TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU -- Pemilik usaha kantin sekolah di Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) mengeluhkan omzetnya menurun sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) beroperasional.
Salah satunya dirasakan oleh Ani, penjual makanan ringan di Kantin SMK Negeri 1 Lubuklinggau yang mengaku merasakan dampak tersebut.
Ani, penjaga kantin yang biasa disebut Kantin Pemadam Kelaparan SMKN 1 Lubuklinggau ini, mengaku akibat dampak program MBG pendapatan jualannya turun hingga 50 persen.
"Untuk pendapatan sejak ada MBG ini turun 50 persen, Pak, karena siswa sekarang sudah banyak makan MBG," ujar Ani kepada TribunSumsel.com, Rabu (12/8/2026).
Ani mengungkapkan, jajanan yang ia jual di antaranya ayam tepung, dimsum, ayam pedas, tahu bakso, sosis, hingga pentol pangsit.
Semua jajanan yang dijualnya dihargai Rp1.000-an, kecuali untuk ayam tepung harganya Rp2.000, karena harga ayam sedang tinggi.
Namun, yang paling banyak dibeli siswa rata-rata ayam tepung, terutama saat lauk dari MBG dirasa kurang enak oleh siswa.
"Kalau lauknya kurang enak baru jualan kami ini banyak laku, karena para siswa banyak beli ayam chicken sebagai lauk penggantinya," ungkapnya.
Diperparah saat ini semua bahan pokok mengalami kenaikan, untuk menutupi kerugian mereka terpaksa pernah menaikkan harga.
Namun, akibat dampak menaikkan harga tersebut justru pembeli malah turun drastis, dan akhirnya kembali lagi ke harga awal.
"Kami sempat naikkan harga tapi jualan kami malah drop, langsung sepi, akhirnya kami kembalikan lagi ke harga awal," ungkapnya.
Sementara Rina, pedagang jajanan kecil lainnya, akibat dampak MBG terpaksa melakukan beberapa perubahan terutama pada menu yang dijual.
Hal ini melainkan untuk mencegah siswa agar tak bosan dengan jenis jajanan yang sama setiap hari.
Karena itu, ia mengaku tidak terlalu khawatir dengan keberadaan program MBG. Sebagai penjual makanan ringan ia selalu berupaya menyesuaikan diri dengan kebijakan sekolah.
"Jadi, agar tak merugi kami melakukan perubahan menu lebih didasari pada kebutuhan variasi dan selera anak-anak. Jadi kalau ada menu yang berbeda bukan karena penurunan penjualan akibat MBG," ujarnya.
Rina pun menambahkan harga jual tidak mengalami perubahan, karena kenaikan justru bisa membuat penjualan turun lebih jauh.
Untuk menutup kebutuhan harian, pedagang tersebut kini juga aktif menjual secara daring dan menerima pesanan nasi box di luar jam sekolah.
"Kalau kami sih tetap bersyukur, anak-anak masih banyak yang jajan. Tapi mungkin beda cerita bagi pedagang makanan berat di sekolah lain yang tidak mewajibkan siswa membawa bekal," ungkapnya.
Ikuti dan Bergabung di Saluran WhatsApp TribunSumsel.com