TRIBUNJOGJA.COM - Tribunners yang pernah menyaksikan Sekaten di Yogyakarta mungkin sudah tidak asing dengan suara gamelan yang terdengar dari kawasan Masjid Gedhe Kauman.
Namun, pernahkah Tribunners memperhatikan bahwa gamelan yang dimainkan dalam tradisi tersebut bukan hanya satu perangkat?
Ada Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga.
Keduanya merupakan dua perangkat Gamelan Sekati milik Keraton Yogyakarta yang selalu hadir bersama dalam rangkaian Sekaten.
Menariknya, keberadaan dua gamelan tersebut bukan tanpa alasan.
Keduanya menyimpan cerita sejarah yang panjang, bahkan berkaitan dengan perjalanan Kerajaan Mataram hingga terbentuknya Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Lantas, kenapa Gamelan Sekaten ada dua?
Bukan Dua Gamelan yang Kebetulan Dimainkan Bersama
Dalam lingkungan Keraton Yogyakarta, Gamelan Sekati memang terdiri dari dua perangkat, yaitu Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga.
Keduanya termasuk gamelan pusaka yang secara khusus dimainkan dalam perayaan Sekaten.
Keraton Yogyakarta menyebut Gamelan Sekati sebagai satu kesatuan yang terdiri dari dua perangkat tersebut.
Jadi, ketika Tribunners mendengar istilah Gamelan Sekaten, yang dimaksud bukan sebuah gamelan tunggal.
Ada dua perangkat yang menempati tempat berbeda ketika dibawa ke Masjid Gedhe Kauman.
Kiai Gunturmadu ditempatkan di Pagongan Kidul atau sisi selatan masjid, sedangkan Kiai Nagawilaga berada di Pagongan Lor atau sisi utara.
Keduanya kemudian dimainkan secara bergantian selama rangkaian Sekaten.
Gunturmadu, Gamelan yang Berasal dari Warisan Mataram
Untuk memahami kenapa dua gamelan ini selalu bersama, perjalanan sejarahnya perlu ditarik ke masa Kerajaan Mataram.
Menurut Keraton Yogyakarta, Gamelan Sekati yang dimiliki Kasultanan Yogyakarta merupakan warisan dari Kerajaan Mataram.
Pada awalnya terdapat Kiai Gunturmadu dan Kiai Guntursari.
Kemudian, pada 1755 terjadi Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Pembagian tersebut juga berpengaruh pada dua perangkat gamelan tadi.
Kiai Gunturmadu menjadi milik Kasultanan Yogyakarta, sementara Kiai Guntursari berada di Kasunanan Surakarta.
Di sinilah cerita Kiai Nagawilaga bermula.
Lalu dari Mana Kiai Nagawilaga Berasal?
Setelah Kiai Guntursari berada di Surakarta, Kasultanan Yogyakarta membuat duplikat dari gamelan tersebut.
Duplikat tersebut kemudian diberi nama Kiai Nagawilaga.
Dengan cara tersebut, kelengkapan Gamelan Sekati di Yogyakarta kembali menjadi dua perangkat.
Yakni, gamelan Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga.
Jadi, keberadaan Kiai Nagawilaga bukan karena Keraton Yogyakarta secara kebetulan memiliki gamelan tambahan.
Gamelan tersebut dibuat untuk melengkapi kembali pasangan Gamelan Sekati setelah pembagian Mataram.
Inilah salah satu alasan kenapa kedua gamelan tersebut hingga sekarang tidak dipisahkan dalam rangkaian Sekaten.
Nama Gunturmadu dan Nagawilaga Juga Punya Makna
Bukan hanya sejarahnya yang menarik.
Nama kedua gamelan tersebut juga memiliki tafsir tersendiri.
Dinas Kebudayaan DIY menjelaskan, Guntur Madu dapat dimaknai dari kata guntur yang berarti runtuh dan madu yang bermakna anugerah.
Gabungan tersebut dimaknai sebagai anugerah yang turun.
Sementara Nagawilaga berasal dari beberapa unsur kata.
Naga dikaitkan dengan ular dan makna kelestarian, sedangkan wilaga berkaitan dengan perang.
Nama tersebut kemudian dimaknai sebagai kemenangan yang lestari dalam peperangan.
Makna tersebut menambah cerita di balik dua gamelan yang setiap tahun menjadi bagian dari Sekaten.
Kenapa Harus Dibunyikan Saat Sekaten?
Sekaten sendiri bukan sekadar pertunjukan gamelan.
Keraton Yogyakarta menjelaskan bahwa Sekaten memiliki kaitan dengan dakwah Islam di Jawa.
Pada masa perkembangan Islam, kesenian digunakan sebagai cara untuk menarik perhatian masyarakat agar datang mendekat dan kemudian mendengarkan dakwah.
Gamelan menjadi pilihan karena kesenian tersebut sudah dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa.
Karena itu, suara Gamelan Sekati memiliki posisi penting dalam rangkaian Sekaten.
Ketika dua perangkat gamelan tersebut mulai dikeluarkan dari keraton melalui prosesi Miyos Gangsa, masyarakat mengetahui bahwa rangkaian Sekaten telah dimulai.
Dalam pelaksanaan Sekaten, kedua gamelan kemudian ditempatkan di Pagongan Masjid Gedhe Kauman dan dimainkan selama beberapa hari.
Pada pelaksanaan terbaru yang didokumentasikan Keraton Yogyakarta, Kiai Gunturmadu berada di Pagongan Kidul dan Kiai Nagawilaga di Pagongan Lor.
Keduanya dimainkan secara bergantian dengan beberapa waktu tabuhan dalam sehari.
Dua Gamelan, Satu Cerita
Kalau diperhatikan, perjalanan kedua gamelan tersebut seperti mengikuti satu cerita yang sama.
Kiai Gunturmadu menjadi bagian dari warisan Mataram yang berada di Yogyakarta.
Sementara Kiai Nagawilaga dibuat untuk melengkapi kembali pasangan Gamelan Sekati setelah pembagian wilayah Mataram.
Keduanya kemudian tetap dimainkan bersama dalam Sekaten.
Saat Miyos Gangsa, kedua gamelan keluar dari keraton.
Saat berada di Masjid Gedhe Kauman, keduanya menempati dua Pagongan yang berbeda.
Ketika rangkaian Sekaten berakhir, keduanya kembali ke keraton melalui prosesi Kondur Gangsa.
Keraton Yogyakarta juga mencatat bahwa kedua perangkat tersebut dikembalikan ke kompleks keraton sebagai tanda berakhirnya rangkaian Sekaten.
Jadi, kalau suatu saat Tribunners mendengar suara Gamelan Sekaten dari arah Masjid Gedhe Kauman, ingat bahwa suara tersebut datang dari dua perangkat gamelan pusaka yang memiliki perjalanan sejarah masing-masing.
Lantas, kalau harus memilih, Tribunners lebih penasaran melihat Kiai Gunturmadu atau Kiai Nagawilaga secara langsung?
Tulis pilihan Tribunners di kolom komentar dan ceritakan alasannya.
Siapa tahu, setelah mengenal sejarah keduanya, suara gamelan Sekaten terasa sedikit berbeda ketika terdengar lagi saat bulan Mulud.
(MG Natasya Aulia)