Ironi Embung Julantoro, Potensi Besar Ruang Publik yang Terabaikan
Joko Widiyarso August 12, 2026 03:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Embung Julantoro yang berlokasi di Panggungharjo, Sewon, Bantul, menyimpan potensi besar sebagai ruang publik dan area rekreasi di tengah kawasan yang semakin padat.

Tidak ada keramaian layaknya tempat rekreasi keluarga atau ruang publik terkelola lainnya di tengah kota.

Padahal, secara lokasi, embung ini memiliki area yang luas dan strategis untuk dijadikan tempat berkumpul warga sekitar.

Kurangnya pengelolaan dari pihak terkait membuat area tersebut seakan terabaikan.

Saat ini, Embung Julantoro lebih banyak dimanfaatkan oleh sejumlah warga mencari angin sore atau sekadar memancing.

Kevin, salah satu pengunjung embung, membenarkan kondisi lengang tersebut.

"Hitungane sepi sih iki," ucapnya.

Ia menyayangkan lambatnya langkah pengelolaan dari pihak yang berwenang, padahal tempat tersebut memiliki peluang besar untuk berkembang secara ekonomi.

Cukup dengan mengizinkan pelaku usaha kecil yang biasa berdagang di pinggir jalan, suasana bisa langsung berubah drastis.

 "Ini sebenernya tinggal ada orang.. orang punya coffee street iku dibawa ke sini rame lho harusnya," ujar Kevin.

Terkait fasilitas penerangan yang saat ini minim saat malam hari, Kevin menilai hal itu bukan alasan utama untuk menelantarkan embung.

Konsep tempat nongkrong kasual anak muda tidak selalu membutuhkan lampu jalan yang terang benderang.

Hal ini menunjukkan bahwa warga sekitar sebenarnya siap meramaikan Embung Julantoro dengan standar kenyamanan yang sederhana, asalkan ada inisiatif pengelolaan yang jelas.

Di sisi lain, tidak adanya pengelolaan komersial ini justru menciptakan situasi unik.

Ruang embung yang sepi dan tidak terurus ini akhirnya beralih fungsi menjadi tempat beristirahat bagi warga yang penat bekerja.

Ali, seorang pemuda yang sedang memancing di lokasi, menjadikan embung ini sebagai tempat utamanya untuk melepas stres.

"Kerjaane tukang masak," ungkapnya.

Beban kerja tersebut membuatnya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk duduk memancing di pinggir embung.

"Nek aku dewe kadang mangkat isuk bali mbengi. Nek aku dewe," tuturnya.

Di balik ruang publik yang minim fasilitas, sepinya Embung Julantoro nyatanya justru dimanfaatkan sebagai tempat istirahat alternatif bagi para pekerja.

Ketiadaan manajemen dari pengelola juga terlihat saat para pengunjung memancing ikan yang rupanya bukan dari benih fasilitas rekreasi embung.

"Sisaan-sisaan orang...orang buat lomba gitu lho Mas," jelas mereka.

Artinya, rutinitas pemancing di embung ini sepenuhnya bergantung pada sisa acara dari pihak luar, bukan dari program pengelolaan embung itu sendiri.

Embung Julantoro menyimpan potensi sosial dan ekonomi yang nyata.

Diperlukan penataan dasar agar embung ini bisa berfungsi secara maksimal sebagai ruang publik yang terkelola, bukan sekadar kolam air sepi yang berjalan seadanya tanpa pengelolaan.

(MG Fauzan Ardana)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.