Liputan6.com, Jakarta - PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank menginformasikan pelaksanaan Long-Term Incentive Plan (LTIP) sebagaimana disampaikan melalui Keterbukaan Informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Program LTIP tersebut merupakan bagian dari Program Kepemilikan Saham yang sebelumnya telah tercantum dalam Prospektus Penawaran Umum Perdana Saham Superbank.
Menanggapi pelaksanaan program tersebut, Manajemen Superbank menyampaikan bahwa LTIP merupakan bagian dari strategi jangka panjang Perseroan untuk mendorong kinerja dan pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan.
“LTIP merupakan bagian dari strategi jangka panjang Perseroan untuk menyelaraskan kepentingan peserta program dengan kepentingan seluruh pemegang saham serta mendorong penciptaan nilai perusahaan secara berkelanjutan,” ujar Manajemen Superbank, dikutip dari keterangan resmi, Rabu (12/8/2026).
Menurut manajemen, program tersebut juga mendukung upaya Perseroan dalam mempertahankan talenta dan kapabilitas strategis yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan Superbank dalam jangka panjang.
Sebagian besar saham dalam Program LTIP dialokasikan kepada karyawan. Hal ini mencerminkan tujuan program untuk memberikan apresiasi atas kontribusi sekaligus menyelaraskan kepentingan karyawan dengan pertumbuhan dan kinerja Perseroan dalam jangka panjang.
“Sebagai perusahaan yang terus bertumbuh, keberadaan talenta dan kapabilitas yang tepat menjadi bagian penting dalam mendukung strategi perusahaan. Melalui program ini, kami ingin mendorong keterlibatan jangka panjang sekaligus menyelaraskan kepentingan peserta program dengan keberhasilan Superbank ke depan,” lanjut manajemen.
Superbank menyampaikan, seluruh pelaksanaan LTIP dilakukan sesuai dengan ketentuan regulator dan mekanisme tata kelola perusahaan yang berlaku, serta telah disampaikan secara transparan melalui keterbukaan informasi.

Sebelumnya, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank mencatat pertumbuhan kinerja sepanjang Semester I 2026. Bank dengan layanan digital ini membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp 234 miliar, melonjak 669% secara tahunan. Pada saat yang sama, jumlah nasabah telah menembus 7 juta dan total aset mencapai Rp 27 triliun.
Total aset Superbank tersebut tumbuh 81,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan menilai pencapaian ini ditopang strategi pertumbuhan berbasis ekosistem yang turut mendorong profitabilitas, efisiensi operasional, dan kualitas aset.
Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan mengatakan, semester pertama 2026 menjadi momentum penting bagi Superbank. Strategi berbasis ekosistem yang dibangun bersama para pemegang saham kini semakin terlihat hasilnya, tidak hanya dari pertumbuhan jumlah nasabah, tetapi juga dari meningkatnya profitabilitas, efisiensi, dan kualitas aset.
“Hal ini menunjukkan bahwa kami berhasil membangun pertumbuhan yang tidak hanya cepat, tetapi juga sehat dan berkelanjutan,” jelas dia dalam keterangan tertulis, Selasa (28/7/2026).
“Ke depan, kami akan terus memperluas kolaborasi di dalam ekosistem untuk menghadirkan layanan keuangan digital yang semakin relevan, mudah diakses, dan mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi nasabah, mitra, serta pemegang saham,” tambah Tigor.

Strategi berbasis ekosistem menjadi salah satu motor pertumbuhan Superbank. Hingga Juni 2026, lebih dari 60% nasabah perseroan merupakan pengguna Grab dan OVO, mencerminkan integrasi layanan perbankan dengan aktivitas digital masyarakat.
Penyaluran kredit Superbank mencapai Rp 13,4 triliun atau tumbuh 61% secara tahunan dan 17,6% dibandingkan kuartal sebelumnya. Pertumbuhan tersebut turut ditopang integrasi produk Pinjaman Atur Sendiri (PAS) dengan ekosistem Grab dan OVO.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 15,9 triliun, melonjak 89,1% secara tahunan dan naik 10,3% secara kuartalan. Pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan kredit dinilai memperkuat likuiditas sekaligus memberikan ruang bagi ekspansi bisnis.
Kinerja tersebut juga tercermin pada pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) yang tumbuh 51,7% menjadi Rp 1,01 triliun.
Sementara itu, Net Interest Margin (NIM) terjaga pada 8,7%. Efisiensi operasional turut membaik dengan Cost to Income Ratio (CIR) turun menjadi 54,8% dari 74,6% pada Semester I 2025.

Di tengah ekspansi bisnis, Superbank mencatat perbaikan kualitas kredit. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) Gross turun menjadi 1,6% pada Semester I 2026, dari 2,7% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 74,5%. Sementara itu, Pre-Tax Return on Equity (ROE) meningkat menjadi 5,7% dibandingkan 1,2% pada Semester I 2025.
Memasuki Semester II 2026, Superbank akan melanjutkan perluasan integrasi layanan keuangan di dalam ekosistem. Perseroan juga berencana menghadirkan inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sambil mempertahankan tata kelola dan manajemen risiko yang prudent.
Superbank saat ini didukung ekosistem Grab, OVO, Emtek, GXS Bank, dan KakaoBank. Dengan pertumbuhan basis nasabah serta perbaikan sejumlah indikator keuangan, perseroan optimistis dapat melanjutkan ekspansi bisnis sekaligus memperluas inklusi keuangan.
Strategi tersebut juga diarahkan untuk menjaga pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi nasabah, mitra, pemegang saham, serta pemangku kepentingan lainnya.