Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan kesiapan penuh militer Iran untuk menghadapi potensi konflik jangka panjang melawan musuh-musuhnya.
Penasihat komandan IRGC, Mohammad Reza Naghdi, menyatakan bahwa Iran kini beralih dari doktrin defensif ke doktrin ofensif.
Mengutip Iran International pada (12/8), peralihan ini menandai kesiapan pasukan Iran untuk membawa operasi militer langsung menembus perbatasan dan masuk ke wilayah musuh.
Persiapan menghadapi perang berdurasi panjang ini didukung oleh lonjakan kapasitas produksi industri pertahanan domestik Iran.
Naghdi mengungkapkan bahwa volume produksi rudal balistik saat ini jauh melampaui jumlah yang telah ditembakkan di medan tempur.
Selain rudal, kapasitas produksi armada drone Iran juga mencatatkan angka signifikan yang melebihi tingkat penggunaannya.
Pasokan persenjataan yang melimpah ini disiapkan secara khusus agar pasukan Iran tidak kekurangan amunisi dalam pertempuran berlarut-larut.
Naghdi menjamin bahwa proses manufaktur alutsista ini akan terus berjalan tanpa henti meskipun perang berlangsung selama bertahun-tahun.
Bahkan jika konflik memakan waktu sangat lama, Iran memastikan kesiapan material tempurnya tetap berada dalam kondisi puncak.
Konfrontasi terbaru dengan Amerika Serikat dan Israel pun dijadikan sebagai latihan nyata untuk memetakan kekuatan serta kelemahan musuh.
Peta kemampuan lawan tersebut dimanfaatkan Iran untuk mematangkan penerapan strategi perang hibrida di berbagai lini operasional.
Melalui kombinasi ketahanan militer, diplomasi, dan ekonomi, Iran optimistis dapat menekan musuh dalam jangka panjang.
Dengan kesiapan pasukan dan pasokan amunisi yang tak terbatas, Iran memastikan rudal balistiknya akan tetap meluncur menggempur musuh hingga hari terakhir perang.
“Kapan pun kondisi mengharuskan dan perintah dikeluarkan, kita harus memiliki kemampuan untuk membawa operasi ke wilayah musuh dan melakukan operasi di luar wilayah kita sendiri,” kata Naghdi dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah.
“Arahan terbaru kepada para komandan Iran menekankan peperangan hibrida, yang merupakan perpaduan antara penggunaan kemampuan militer, diplomatik, ekonomi, sosial, dan media secara terkoordinasi,” tambahnya.
“Produksi rudal balistik kita melebihi jumlah yang diluncurkan. Dengan kata lain, kita memproduksi lebih banyak rudal dan menyediakannya untuk pasukan kita daripada yang ditembakkan di medan perang. Kita juga memiliki kapasitas produksi drone yang melebihi tingkat penggunaan dan peluncurannya, dan kita memiliki kapasitas produksi yang signifikan,” kata Naghdi.
“Produksi peralatan ini akan terus berlanjut, dan bahkan jika perang berlangsung selama beberapa tahun, rudal balistik akan tetap diproduksi dan ditembakkan ke musuh pada hari terakhir perang,” tambahnya.