Suku Sawang di Desa Kumbung Dulu ada Puluhan KK, Kini Hanya Tinggal Segelintir
Hendra August 12, 2026 04:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Laut menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Suku Sawang atau Suku Sekak alias Suku Laut di Desa Kumbung, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.

Dahulu, puluhan kepala keluarga Suku Sawang hidup berdampingan di kawasan pesisir tersebut, mengikuti arah angin dan musim sebagai bagian dari kehidupan mereka. 

Kini, jumlahnya semakin sedikit, sementara regenerasi masyarakat asli Suku Sawang di desa itu disebut telah berhenti.

Jejak Suku Sawang yang semakin sedikit di Desa Kumbung menarik perhatian Bangkapos.com untuk menelusuri lebih jauh kehidupan komunitas tersebut.

Perjalanan itu membawa meninggalkan pusat Kota Toboali, menyeberangi laut menuju Pulau Lepar, hingga masuk ke pemukiman warga yang berada di ujung perjalanan. 

Bukan sekadar mencari tahu tentang keberadaan mereka, perjalanan ini menjadi upaya untuk melihat lebih dekat bagaimana sebuah komunitas yang dahulu hidup puluhan kepala keluarga kini perlahan menyusut.

Tokoh Adat Suku Sawang Desa Kumbung, Matyani.
Tokoh Adat Suku Sawang Desa Kumbung, Matyani. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Perjalanan menuju Desa Kumbung dari pusat Kota Toboali membutuhkan waktu hingga dua jam. Perjalanan dimulai menuju Pelabuhan Penyeberangan Sadai, kemudian dilanjutkan menggunakan speedboat menuju Pelabuhan Penutuk di Pulau Lepar selama sekitar lima hingga sepuluh menit, tergantung kondisi cuaca.

Dari Penutuk, perjalanan kembali dilanjutkan sekitar 20 kilometer atau 30 menit menggunakan kendaraan roda dua, roda empat maupun bus yang tersedia bagi penumpang.

Sepanjang perjalanan menuju Desa Kumbung, perkebunan sawit, lada dan karet silih berganti menghiasi sisi jalan. Sesekali, bongkahan batu terlihat di antara perbukitan dan hamparan hijau Pulau Lepar.

Sebelum tiba di Kumbung, perjalanan melewati Desa Tanjung Sangkar yang lokasinya bersebelahan dan nyaris tak memiliki batas yang terlihat jelas.

Batas kedua desa hanya ditandai jalan dan sebuah gapura. Memasuki Kumbung, suasana berubah menjadi lebih padat dengan rumah-rumah penduduk yang berdiri berdekatan.

Jalan menuju permukiman semakin menyempit hingga hanya dapat dilalui satu mobil.

Di tempat inilah jurnalis Bangkapos.com mencoba mendalami jejak mereka, dari kehidupan sehari-hari hingga cerita leluhur yang masih tersimpan dalam ingatan para tetua adat.

Di sebuah rumah di Desa Kumbung, kami bertemu Matyani yang baru saja pulang dari berkebun.

Kupluk hitam masih menempel di kepalanya, dipadukan dengan baju abu-abu bergaris, sementara sebilah parang lengkap dengan sarungnya masih terikat di pinggang.

Setelah duduk, perlahan ia melepas parang tersebut dan meletakkannya di samping. Dari percakapan sederhana itulah cerita tentang Suku Sawang mulai mengalir.

Matyani yang merupakan Tokoh Adat Suku Sawang Desa Kumbung, menjadi orang yang menyimpan cerita tentang perjalanan panjang komunitasnya.

Ia mengaku tidak lagi mengetahui secara pasti generasi ke berapa dirinya dalam garis keturunan Suku Sawang di Desa Kumbung. 

Namun diperkirakan berada pada generasi kedelapan atau kesembilan. Sejak lahir pada era 1970-an, ia telah menetap di Kumbung dan menyaksikan perubahan komunitas Suku Sawang dari masa ke masa.

“Kalau tidak salah saya keturunan kedelapan atau kesembilan,” katanya kepada Bangkapos.com, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya jejak Suku Sawang di Desa Kumbung telah ada sejak 1932. Sebelum menetap, leluhur mereka dikenal sebagai masyarakat yang hidup berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya mengikuti musim dan kondisi laut.

Cerita yang diwariskan para tetua adat menyebut perjalanan mereka bermula dari kawasan perairan Riau dan Kepulauan Riau-Lingga, sebelum akhirnya sampai ke Kepulauan Bangka Belitung.

Perjalanan panjang itu membawa mereka ke sejumlah wilayah di Bangka Belitung. Dari Belinyu, Kabupaten Bangka mereka kemudian berpindah ke Pulau Semujur dan sebagian menyebar hingga Pulau Pongok sebelum akhirnya menetap di Desa Kumbung.

Bagi Suku Sawang, berpindah bukan sekadar perjalanan, tetapi bagian dari cara mereka membaca kehidupan dan bertahan di tengah perubahan musim.

“Memang begitulah Suku Sawang, tiap tahunnya memang mengejar musim, mengikut arah musim,” tutur Matyani.

Musim menentukan ke mana mereka bergerak. Ketika angin barat datang, misalnya, mereka akan mencari tempat yang dianggap lebih teduh untuk berlindung dari kondisi laut yang kurang bersahabat.

Laut sekaligus menjadi ruang hidup dan sumber penghidupan karena mayoritas Suku Sawang menggantungkan kehidupan sebagai nelayan.

Dahulu, kehidupan mereka bahkan berlangsung di atas kapal yang menjadi tempat tinggal sekaligus ruang untuk berlabuh dari satu pesisir ke pesisir lainnya.

Namun, kehidupan itu perlahan berubah ketika masyarakat Suku Sawang di Desa Kumbung mulai membangun rumah di daratan sejak 1989.

Meski telah memiliki rumah, hubungan mereka dengan laut tidak ikut terputus karena hingga kini sebagian masyarakatnya masih bekerja sebagai nelayan.

“Memang mayoritas mata pencaharian Suku Sawang ini adalah nelayan. Mata pencariannya tetap di laut,” urainya.

Kehidupan di laut juga membentuk kemampuan yang khas bagi Suku Sawang. Mereka terbiasa membaca arah angin, mengenali gelombang dan menentukan musim untuk mengetahui wilayah yang aman maupun potensial untuk mencari ikan.

Pengetahuan tersebut bukan diperoleh dari buku, melainkan dari pengalaman yang diwariskan melalui keseharian mereka di laut.

Namun, kehidupan Suku Sawang di Kumbung kini tak lagi seramai dahulu. Matyani mengatakan sebagian besar masyarakat Suku Sawang telah berpindah ke daerah lain dalam beberapa puluh tahun terakhir, terutama ke Dusun Kedimpal, Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah.

Faktor pekerjaan dan penghasilan turut mendorong mereka meninggalkan Kumbung dan memilih menetap di tempat baru.

Dari puluhan kepala keluarga, kini hanya sebagian kecil keturunan Suku Sawang yang masih bertahan di Desa Kumbung.

Perkawinan dengan masyarakat Melayu juga membuat keturunan yang benar-benar dianggap asli Suku Sawang semakin sedikit.

Bahkan, Matyani menyebut regenerasi Suku Sawang di Desa Kumbung saat ini sudah tidak ada lagi dan tersisa hanya dua kepala keluarga.

“Regenerasi Suku Sawang di Desa Kumbung saat ini sudah tidak ada lagi,” sebut Matyani

Meski jumlahnya terus berkurang, identitas Suku Sawang masih terlihat dari penggunaan bahasa Sawang dalam lingkungan keluarga.

Bahasa tersebut berbeda dengan bahasa Melayu dan masih digunakan ketika sesama keluarga berkomunikasi di rumah, sedangkan bahasa Melayu digunakan ketika berinteraksi dengan masyarakat luas.

Kondisi ini membuat bahasa Sawang menjadi warisan budaya yang masih bertahan meski komunitasnya semakin kecil.

“Kalau kita dengan masyarakat yang luar, pakai bahasa kampung, bahasa Melayu, kecuali kita sama dengan keluarga, baru kita pakai bahasa Sawang,” pungkas Matyani. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.