Mercedes-Benz modern menyukai layar. Hal itu jelas bukan rahasia, karena siapa pun yang pernah melihat “Hyperscreen” opsional pada C-Class EV baru akan tahu bahwa merek yang sejak lama dianggap sebagai penentu selera otomotif kini dengan senang hati menawarkan layar sebanyak yang mungkin diinginkan konsumen. Meski begitu, kondisi saat ini tampaknya belum menjadi batas akhirnya.
Dalam percakapan terbaru dengan sejumlah media, termasuk Auto Express dari Britania Raya, CEO Mercedes-Benz Ola Källenius mengomentari perkembangan kabin merek tersebut yang semakin berorientasi digital. Ia mengatakan bahwa dirinya “tidak berpikir kita sudah berada di batas maksimum layar, tetapi kita sudah berada di jumlah tombol yang minim.” Autocar mengutip pernyataan itu dengan sedikit berbeda, dengan menyebut Källenius mengatakan bahwa ia tidak merasa industri otomotif telah mencapai “puncak layar” untuk saat ini.
Bagaimanapun juga, pesannya tampak jelas: Mercedes tidak berencana terus-menerus menyingkirkan tombol dan kontrol fisik lain dari kabinnya, tetapi juga tidak akan menghentikan perlombaan memperbesar ukuran layar dalam waktu dekat. Ini mungkin menjadi kabar buruk bagi konsumen yang berharap kembalinya dasbor berlapis trim kayu memanjang penuh dan kabin redup yang tidak terganggu oleh cahaya dari sesuatu yang pada praktiknya sering terasa seperti screensaver raksasa. Namun setidaknya ada sedikit harapan bagi mereka yang tidak tahan dengan kontrol sentuh kapasitif yang tersebar di setir Mercedes pada awal dekade 2020-an. Untungnya, komponen tersebut kini setidaknya sebagian mulai digantikan kembali oleh unit fisik.
Yang masih belum jelas adalah di mana tepatnya Mercedes benar-benar bisa menempatkan lebih banyak layar. Layar berlabel Hyperscreen milik pabrikan itu, seperti unit opsional pada C-Class baru atau sistem serupa yang sama besarnya yang ditawarkan pada EQS EV sejak pertama kali hadir, sudah memakan setiap bagian dasbor yang tersedia. Bahkan tata letak “Superscreen” yang lebih kecil pada mobil seperti CLA-Class baru juga telah memanfaatkan sebagian besar potensi ruang layar di dalam kabin. Apakah itu berarti merek mewah Jerman tersebut tertarik menjelajahi area baru, seperti layar yang ditanam di panel pintu, konsol tengah, atau pelapis atap? Sepertinya hanya waktu yang akan menjawabnya.