Purbaya dan Bahlil Kaji Larangan Mobil Mewah Pakai Pertalite Demi BBM Subsidi Tepat Sasaran
Amalia Husnul A August 12, 2026 01:09 PM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Pemerintah mulai mengkaji pembatasan penyaluran subsidi bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertalite, bagi masyarakat berpenghasilan tinggi.

Pembahasan mengenai kebijakan tersebut berlangsung dalam pertemuan antara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Kementerian Keuangan, Selasa (11/8/2026).

Purbaya mengungkapkan, pertemuan tersebut salah satunya membahas kemungkinan pembatasan subsidi Pertalite untuk kelompok masyarakat yang dinilai memiliki kemampuan ekonomi lebih tinggi.

Tujuannya agar skema subsidi energi lebih tepat sasaran dan anggaran negara tidak dinikmati oleh kelompok yang sebenarnya mampu membeli BBM nonsubsidi.

Baca juga: Harga BBM Pertamina Hari Ini 12 Agustus 2026, Polres Kutim Periksa Barcode dan STNK di SPBU Sangatta

"Pertalite itu kan sedang kita kaji untuk orang-orang yang berpenghasilan tinggi," ujar Purbaya.

Jenis BBM dan Kendaraannya 

Sementara itu, Bahlil menegaskan bahwa pembatasan subsidi ke depannya tidak semata-mata akan didasarkan pada jenis BBM yang digunakan. 

Pemerintah juga akan mempertimbangkan jenis kendaraan serta kemampuan ekonomi pemilik kendaraan.

Pendekatan ini dinilai sangat diperlukan agar subsidi energi tidak salah sasaran.

Bahlil menilai, kendaraan-kendaraan mewah seharusnya tidak lagi mengonsumsi BBM bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan pemerintah.

"Kendaraan mewah tidak semestinya menggunakan BBM bersubsidi," kata Bahlil.

Dengan skema yang lebih selektif ini, kendaraan dengan kapasitas atau kategori tertentu serta pemiliknya yang memiliki kemampuan ekonomi tinggi berpotensi tidak lagi mendapatkan akses terhadap subsidi Pertalite.

Meski demikian, pemerintah menyadari masih perlu mematangkan mekanisme penerapannya.

Kriteria teknis mengenai jenis kendaraan dan batasan kemampuan ekonomi harus dirancang secara detail, dengan mempertimbangkan aspek administrasi dan pengawasan di lapangan agar kebijakan ini tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat.

Pembahasan antara Purbaya dan Bahlil ini menunjukkan bahwa pemerintah sedang mencari formula terbaik untuk menyeimbangkan dua kepentingan: menjaga agar subsidi energi tetap tersedia bagi masyarakat yang membutuhkan, sekaligus menekan potensi pemborosan anggaran negara oleh kelompok yang sebenarnya mampu.

Harga BBM 

Harga BBM hari ini Rabu 12 Agustus 2026 masih berdasarkan harga yang dirilis PT Pertamina Patra Niaga pada 1 Agustus 2026. 

Pertamina menyesuaikan harga BBM nonsubsidi mulai 1 Agustus 2026.

Kebijakan ini berlaku di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina dengan besaran harga yang berbeda di tiap daerah.

Sementara harga BBM subsidi jenis Pertalite dan Biosolar dipatok sama di seluruh Indonesia.

Pemerintah masih mengunci harga Pertalite sebesar Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter di seluruh SPBU Pertamina di Indonesia.

Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi

Harga BBM Nonsubsidi di Indonesia bervariasi. 

Salah satu faktor yang memengaruhi perbedaan harga tersebut adalah Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB), yaitu pungutan daerah yang dikenakan atas penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor.

Besarannya ditetapkan sesuai ketentuan masing-masing provinsi.

Menurut Pertamina Patra Niaga, penurunan harga BBM nonsubsidi dilakukan dengan mempertimbangkan tren harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta kebijakan pemerintah.

Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, penyesuaian harga BBM Non-Subsidi Pertamina dilakukan mengikuti tren harga rata-rata harga minyak dunia serta mempertimbangkan nilai tukar rupiah sesuai ketentuan yang berlaku.

“Penyesuaian harga BBM Non-Subsidi dilakukan mengikuti ketentuan dan arahan pemerintah dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta tetap memperhatikan daya beli masyarakat.

Langkah ini juga merupakan bagian dari upaya menjaga ketersediaan pasokan BBM nasional agar tetap terjamin bagi masyarakat,”  ujar Kitty.

Update Daftar Harga BBM

Berikut daftar harga BBM Pertamina per 1 Agustus 2026 di seluruh SPBU Indonesia:

Provinsi Aceh

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Free Trade Zone (FTZ) Sabang

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp14.950
Dexlite: Rp18.450
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Sumatera Utara

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Sumatera Barat

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.650 
Pertamax Turbo: Rp 19.100 
Dexlite: Rp 20.550 
Pertamina Dex: Rp 22.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Riau

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.650 
Pertamax Turbo: Rp 19.100 
Dexlite: Rp 20.550 
Pertamina Dex: Rp 22.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Kepulauan Riau

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.650 
Pertamax Turbo: Rp 19.100 
Dexlite: Rp 20.550 
Pertamina Dex: Rp 22.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Free Trade Zone (FTZ) Batam

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 15.150 
Pertamax Turbo: Rp 17.400 
Dexlite: Rp 18.700 
Pertamina Dex: Rp 20.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Jambi

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Bengkulu

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Sumatera Selatan

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Bangka Belitung

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Lampung

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi DKI Jakarta

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 15.950 
Pertamax Turbo: Rp 18.300
Pertamax Green 95: Rp 16.600 
Dexlite: Rp 19.700 
Pertamina Dex: Rp 21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Banten

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 15.950 
Pertamax Turbo: Rp 18.300 
Pertamax Green 95: Rp 16.600 
Dexlite: Rp 19.700 
Pertamina Dex: Rp 21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Jawa Barat

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 15.950 
Pertamax Turbo: Rp 18.300 
Pertamax Green 95: Rp 16.600 
Dexlite: Rp 19.700 
Pertamina Dex: Rp 21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Jawa Tengah

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 15.950 
Pertamax Turbo: Rp 18.300 
Pertamax Green 95: Rp 16.600 
Dexlite: Rp 19.700 
Pertamina Dex: Rp 21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi DI Yogyakarta

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 15.950 
Pertamax Turbo: Rp 18.300 
Pertamax Green 95: Rp 16.600 
Dexlite: Rp 19.700 
Pertamina Dex: Rp 21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Jawa Timur

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 15.950 
Pertamax Turbo: Rp 18.300 
Pertamax Green 95: Rp 16.600 
Dexlite: Rp 19.700 
Pertamina Dex: Rp 21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Bali

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 15.950 
Pertamax Turbo: Rp 18.300 
Dexlite: Rp 19.700 
Pertamina Dex: Rp 21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Nusa Tenggara Barat

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 15.950 
Pertamax Turbo: Rp 18.300 
Dexlite: Rp 19.700 
Pertamina Dex: Rp 21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Nusa Tenggara Timur

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 15.950 
Pertamax Turbo: Rp 18.300 
Dexlite: Rp 19.700 
Pertamina Dex: Rp 21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Kalimantan Barat

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Kalimantan Tengah

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Kalimantan Selatan

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.650 
Pertamax Turbo: Rp 19.100 
Dexlite: Rp 20.550 
Pertamina Dex: Rp 22.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Kalimantan Timur

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Kalimantan Utara

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.650 
Pertamax Turbo: Rp 19.100 
Dexlite: Rp 20.550 
Pertamina Dex: Rp 22.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Sulawesi Utara

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Gorontalo

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Sulawesi Tengah

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Sulawesi Tenggara

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Sulawesi Selatan

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Sulawesi Barat

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Pertamina Dex: Rp 21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Maluku

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Dexlite: Rp19.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Maluku Utara

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Dexlite: Rp19.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Papua

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Turbo: Rp 18.700 
Dexlite: Rp 19.100 
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Papua Barat

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Dex: Rp 21.650 
Dexlite: Rp 19.100 
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Papua Selatan

Pertamax: Rp12.600
Pertalite: Rp16.300
Dexlite: Rp19.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Papua Pegunungan

Pertamax: Rp12.600
Pertalite: Rp16.300
Dexlite: Rp19.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Papua Tengah

Pertamax: Rp12.600
Pertalite: Rp16.300
Dexlite: Rp19.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Provinsi Papua Barat Daya

Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp 16.300 
Pertamax Dex: Rp 21.650 
Dexlite: Rp 19.100 
Biosolar Subsidi: Rp6.800

Baca juga: Kemarau Bikin Debit Sungai Mahakam Turun, Pertamina Optimalkan Distribusi BBM ke Mahakam Ulu

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.