Mourinho membuka kotak hitam: perang dengan Barcelona dan mata-mata di ruang ganti
Hendra Wijaya August 12, 2026 01:58 PM

Mourinho membuka kotak hitam: perang dengan Barcelona dan mata-mata di ruang ganti

Pelatih asal Portugal itu tidak melupakan benturannya dengan Casillas dan para pemain kesayangan di Real Madrid.

José Mourinho kembali membuka salah satu bab paling kontroversial dalam kariernya. Sebuah dokumenter baru tentang pelatih Portugal tersebut, yang dirilis pada Selasa melalui Netflix, meninjau kembali sejumlah peristiwa dari periode pertamanya bersama Real Madrid, dengan sorotan khusus pada hubungannya dengan kapten klub saat itu, Iker Casillas.

Dalam dokumenter itu, Mourinho mengenang pertemuan-pertemuan pertamanya dengan Casillas, momen-momen yang dengan cepat membuatnya yakin bahwa ruang ganti Real Madrid memiliki kebiasaan yang tidak siap ia terima atau sesuaikan.

"Saya sadar dalam waktu singkat bahwa mereka dimanjakan"

Mourinho mengungkapkan bahwa tiga percakapan pertamanya dengan Casillas langsung meninggalkan kesan yang sangat jelas. Dalam percakapan pertama, kapten Real Madrid itu meminta waktu libur tambahan bagi para pemain tim nasional Spanyol. Dalam percakapan kedua, ia meminta agar sesi latihan diundur satu jam karena kemacetan lalu lintas di Madrid. Percakapan ketiga berkaitan dengan keinginan tim untuk tidak pergi ke hotel sebelum pertandingan, melainkan langsung berkumpul di stadion.

Mourinho berkata: "Saya sadar dalam waktu singkat bahwa mereka dimanjakan."

Kalimat itu merangkum kesan yang dibawa pulang pelatih Portugal tersebut tentang ruang ganti Real Madrid. Ucapan itu juga menjelaskan sebagian dari filosofinya ketika mengambil alih tim pada 2010. Ia mewarisi skuad yang dipenuhi bintang, dan ia percaya tugasnya bukan mengajari mereka cara bermain sepak bola, melainkan menerapkan metodologi dan disiplin secara bersamaan.

Real Madrid dan Barcelona: ini perang!

Dokumenter itu juga kembali membahas perseteruan terkenal antara Mourinho dan Casillas. Konflik tersebut meledak setelah kiper Real Madrid itu menelepon kapten Barcelona, Xavi Hernández, untuk mencoba meredakan ketegangan antara kedua kubu, ketika panasnya El Clasico ikut merembet ke lingkungan tim nasional Spanyol.

Casillas mendapati dirinya terjebak di tengah situasi itu. Ia menjadi kapten Real Madrid dan Spanyol secara bersamaan, dan benturan loyalitas tersebut membuatnya sangat tidak nyaman. "Anda menghadapi rekan satu tim Anda yang menjadi musuh Anda di lapangan sepak bola, lalu mereka kembali menjadi rekan satu tim Anda di tim nasional. Saya tidak suka melihat itu dan saya mengatakan hal tersebut kepada pelatih," katanya.

Mourinho memandangnya dengan cara yang sepenuhnya berbeda. Baginya, menjaga rivalitas tetap membara adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar selama kedua klub memburu trofi yang sama.

"Saya mengatakan kepada mereka: ini adalah bentrokan Barcelona dan Real Madrid. Ketika Anda pergi ke tim nasional, Anda boleh saling berciuman, tetapi tidak sekarang. Ini perang. Ada hal-hal yang tidak saya terima dan tidak akan pernah saya terima. Dan ketika seseorang tidak menghormati saya, itu berubah menjadi masalah," ujarnya.

Mourinho kehilangan kesabaran: kisah mata-mata di ruang ganti

Dokumenter itu juga meninjau kembali salah satu insiden paling meledak pada masa tersebut: bocornya informasi dari dalam ruang ganti ke media.

Mourinho menginginkan kendali penuh atas segala hal yang berkaitan dengan tim. Lalu salah satu susunan pemainnya bocor, dan pelatih Portugal itu bereaksi dengan kemarahan besar.

Casillas mengenang suasana di dalam ruang ganti dengan mengatakan: "Dia kehilangan kesabaran. Dia masuk dan mulai melontarkan segala macam hinaan kepada kami, lalu mengatakan semuanya kepada kami. Dia bilang kamilah yang bertanggung jawab atas apa yang sedang terjadi."

Menurut mantan kapten Real Madrid itu, Mourinho bahkan melangkah lebih jauh dengan memukul sebuah botol dan membanting pintu kantornya hingga tertutup.

Insiden-insiden ini penting bukan hanya karena nostalgia terhadap era yang kontroversial. Ucapan Mourinho kini memiliki bobot baru karena ia telah kembali untuk memimpin Real Madrid. Sekali lagi ia menghadapi skuad yang dipenuhi nama-nama besar, dan sekali lagi ia harus mengelola para bintang, hierarki kepemimpinan, serta benturan kepribadian di ruang ganti. Tugas itu tampak sangat mirip dengan yang ia hadapi pada periode pertamanya.

Pengalaman sebelumnya memperjelas satu hal. Ia masih percaya pada penerapan kontrol dan disiplin, serta tidak pernah melonggarkan cengkeramannya terhadap tim.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.