Gelandangan di Pangkalpinang, Ada Potensi Eksploitasi Anak
Fitriadi August 12, 2026 12:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Akademisi Sosiologi Universitas Bangka Belitung (UBB) Dr Fitri Harahap mengatakan keberadaan gelandangan dan pengamen jalanan mulai semakin mudah ditemui di sejumlah titik keramaian di Kota Pangkalpinang.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak hingga perempuan yang membawa bayi juga terkadang terlihat berada di kawasan yang ramai kendaraan dan masyarakat.

Fitri Harahap menilai fenomena tersebut tidak selalu berdiri sendiri sebagai persoalan ekonomi.

Baca juga: Godaan Rp300.000 Sehari, Jalanan Pangkalpinang Menjadi Ladang Penghasilan

Ia mengingatkan adanya kemungkinan praktik eksploitasi hingga pola pengorganisasian terhadap pengemis dan pengamen, terutama ketika aktivitas tersebut melibatkan anak-anak.

Menurutnya, perkembangan sebuah kota memang dapat memunculkan kelompok masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi.

Namun, ketika aktivitas mengemis dan mengamen dilakukan secara terorganisasi atau melibatkan kelompok rentan seperti anak-anak, persoalannya menjadi lebih kompleks.

Bangka Pos, Rabu (12/8/2026)
Bangka Pos, Rabu (12/8/2026) (Bangka Pos)

"Kalau yang pertama, ini memang konsekuensi dari perkembangan kota," kata Fitri Harahap saat diwawancara Bangkapos.com.

Fitri menyoroti, ada masyarakat yang datang dengan harapan mendapatkan pekerjaan, tetapi ternyata tidak mudah memperoleh pekerjaan yang layak.

Akhirnya, dengan kemampuan dan pendidikan yang terbatas, mereka mencari pekerjaan yang dianggap paling mudah, salah satunya mengemis.

Kondisi tersebut kemudian dapat berkembang ketika aktivitas mengemis dianggap mampu menghasilkan uang secara cepat.

"Ketika lahan itu dirasa mudah untuk mencari uang, akhirnya muncul orang-orang yang melihat bahwa mengemis ini bisa menghasilkan. Kemudian ada yang mengorganisasi orang lain untuk melakukan hal yang sama," kata Fitri Harahap.

Fitri mengatakan, lokasi para pengemis dan pengamen yang cenderung berada di titik-titik tertentu juga memiliki alasan tersendiri.

Mereka biasanya memilih tempat yang banyak orang berhenti atau berkumpul, seperti persimpangan lampu lalu lintas, pasar maupun kawasan pusat keramaian.

"Kalau di traffic light, orang berhenti. Kalau di pasar, orang berkumpul. Di alun-alun juga ramai. Jadi mereka mendatangi tempat yang memang sudah ada banyak orang," ungkap Fitri.

Secara sosiologis, kata Fitri, ketika satu orang memberi, yang lain melihat dan kemudian ikut merasa kasihan. Akhirnya ikut memberikan. Itu yang kemudian membuat aktivitas tersebut terus bertahan.

Fitri mengatakan, masyarakat kita memang diajarkan untuk peduli dan membantu orang yang kesulitan. 

"Ada orang yang terlihat miskin, cacat, membawa anak, kemudian muncul rasa kasihan. Itu manusiawi," katanya.

Namun, lanjut Fitri, Kalau kita merasa tidak yakin, jangan dipaksakan untuk memberikan. 

"Karena kalau terus diberikan, tanpa disadari kita juga bisa menyuburkan perilaku seperti itu," ujarnya.

Perhatian lebih serius, kata Fitri perlu diberikan ketika aktivitas mengemis atau mengamen melibatkan anak-anak.

Ia mempertanyakan alasan anak usia sekolah justru berada di jalan pada jam belajar dan harus mencari uang.

"Kalau anak usia sekolah ada di jalan pada pagi hari, pertanyaannya mereka sekolah atau tidak."

"Kemudian siapa yang memastikan keselamatan mereka? Karena berada di jalan, apalagi di traffic light, tentu ada risiko terhadap kesehatan dan keselamatan anak," kata Fitri.

Menurut Fitri, keterlibatan anak dalam aktivitas tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan ekonomi keluarga.

Ada aspek perlindungan anak yang juga harus diperhatikan. Anak-anak seharusnya dilindungi. Mereka punya hak untuk sekolah, mendapatkan kesehatan dan berada di lingkungan yang aman.

Ketika sejak kecil dia sudah mendapatkan uang dari jalan, lama-lama bisa muncul dalam pikirannya bahwa saya bisa mencari uang tanpa sekolah. Ini yang harus kita cegah.

Fitri menegaskan, kalau memang ada orang yang mengorganisasi, itu sudah menjadi persoalan yang berbeda. Bukan lagi sekadar kemiskinan, tetapi sudah masuk pada persoalan eksploitasi.

"Jangan hanya dilihat dari orang yang berada di jalan. Harus dilihat keluarganya bagaimana, lingkungannya bagaimana, apakah anaknya sekolah atau tidak, kemudian apakah ada pihak lain yang memanfaatkan mereka," kata Fitri. 

"Kalau memang ada masyarakat yang kesulitan ekonomi, tentu harus dibantu. Tetapi bantuan itu harus diberikan melalui cara yang tepat, sehingga tidak membuat mereka terus bergantung pada aktivitas mengemis atau mengamen di jalan," kata Fitri Harahap. (x1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.