TABRAKAN maut dalam Drag race di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu, kota Kotamobagu, Provinsi Sulut, gegerkan Sulawesi Utara.
Peristiwa itu kian menyayat hati karena sebagian besar korbannya adalah wanita.
Di antaranya ada para lansia.Salah satu korban adalah Harianti Mokoginta (26).
Tribunmanado sambangi rumah duka di Desa Bilalang, Kabupaten Bolmong, Selasa (11/8/2026) sore.
Sebuah tenda terpasang depan rumah.
Suasana ramai.
Banyak orang berkumpul.
Kumpulan orang ini bergantian menghibur Rusdianto, suami dari Harianti.
Rusdianto tampak letih.
Wajahnya memancarkan kesedihan mendalam.
Namun penghiburan yang diterima cukup membuatnya dapat melangkah.
Kepada Tribunmanado.com, ia mengaku menonton drag race tersebut bersama istri dan anaknya.
Itu hari pertamanya nonton Drag race.
"Drag race ini sudah empat hari, ini kali pertama kami menyaksikan," kata dia.
Di arena drag race, dia bercerita, istrinya memisahkan diri karena ingin menonton lebih dekat.
Tinggal ia sendiri dan anaknya di posisi semula.
"Kemudian terjadi tabrakan itu, terdengar bunyi sangat keras," kata dia.
Para korban kemudian dibawa oleh anggota Brimob ke rumah sakit.
Rusdianto sempat pulang sebentar ke rumah, sebelum sesegera mungkin menuju ke rumah sakit.
"Istri saya sudah meninggal," kata dia.
Sebut dia, sang istri langsung dimakamkan Minggu malam dikarenakan kepala dan telinga terus mengeluarkan darah.
Ia memilih mengubur sang istri di bagian belakang rumah.
"Langsung dikubur pada malam hari," katanya.
Ujian hidup maha berat menimpa Son Mokoginta.
Warga Desa Bilalang, Kabupaten Bolmong ini kehilangan dua orang yang ia cintai dalam satu hari.
Semua akibat peristiwa tabrakan maut dalam Drag race di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu, Minggu (9/8/2026).
"Istri saya Rugaina Manangin dan adik Biyo Mokoagow meninggal dunia dalam peristiwa itu," katanya kepada Tribunmanado.com, Selasa (11/8/2026).
Musibah bertambah saat seorang anaknya kecelakaan lalu lintas.
Kala itu, sang anak tengah menuju ke rumah sakit untuk melihat ibunya.
Saat diwawancarai Tribunmanado di rumahnya di Bilalang, Son berkali-kali menunjuk hatinya dengan tangan kanan.
"Pedih, sulit bagi saya untuk melalui ini semua," kata dia.
Son tak mengeluarkan air mata saat diwawancarai.
Namun ekspresinya begitu berat.
Kesedihan tanpa airmata adalah tanda dari kesengsaraan yang dalam.
Son mengaku tidak lagi menikmati hidup.
"Mau makan rasanya sulit," kata dia.
Kehilangan dua anggota keluarga secara bersamaan dan mendadak, juga menerbitkan kerumitan dalam keluarga besarnya.
Mereka terpaksa musti berbagi rumah duka.
Son menuturkan, awalnya ia tidak mengetahui peristiwa kematian istrinya.
Tahu tahu ia menerima panggilan telepon milik istrinya. Tapi yang bicara bukan sang istri.
"Yang bicara adalah seseorang yang meminta agar mengambil ponsel itu di panitia, rupanya ponsel itu terjatuh saat kecelakaan," katanya.
Setiba di rumah sakit, sang istri sudah tiada.
Berbarengan dengan itu datang kabar bahwa sang adik pun meninggal dunia.
Risna Mokodongan, anak dari Biyo Mokoagow mengatakan tahu sang ibu meninggal dunia dari kabar di medsos.
"Ibu menonton drag race tersebut," kata dia.
Ia mengaku peristiwa tersebut seperti sulit dipercaya.
Sang ibu di usia tuanya masih sehat walafiat.
"Ia sangat sehat, sebelumnya sering pergi ke kebun, sebelum kejadian itu ia baru saja dari kebun," katanya.
1.Risna Longkun: Perempuan, Desa Bilalang Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow
2. Harianti Mokoginta: Perempuan, Bilalang 3, Kabupaten Bolaang Mongondow
3. Lisma Mokoginta: Perempuan, 38 tahun, Bilalang III, Kabupaten Bolaang Mongondow
4. Ali Ponamon: Laki-laki, 65 tahun, Desa Pontodon, Kota Kotamobagu
5. Bio Mokoagow: Perempuan, 74 tahun, Bilalang 3, Kabupaten Bolaang Mongondow
6. Nilawati Mokodongan: Perempuan, Pontodon Induk, Kota Kotamobagu
7. Rugaina Manangin: Perempuan, Bilalang, Kabupaten Bolaang Mongondow
8. Ali Jojang: Laki-laki, Bilalang 4, Kabupaten Bolaang Mongondow
Dirawat di RS Monompia, Kabupaten Bolaang Mongondow:
1.Murdani Pobela : Bilalang Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow (luka berat)
2.Arhan Mokoginta : Bilalang 3, Kabupaten Bolaang Mongondow (luka berat)
3.Rapiska Mokodongan : Genggulang (luka berat)
4.Enjelia Lito : Bilalang 3, Kabupaten Bolaang Mongondow (luka berat)
5.Prasetio Mokodongan : Pontodon, Kota Kotamobagu (luka ringan)
1.Nur Almira Pobela : Perempuan, Bilalang Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow (luka berat)
2.Hadi Toisi : Pangian Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow (luka berat)
3.Rina Longkun : Bilalang Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow (luka berat)
4. Muksin Dondo, Laki-laki, Pontodon Timur, Kota Kotamobagu (luka berat)
5. Djohar Mokoginta, Laki-laki
Kronologi Kejadian
Insiden maut tersebut terjadi pada drag bike yang berlangsung di Kelurahan Ipai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu.
Berjarak sekitar 184 km dari Kota Manado, ibu kota Sulawesi Utara.
Kejadian Minggu 9 Agustus 2026 sekitar pukul 16.00 WITA.
Turnamen ini tercatat diikuti 590 starter kelas sepeda motor dan 337 starter kelas mobil.
Sementara mobil yang mengalami kecelakaan tersebut diketahui adalah pebalap dari tim Pangeran 05 McJoe bernama Tian Ngantung.
Ia turun di kelas Free For All (FFA) menggunakan mobil Honda Jazz.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Tian awalnya melaju seperti biasa dalam lintasan balap.
Tidak terlihat adanya kendala saat mobil melaju menuju garis finis.
Namun, setelah melewati garis finis dan memasuki area pengereman sekitar 100 meter, mobil tersebut mengalami crash dan kemudian menabrak sejumlah penonton yang berdiri di sisi arena.
Benturan tersebut menyebabkan sejumlah penonton menjadi korban.
Pasca-insiden, pelaksanaan drag race di lokasi tersebut dihentikan.
Para korban kemudian dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Polisi juga sudah mengamankan mobil jenis Honda Jazz yang terlibat tragedi drag race.
Mobil milik tim Pangeran 05 McJoe yang dikendarai Tian Ngantung itu kini berada di Mapolres Kota Kotamobagu.
Ketua panitia drag race Lucky Sugeha sempat terlihat mendatangi para korban di RS.
Lucky Sugeha menegaskan siap bertanggungjawab atas musibah itu.
Ia juga akan menanggung sepenuhnya biaya pengobatan para korban di rumah sakit. (Art)