Update Korban Dugaan Keracunan MBG: Masuk RS Lagi, Sejumlah Siswa SMPN 3 Candimulyo Harus Opname
Yoseph Hary W August 12, 2026 11:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Tujuh dari puluhan siswa SMPN 3 Candimulyo Magelang yang mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus kembali masuk RSUD Merah Putih Magelang, Selasa (11/8/2026). 

‎‎Kepala Bidang Penunjang RSUD Merah Putih Magelang, drg. Rurit Obyantoro, menyampaikan dari tujuh siswa tersebut, empat orang telah mendapatkan perintah untuk menjalani rawat inap. Sementara tiga lainnya masih dalam tahap observasi.

Para siswa tersebut semula telah menjalani perawatan di RS karena mengalami mual, keinginan muntah, sakit perut, hingga pusing, setelah menyantap makanan MBG pada Jumat (7/8/2026). Dalam perkembangannya, para siswa diperbolehkan pulang karena dianggap sudah stabil. 

Namun seiring hari berganti, hasil pemantauan pihak sekolah menemukan kondisi sejumlah siswa belum pulih. Tercatat 7 siswa harus kembali mendapatkan penanganan medis di RSUD Merah Putih Magelang sejak Selasa. Mereka tiba di RS sekitar pukul 11.50 WIB.

Efek lanjutan

Rurit mengatakan keluhan yang disampaikan masih memiliki kemiripan dengan gejala yang muncul saat kejadian pertama pada Jumat.

‎“Ada sekitar tujuh orang yang masuk ke RSUD Merah Putih sementara ini, dengan keluhan masih sama seperti pada saat kejadian hari Jumat kemarin, yaitu mual, pusing. Tetapi ditambah sedikit demam, sekarang ada yang menggigil,” ujar Rurit.

‎Dari tujuh siswa tersebut, empat orang telah mendapatkan perintah untuk menjalani rawat inap. Sementara tiga lainnya masih dalam tahap observasi.

‎Rurit mengatakan kondisi tersebut diduga masih berkaitan dengan kejadian sebelumnya. Ia menyebut terdapat kemungkinan keluhan yang muncul kembali merupakan efek lanjutan dari dugaan intoksikasi makanan.

‎“Jadi kemungkinan ini adalah efek juga dari dugaan intoksikasi yang kemarin terjadi hari Jumat. Karena biasanya ada ulangan dari bakterinya,” jelasnya.

Penanganan di ruang rawat anak‎

‎Karena seluruh pasien masih berusia di bawah 18 tahun, mereka akan mendapatkan penanganan di ruang rawat anak.

‎“Karena ini anak-anak dan rata-rata masih di bawah 18 tahun, nanti kita masukkan ke ruang bangsal anak. Penanganannya di sekitar gejalanya, kemudian untuk penatalaksanaan efek bakterinya juga,” katanya.

‎Terapi diberikan berdasarkan kondisi masing-masing pasien, antara lain melalui pemberian cairan dan obat-obatan.

‎Rurit menjelaskan, keputusan memulangkan para siswa pada Jumat dilakukan karena kondisi mereka saat itu dinilai stabil.

“Pada saat kita pulangkan itu posisi pasien sudah stabil. Mual-muntahnya sudah hilang, keluhannya, gejalanya sudah hilang semua, dan aktivitas motoriknya juga sudah bagus,” jelasnya.

‎Namun, kondisi tersebut dapat berubah apabila terdapat proses infeksi dengan masa inkubasi tertentu.

‎“Memang ada masa inkubasinya dari bakteri itu yang mungkin muncul lagi dengan kondisi daya tahan tubuh siswa menurun, sehingga bisa naik lagi,” katanya.

Soal penyebab

Adapun, penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami para siswa masih belum dapat disimpulkan. Hasil pemeriksaan laboratorium terkait kejadian Jumat masih ditangani oleh Dinas Kesehatan.

‎Pihak rumah sakit juga belum melakukan pemeriksaan laboratorium khusus terhadap pasien karena saat kejadian sebelumnya tidak terdapat sampel muntahan yang dapat diambil dari pasien di rumah sakit.

‎RSUD Merah Putih memastikan kondisi siswa yang telah mendapatkan penanganan tetap dipantau. Koordinasi dilakukan bersama puskesmas dan wilayah setempat untuk mengantisipasi apabila muncul keluhan kembali.

‎“Kami bekerja sama dengan puskesmas dan wilayah setempat untuk melaporkan kalau terjadi perburukan atau kekambuhan lagi,” ujar Rurit.

‎Pihak rumah sakit juga masih memiliki catatan riwayat penanganan para siswa sejak kejadian pertama.

‎“Di rumah sakit kami juga sudah menyimpan riwayat penatalaksanaan mereka saat kejadian kemarin,” pungkasnya.

‎Kembalinya tujuh siswa ke rumah sakit menjadi perkembangan terbaru dalam kasus dugaan keracunan setelah konsumsi makanan MBG di SMPN 3 Candimulyo.

‎Sementara hasil pemeriksaan laboratorium masih ditunggu, sekolah bersama fasilitas kesehatan terus melakukan pemantauan terhadap siswa lain yang sebelumnya mengalami keluhan.

Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai penyebab munculnya gejala kesehatan yang dialami para siswa.

Keterangan dari sekolah

‎Kepala SMPN 3 Candimulyo, Erna Dwi Astuti, mengatakan pada Jumat terdapat 26 siswa dari kelas VII, VIII, dan IX yang mengalami keluhan dan mendapat penanganan medis.

‎“Jumat itu ada 26 siswa, baik putra maupun putri. Dari kelas 7 ada, kelas 8 maupun kelas 9. Sampai malam, dari 26 itu sudah bisa pulang semuanya dan diberi obat dari rumah sakit,” kata Erna, Selasa (11/8/2026).

‎Namun, kepulangan tersebut bukan berarti seluruh siswa telah benar-benar pulih. Menurut Erna, masih terdapat siswa yang mengaku kondisi tubuhnya belum kembali seperti semula.

‎“Dikatakan baik, tapi masih ada yang merasa belum sehat seperti sediakala. Tetapi dari pihak medis sudah dinyatakan layak dirawat di rumah, istirahat di rumah,” ujarnya.

Pemantauan‎

‎Selama Sabtu dan Minggu, pihak sekolah tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi para siswa. Pemantauan kembali diperketat setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung pada Senin (10/8/2026).

‎Pada Senin, terdapat enam siswa yang tidak masuk sekolah. Guru kemudian melakukan pengecekan untuk mengetahui kondisi mereka.

‎Beberapa siswa masih mengeluhkan mual dan pusing. Sekolah pun meminta mereka tetap beristirahat dan mengonsumsi obat yang telah diberikan dokter.

‎“Senin kami melakukan pressing kepada anak-anak, apa yang masih dirasakan bagi yang tidak masuk sekolah. Ada yang masih merasa mual, pusing. Kami sarankan tetap istirahat dan minum obat sampai habis,” jelas Erna.

‎Pemantauan dilanjutkan pada Selasa. Saat kembali melakukan absensi, sekolah menemukan sejumlah siswa masih belum masuk sekolah karena kondisi kesehatan belum membaik.

Cek langsung ke rumah siswa‎

‎Pihak sekolah kemudian tidak hanya menunggu informasi dari keluarga, tetapi mendatangi langsung rumah siswa.

‎“Hari ini kami tetap melakukan absensi kepada anak-anak, utamanya yang 26. Ternyata masih ada yang tidak masuk. Kemudian dari kami mendatangi ke rumah anak-anak dan melihat kondisinya, memang perlu untuk penuntasan pengobatan,” katanya.

‎Setelah melihat kondisi siswa, sekolah kemudian berkoordinasi dengan layanan ambulans desa maupun kecamatan untuk membawa mereka ke rumah sakit.

‎‎Dari tujuh siswa yang kembali mendapatkan penanganan medis, dua di antaranya direncanakan menjalani perawatan lebih lanjut. Sementara lima lainnya masih mendapat penanganan dan menunggu perkembangan kondisi setelah mendapatkan cairan infus.

‎Keluhan yang dirasakan antara lain mual, keinginan muntah, sakit perut, hingga pusing.(YRP)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.