tidak akan pernah lagi sesukses atau seprofitabel itu.”
Penyebutan kata “menguntungkan” oleh Trump terkait Piala Dunia benar-benar meleset dari pokok persoalan. Bagi para politisi dan ruang rapat direksi, turnamen itu mungkin tak lebih dari sekadar aset korporasi. Namun, bagi miliaran orang yang menyaksikan kompetisi musim panas ini, margin keuntungan nyaris tidak penting.
Piala Dunia dihargai karena ia merupakan festival sepak bola yang menjadi milik bersama. Ini adalah perayaan global tentang gairah, identitas nasional, emosi, dan perjuangan olahraga.
Ketika para pemimpin mereduksi tontonan terbesar di dunia itu menjadi sekadar hitungan dolar dan sen, mereka justru memperlihatkan kebutaan mereka terhadap jiwa olahraga ini.