Kesbangpol Kota Cirebon Optimalkan Narasumber Internal demi Efisiensi Anggaran Paskibraka
taufik ismail August 12, 2026 01:11 PM

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto


TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Efisiensi anggaran ikut mengubah pola penggemblengan 32 calon Paskibraka Kota Cirebon 2026.

Kesbangpol Kota Cirebon kini tak lagi leluasa menghadirkan narasumber profesional berhonor, tetapi kebutuhan makan dan kesehatan peserta tetap diprioritaskan.

Kepala Kesbangpol Kota Cirebon, Eli Haryati, mengatakan efisiensi anggaran membuat pihaknya harus mencari strategi agar program pemusatan calon Paskibraka tetap berjalan optimal.

Menurut Eli, salah satu pos yang terkena dampak efisiensi adalah honor narasumber profesional.

Padahal, sebelumnya Kesbangpol berencana menghadirkan narasumber profesional untuk memberikan pembekalan kepada para calon Paskibraka, terutama terkait kemampuan menjadi teladan dan public speaking.

“Kalau dengan efisiensi ini kan honor terpaksa ditarik, tidak ada. Ya kita juga kan enggak mungkin memanggil profesional enggak dibayar,” ujar Eli saat diwawancarai di kantornya, Rabu (12/8/2026).

Sebagai gantinya, Kesbangpol mengoptimalkan narasumber dari lingkungan pemerintah daerah, seperti jajaran SKPD, maupun pihak lain yang bersedia memberikan materi tanpa honor.

“Ya akhirnya kita pindah ke para SKPD atau narasumber lain yang dengan ikhlas hati tidak berbayar tapi optimal,” ucapnya.

Menu Makan Justru Tetap Diprioritaskan

Meski anggaran diperketat, Eli memastikan kebutuhan makanan para calon Paskibraka tidak menjadi sasaran utama penghematan.

Menurutnya, makanan berkaitan langsung dengan kondisi fisik dan daya tahan tubuh peserta yang setiap hari menjalani latihan.

“Kita lebih mengutamakan pada menu, pada ekstra puding, karena itu kan menyangkut banget,” jelas dia.

Ia mengakui, dengan keterbatasan anggaran, program yang diberikan kepada peserta memang tidak bisa seleluasa ketika belum dilakukan efisiensi.

Namun, pihaknya berusaha mencari bagian lain yang dapat dihemat tanpa mengganggu kebutuhan utama peserta.

“Dengan ada efisiensi tapi pekerjaan bisa optimal,” katanya.

Eli menegaskan, kebutuhan makan peserta selama pemusatan tetap diupayakan terpenuhi.

Untuk makan siang dan sore, makanan disediakan oleh panitia. Sementara sarapan pagi sebelum peserta mengikuti kegiatan pemusatan dilakukan dengan cara berbeda.

Para calon Paskibraka diminta membawa sarapan sendiri dari rumah. Bukan sekadar membawa, makanan yang dibawa peserta juga diperiksa oleh panitia.

“Dicek, dilihat menunya dan enggak boleh enggak ada yang enggak bawa sarapan,” katanya.

Dengan pola tersebut, kebutuhan makan peserta tetap terjaga meski terdapat keterbatasan anggaran.

“Jadi kita berusaha dengan efisiensi ini tetap memberikan yang paling baik lah, yang paling maksimal,” ujar Eli.

Bukan Hanya Soal Makan

Efisiensi anggaran tersebut dilakukan ketika 32 calon Paskibraka sedang menjalani pemusatan melalui program yang disebut ‘Desa Bahagia’.

Di tempat ini, para calon Paskibraka tidak hanya ditempa kemampuan baris-berbaris, tetapi juga mental, disiplin, karakter dan kekompakan.

Eli mengatakan, pada tahap pemusatan, kemampuan individu bukan lagi menjadi satu-satunya ukuran.

Justru seluruh peserta harus mampu menjadi satu kesatuan pasukan.

“Kalau pada awal tahap seleksi yang dicari adalah siapa yang memenuhi syarat, nah, pada pemusatan ini calon Paskibraka sudah lebih fokus menjadi bagaimana 32 orang ini menjadi satu kesatuan pasukan,” ucapnya.

Kekompakan menjadi penting karena kesalahan satu anggota dapat memengaruhi penampilan seluruh pasukan.

“Soalnya kalau tidak jadi satu kesatuan pasukan, satu salah, ya sudah, salah semua,” ucap dia.

32 Calon Paskibraka Terpilih dari 212 Pendaftar

Sebanyak 32 calon Paskibraka Kota Cirebon tersebut sebelumnya harus melewati proses seleksi yang diikuti ratusan pelajar.

Kesbangpol mencatat 212 siswa dari 19 SMA, SMK, dan MA negeri maupun swasta membuat akun untuk mengikuti seleksi Paskibraka 2026.

Peserta terdiri dari 104 putra dan 108 putri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 182 peserta melengkapi berkas persyaratan.

Setelah verifikasi, 88 siswa putra dan 94 siswa putri dinyatakan lulus seleksi administrasi. Sementara 11 peserta tidak lulus seleksi administrasi dan 19 lainnya tidak melengkapi berkas pendaftaran.

Pendaftaran bahkan sempat diperpanjang karena jumlah pendaftar putri yang memenuhi persyaratan tinggi badan belum mencukupi kebutuhan.

“Untuk pendaftar putri yang tinggi badannya memenuhi persyaratan masih kurang dari jumlah kebutuhan Paskibraka di Kota Cirebon,” kata Eli.

Perpanjangan pendaftaran dilakukan pada 30 Maret hingga 3 April 2026.

Hasil akhirnya, 32 peserta terpilih sebagai calon Paskibraka tingkat Kota Cirebon.

Dua peserta lainnya dikirim untuk mengikuti proses seleksi Paskibraka tingkat Jawa Barat.

Tinggal di ‘Desa Bahagia’

Setelah melalui tahapan seleksi, pra-diklatsar hingga Persami, para calon Paskibraka memasuki tahap pemusatan.

Pemusatan menggunakan sistem yang disebut ‘Desa Bahagia’, yakni lokasi pendidikan, pelatihan, dan karantina tempat peserta tinggal bersama.

Di Kota Cirebon, pemusatan berlangsung di sebuah hotel di Jalan Pamitan, sedangkan latihan dipusatkan di lapangan Stadion Bima.

“Di Desa Bahagia ini, dalam pemusatan Diklatsar Paskibraka, peserta tinggal bersama di satu lokasi dan dengan menerapkan sistem Desa Bahagia,” kata Eli.

Selama pemusatan, mereka menjalani aktivitas secara teratur untuk membentuk karakter, kedisiplinan, kebersamaan, kepemimpinan serta pengamalan nilai-nilai Pancasila.

“Pada hari-hari terakhir ini yang sangat menentukan bukan lagi kemampuan individu, tetapi kekompakan, ketepatan gerakan, disiplin, stamina, mental, dan kemampuan mengikuti seluruh rangkaian prosesi tanpa ada kesalahan,” ujarnya.

Baca juga: ‘Satu Salah, Salah Semua’, Begini Kerasnya Penggemblengan 32 Paskibraka Cirebon di ‘Desa Bahagia’

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.