Unggahan content creator Fahira Almira yang berobat radang usus buntu ke Penang menuai kontroversi belakangan ini. Banyak yang menilai, unggahan tersebut menyudutkan dokter-dokter Indonesia lantaran memberikan diagnosis berbeda.
Menyikapi hal tersebut, pakar kesehatan masyarakat dr Dicky Budiman menilai, konten yang diunggah oleh TikToker Fahira problematik secara etik karena mengandung asimetri informasi.
Ia pun menilai, posisi Fahira sebagai seorang pemengaruh () juga rentan disponsori oleh faskes luar negeri.
"Publik berpotensi hanya mendapatkan satu cerita dari pihak pasien saja. Selain itu, ada kemungkinan motif komersial. Konten itu memang rentan disponsori oleh fasilitas kesehatan luar negeri untuk menarik pasien," katanya.
dr Dicky berpendapat, konten tersebut dapat memengaruhi persepsi publik mengenai fasilitas dan tenaga kesehatan di Indonesia, meskipun Fahira sebagai pasien memiliki hak untuk mendapatkan pendapat kedua dari tenaga medis lainnya soal diagnosis kesehatan.
"Jadi, secara etika hak pasien atas pendapat kedua atau second opinion adalah hak yang sah, dijamin itu haknya secara etik medis universal. Tidak ada yang salah itu, termasuk lintas negara. Tapi, mempublikasikan perbandingan diagnosis secara sensasional di media sosial tanpa menyertakan rekam medis lengkapi dan konteks klinis penuh itu yang berisiko mencemarkan nama fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang tidak bisa membela diri tadi karena kode etik," ujar dr Dicky kepada detikcom dalam wawancara pada Selasa (11/8/2026).
Terakhir, dr Dicky mendorong investigasi oleh Kementerian Kesehatan terhadap kasus ini, supaya masyarakat awam dapat teredukasi soal kode kedokteran medis dan kritik berbasis fakta medis.
"Satu hal juga yang penting untuk diketahui ya secara etis , literasi kesehatan publik Indonesia juga kan jadi korban di sini karena masyarakat awam akhirnya menyimpulkan dokter Indonesia asal-asalan hanya dari angka 8,1 milimeter tadi tanpa memahami kompleksitas kriteria diagnostik yang sebenernya multifaktorial," kata dr Dicky.
"Saran saya, ya, investigasi resmi dari Kemenkes supaya ada langkah yang proporsional Dan tepat ya untuk memverifikasi apakah ini kritik jujur berbasis fakta medis atau kampanye komersial terselubung," imbuhnya.
Konten Berobat ke Penang Berujung Gaduh
Kreator TikTok Fahira Almira membagikan pengalamannya menjalani pemeriksaan usus buntu di rumah sakit Penang, Malaysia, beberapa waktu lalu. Dalam video yang dibagikan di TikTok-nya, Fahira bercerita bahwa terdapat perbedaan diagnosis antara tiga rumah sakit di Indonesia dan rumah sakit tempatnya menjalani pemeriksaan di Penang.
Di tiga rumah sakit di Indonesia, Fahira mendapatkan diagnosis radang usus buntu (apendisitis) karena ukuran usus buntunya sudah berdiameter 8,1 milimeter, lebih besar daripada ukuran usus buntu normal yang hanya berdiameter 6-7 milimeter. Oleh karenanya, dokter yang menanganinya di Indonesia menyarankan untuk segera mengambil tindakan operasi.
Berbeda dengan diagnosis dari rumah sakit di Indonesia, RS di Penang menyatakan bahwa Fahira tidak mengalami apendisitis atau pembengkakan di usus buntunya, melainkan yang bermasalah adalah usus besar.
Konten yang diunggahnya di TikTok pada Minggu (9/8) tersebut sontak menimbulkan reaksi beragam dari warganet. Banyak di antaranya yang menduga bahwa Konten yang diunggah Fahira adalah black campaign terhadap faskes di Indonesia. Tak hanya itu, ia dituding mendapat endorsement dari RS di Penang.
Saat Ini, konten radang usus buntu yang diunggah Fahira sudah mencapai lebih dari 5 juta tayangan dengan hampir 10 ribu komentar.





