TRIBUNNEWS.COM – Liga Inggris 2026/2027 akan dimulai pada 22 Agustus 2026. Arsenal vs Coventry dijadwalkan membuka persaingan musim baru Premier League.
Namun, sebelum bola mulai bergulir, klub, pemain, dan pelatih perlu memahami sejumlah perubahan regulasi yang akan diterapkan musim ini.
Perubahan tersebut menyentuh berbagai aspek, mulai dari upaya mengurangi aksi buang-buang waktu, aturan pergantian pemain, batas pendaftaran skuad, hingga regulasi finansial.
Premier League juga melakukan penyesuaian pada penggunaan VAR, hukuman untuk aksi menarik rambut, serta prosedur penanganan pemain yang mengalami cedera.
Berikut enam perubahan aturan penting yang akan berlaku pada Premier League 2026/2027.
1. Aturan Buang-Buang Waktu Diperketat
Premier League akan semakin tegas terhadap tim yang dianggap sengaja mengulur waktu.
Wasit kini dapat menerapkan hitungan mundur lima detik ketika sebuah tim dinilai sengaja memperlambat permainan saat melakukan lemparan ke dalam atau tendangan gawang, seperti yang dilaporkan Manchester Evening News.
Jika pemain gagal melanjutkan permainan sebelum lima detik berakhir, konsekuensinya bergantung pada situasi.
Dalam lemparan ke dalam, hak melakukan lemparan akan diberikan kepada tim lawan. Sementara pada situasi tendangan gawang, lawan akan mendapatkan tendangan sudut.
Baca juga: Haaland Puncaki Daftar Gaji Liga Inggris 2026/2027, Rashford Punya Keuntungan dari Klausul Lama
Aturan serupa juga berlaku dalam proses pergantian pemain.
Pemain yang ditarik keluar harus meninggalkan lapangan dalam waktu maksimal 10 detik. Jika melewati batas tersebut, pemain pengganti tidak bisa langsung masuk dan harus menunggu setidaknya satu menit.
Pemain pengganti baru diperbolehkan masuk ketika permainan kembali berhenti setelah satu menit berlalu.
Manajer juga tidak dapat membatalkan pergantian pemain hanya karena pemain yang keluar gagal meninggalkan lapangan dalam batas waktu yang ditentukan.
2. Batas Pendaftaran Skuad Tetap 25 Pemain
Klub Premier League masih diperbolehkan mendaftarkan maksimal 25 pemain untuk kompetisi.
Dari jumlah tersebut, sedikitnya delapan pemain harus berstatus homegrown, sedangkan maksimal 17 pemain lainnya boleh berasal dari kategori non-homegrown.
Pemain berusia 21 tahun atau lebih muda tidak masuk dalam kuota 25 pemain tersebut.
Untuk musim 2026/2027, pemain yang lahir pada atau setelah 1 Januari 2005 masuk dalam kategori ini.
Status homegrown tidak ditentukan berdasarkan kewarganegaraan. Seorang pemain masuk kategori tersebut apabila pernah terdaftar di klub yang berafiliasi dengan Asosiasi Sepak Bola Inggris atau Asosiasi Sepak Bola Wales selama sedikitnya tiga musim penuh atau 36 bulan sebelum berusia 21 tahun.
3. Regulasi Finansial Mengalami Perombakan
Perubahan besar lainnya terjadi pada aturan finansial.
Premier League mulai menggantikan Profit and Sustainability Rules (PSR) dengan dua sistem baru, yakni Squad Cost Ratio (SCR) serta Sustainability and Systemic Resilience (SSR).
Melalui SCR, pengeluaran klub untuk aktivitas di lapangan dibatasi hingga 85 persen dari pendapatan terkait sepak bola, ditambah laba atau rugi bersih dari transaksi penjualan pemain.
Sistem tersebut dibuat agar lebih selaras dengan regulasi finansial UEFA.
Bagi klub yang bermain di kompetisi UEFA, batas pengeluaran yang berlaku adalah 70 persen dari pendapatan relevan. Karena itu, klub seperti Manchester United yang tampil di Liga Champions harus memperhitungkan batas UEFA ketika menyusun anggaran skuad.
Di sisi lain, bermain di Liga Champions juga berarti klub mendapatkan pemasukan tambahan. Secara teori, kondisi tersebut memberikan ruang finansial yang lebih besar dibandingkan klub yang tidak bermain di kompetisi Eropa.
Sementara itu, SSR akan menguji ketahanan finansial klub melalui tiga aspek, yakni Uji Modal Kerja, Uji Likuiditas, dan Uji Ekuitas Positif.
4. VAR Tetap dengan Prinsip "Kesalahan yang Jelas dan Nyata"
Premier League masih mempertahankan prinsip "kesalahan yang jelas dan nyata" dalam penggunaan VAR.
Artinya, VAR tidak akan turun tangan untuk setiap keputusan yang memicu perdebatan. Ambang intervensi tetap tinggi dan hanya keputusan yang dianggap memiliki kesalahan serius yang dapat dikoreksi.
Namun, terdapat perubahan penting terkait kartu merah yang berasal dari kartu kuning kedua.
VAR kini dapat melakukan peninjauan apabila seorang pemain menerima kartu kuning kedua yang kemudian membuatnya diganjar kartu merah.
Meski demikian, peninjauan tersebut bukan untuk menilai kembali apakah kartu kuning kedua memang layak diberikan.
Premier League juga belum mengadopsi aturan seperti yang diterapkan pada Piala Dunia, di mana VAR dapat meninjau keputusan pemberian tendangan sudut yang keliru.
5. Hukuman untuk Aksi Menarik Rambut
Premier League juga memberikan penjelasan lebih tegas mengenai hukuman terhadap pemain yang menarik rambut lawan.
Perhatian terhadap aturan ini meningkat setelah Lisandro Martinez mendapat larangan bermain tiga pertandingan akibat insiden dengan Dominic Calvert-Lewin pada musim lalu.
Kartu merah akan diberikan apabila seorang pemain terbukti sengaja menarik rambut lawan dengan kekuatan atau tingkat kebrutalan yang berlebihan.
Sementara itu, aksi menarik rambut yang tidak melibatkan kekuatan atau kebrutalan berlebihan dapat berujung kartu kuning.
Aturan tersebut juga mempertimbangkan situasi ketika tarikan terjadi secara tidak sengaja, misalnya saat seorang pemain sebenarnya berusaha menarik pakaian lawan tetapi rambut ikut tertarik.
6. Pemain Cedera Harus Lebih Lama Berada di Luar Lapangan
Perubahan terakhir berkaitan dengan pemain yang mendapatkan perawatan akibat cedera di dalam lapangan.
Sebelumnya, pemain yang menjalani perawatan harus meninggalkan lapangan selama 30 detik sebelum diizinkan kembali bermain.
Mulai musim 2026/2027, durasi tersebut diperpanjang menjadi satu menit.
Aturan ini menjadi bagian dari upaya Premier League menjaga kelancaran pertandingan sekaligus mencegah waktu perawatan digunakan sebagai cara untuk memperlambat permainan.
Dengan sederet perubahan tersebut, Premier League 2026/2027 bukan hanya menghadirkan persaingan baru di atas lapangan.
Klub juga harus beradaptasi dengan regulasi yang lebih ketat, sementara pemain dan pelatih dituntut memahami setiap detail aturan agar tidak kehilangan keuntungan hanya karena kesalahan kecil.
(Tribunnews.com/Ali)