- Negara-negara Teluk yang selama ini menjadi sekutu Amerika Serikat mulai mengubah sikap terhadap Iran.
Mereka disebut mulai menerima pengaruh Iran di Selat Hormuz demi menghindari eskalasi militer yang lebih besar.
Pilihan itu muncul karena konflik berisiko menghantam langsung infrastruktur energi negara-negara Teluk.
Padahal, kawasan tersebut sangat bergantung pada kelancaran ekspor minyak dan gas melalui jalur strategis Hormuz.
Sebelum konflik, sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Kini, aktivitas pelayaran turun tajam setelah serangkaian serangan Iran mengganggu lalu lintas kapal.
Data Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah melalui Hormuz hanya sekitar 2,2 juta barel per hari.
Angka tersebut turun drastis dari sekitar 8,5 juta barel per hari yang tercatat sebulan sebelumnya.
Negara-negara Teluk sebenarnya sudah berusaha mencari jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz.
Arab Saudi menggunakan pipa menuju Laut Merah, sedangkan Uni Emirat Arab mengandalkan jalur darat dan rute pelayaran tertentu.
Namun, jalur alternatif itu juga tidak sepenuhnya aman dari ancaman kelompok yang bersekutu dengan Iran.
Houthi dilaporkan menyerang pengiriman minyak Saudi, sementara sejumlah kapal energi UEA turut terkena rudal dan drone.
Adnoc menyebut empat kapalnya terkena serangan dalam satu pekan terakhir, dengan total 16 kapal terdampak sejak perang dimulai.
Iran juga memperingatkan fasilitas energi Teluk dapat menjadi sasaran jika AS kembali meningkatkan eskalasi.
Kondisi ini membuat negara-negara Teluk menghadapi pilihan sulit di tengah ketidakjelasan strategi AS.
Mereka akhirnya dinilai lebih memilih mengakomodasi sebagian tuntutan Iran, daripada mengambil risiko perang.
Program: Tribun Video Update
Host: Feba Fadhiliana
Editor Video: Aura Dewi Arafuru
Uploader: bagus gema praditiya sukirman