Ketika Sejarah Masuk Tempat Sampah: Kenapa Naskah Proklamasi Dibuang? B.M. Diah Jadi Penyelamat
Ni'amu Shoim Assari Alfani August 12, 2026 08:42 AM

- Bayangkan salah satu dokumen paling penting dalam sejarah Indonesia berada di tempat sampah.

Bukan karena isinya tidak penting, bukan pula karena kemerdekaan Indonesia dianggap tidak berarti.

Tetapi karena saat itu, orang-orang yang membuatnya belum tahu bahwa selembar kertas tersebut akan menjadi bagian sejarah bangsa.

1. Kenapa Mereka Membuang Naskah Proklamasi?

Kisah itu bermula pada malam 16 Agustus 1945.

Setelah Soekarno dan Mohammad Hatta kembali dari Rengasdengklok, keduanya berkumpul di rumah Laksamana Tadashi Maeda.

Di sinilah mereka menyusun teks Proklamasi Kemerdekaan.

Setelah rumusan disepakati, lahirlah teks yang kemudian menjadi dasar pernyataan kemerdekaan Indonesia.

Namun, naskah yang ditulis tangan Soekarno bukanlah naskah yang akhirnya dibacakan di depan rakyat Indonesia.

Setelah rumusan Proklamasi disepakati, teks tersebut kemudian diketik oleh Sayuti Melik.

Dalam proses pengetikan, terdapat beberapa perubahan pada naskah konsep.

Salah satunya adalah perubahan ejaan dan beberapa bagian kalimat.

Naskah ketikan inilah yang kemudian digunakan sebagai teks Proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno pada pagi hari 17 Agustus 1945.

Pukul 10 pagi, Soekarno, didampingi Mohammad Hatta, membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Indonesia akhirnya menyatakan kemerdekaannya.

Tetapi ada satu benda yang nyaris hilang dari sejarah, yakni naskah konsep yang ditulis tangan Soekarno.

Dalam suasana yang serba cepat dan penuh ketegangan itu, naskah tersebut kemudian berada di antara kertas-kertas yang tidak terpakai.

Dan akhirnya, naskah tersebut dibuang ke keranjang sampah.

Saat itu, mungkin mereka belum memahami bahwa kertas tersebut akan menjadi dokumen bersejarah.

Bagi mereka, itu adalah konsep yang sudah selesai digunakan.

2. B.M. Diah, Sang Pemungut Naskah Asli Proklamasi

Di tengah situasi itulah muncul seorang wartawan bernama B.M. Diah.

Nama lengkapnya Burhanuddin Mohammad Diah.

Ia merupakan salah satu tokoh pers Indonesia yang aktif dalam perjuangan kemerdekaan.

Diah mengetahui keberadaan naskah konsep tersebut.

Dan ketika melihat kertas itu berada di antara tumpukan kertas yang hendak dibuang, ia mengambilnya.

Keputusan yang mungkin terlihat sederhana, namun memiliki dampak luar biasa.

B.M. Diah tidak membuangnya, tetapi menyimpannya.

Ia tidak langsung menyerahkan naskah tersebut kepada negara.

Naskah konsep Proklamasi itu disimpannya selama puluhan tahun.

Sementara itu, Indonesia berubah dan berkembang menjadi sebuah negara.

B.M. Diah pun terus menjalani kehidupannya sebagai wartawan, tokoh pers, diplomat, hingga pejabat negara.

Hingga akhirnya, naskah Proklamasi tulisan tangan itu diserahkan kepada Soeharto pada 1995.

Pada tahun yang sama, naskah asli Proklamasi tersebut disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia hingga saat ini.

Sejarah tidak hanya diselamatkan oleh orang yang berada di 'panggung'.

Tetapi juga oleh seseorang yang memilih untuk tidak membuang selembar kertas.

B.M. Diah, wartawan yang namanya menjadi bagian dari perjalanan panjang Republik Indonesia.

Dari sebuah naskah yang nyaris hilang, sempat dibuang ke tempat sampah, kini menjadi sebuah sejarah. (*)

Program: Kemerdekaan Republik Indonesia
Host: Maria Nanda Ayu Saputri
Editor Video: Ni'amu Shoim Assari Alfani
Uploader: bagus gema praditiya sukirman

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.