Gerindra Surabaya Datangi Istri Rawan, Pejuang dalam Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi
Pipit Maulidya August 12, 2026 04:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Usianya telah senja. Namun, Soetari masih menyimpan cerita tentang sang suami, Rawan, seorang pelaut yang pernah terlibat dalam salah satu catatan penting perjuangan melawan kolonialisme Belanda.

Di kediamannya di Jalan Kapasari 7/9, Kecamatan Genteng, Surabaya, Soetari menerima kunjungan sejumlah kader Gerindra Surabaya, Selasa (11/8/2026).

Rombongan juga didampingi perwakilan Dinas Sosial Jawa Timur, Dinas Sosial Kota Surabaya, serta siswa Sekolah Rakyat.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Gerindra Surabaya dalam menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagi Soetari, kedatangan rombongan sekaligus membangkitkan kembali kenangan tentang sang suami.

Rawan merupakan seorang pelaut yang pernah berpangkat Matros. Ia tercatat sebagai salah satu pelaku sejarah dalam Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi atau De Zeven Provinciën pada 1933.

Baca juga: Pengusaha Sound Horeg di Jatim Bantah Klaim Dukung Gibran di Pilpres 2029

Peristiwa tersebut terjadi ketika sejumlah pelaut di kapal perang milik pemerintah kolonial Belanda melakukan pembelotan. Perlawanan itu dipicu oleh sejumlah persoalan yang dihadapi para pelaut.

Menurut cerita Soetari, Rawan bersama rekan-rekan seperjuangannya berada di atas kapal perang tersebut ketika perlawanan berlangsung.

Kapal kemudian dikejar dan diserang oleh pasukan Belanda. Dari pesawat Dornier, kapal dihujani bom ketika berada di perairan Selat Sunda.

Rawan berhasil selamat, namun sempat ditangkap dan diasingkan selama dua tahun sebelum akhirnya dibebaskan.

“Soal perjuangan beliau itu, saya masih ingat. Dulu beliau ikut di Kapal Tujuh Provinsi,” tutur Soetari di kediamannya, Selasa (11/8/2026).

Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda.

Bagi Soetari, kisah perjuangan Rawan bukan sekadar cerita masa lalu. Ia berharap perjuangan tersebut terus dikenalkan kepada generasi muda.

Rawan lahir pada 19 Oktober 1909. Soetari dan Rawan menikah pada 1976. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai seorang putra.

Setelah menjalani perjalanan hidup dan pengabdian panjang, Rawan meninggal dunia pada 28 Maret 1986 karena sakit jantung.

Kini, puluhan tahun setelah Rawan meninggal, Soetari menjadi salah satu orang yang masih menyimpan cerita tentang perjalanan hidup sang pelaut pejuang.

Pada momentum kemerdekaan tahun ini, ia berharap generasi muda tidak melupakan orang-orang yang telah berjuang pada masa lalu.

“Harapannya, saya mudah-mudahan yang berjuang sekarang, tahu sama yang dulu berjuang. Pahlawan dan generasi mudanya harus dibimbing sebaik mungkin,” kata Soetari.

Ia juga menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan kepada dirinya dan keluarga para pejuang.

“Kami berterima kasih atas dukungan dan atas perhatiannya pada kita semua. Mudah-mudahan selalu sehat selalu dan pemimpin rakyat yang benar,” ujarnya.

Gerindra Surabaya Ziarah dan Sowan ke Keluarga Pejuang

Ketua DPC Gerindra Surabaya Cahyo Harjo Prakoso mengatakan, kunjungan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada keluarga para perintis kemerdekaan.

Cahyo yang juga anggota Komisi E DPRD Jawa Timur datang bersama anggota DPRD Kota Surabaya serta perwakilan Dinas Sosial Jawa Timur dan Dinas Sosial Kota Surabaya.

“Kami bersilaturahmi kepada keluarga dari pejuang perintis kemerdekaan kita. Di sini kami diterima oleh Ibu Soetari,” kata Cahyo di Surabaya, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, perhatian terhadap keluarga pejuang tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak.

Pemerintah, lembaga legislatif, partai politik, hingga masyarakat memiliki peran untuk menjaga ingatan terhadap sejarah perjuangan bangsa.

Ia menyebut perhatian yang diberikan dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen untuk menghargai jasa para pejuang dan keluarganya.

“Ini adalah bentuk komitmen kami bersama, seluruh stakeholder, pemerintah provinsi, pemerintah kota, kami sebagai partai politik, bahwa kami harus mengingat bahwa kita bisa merasakan apa yang kita rasakan hari ini berkat perjuangan dari para pahlawan dan para perintis kemerdekaan kita,” ujarnya.

Cahyo menilai sejarah merupakan salah satu fondasi penting untuk menyambut masa depan.

Menurut dia, kecintaan terhadap sejarah dan penghormatan kepada para pelaku perjuangan menjadi bagian penting dalam membangun bangsa yang kuat.

“Kalau tidak ditopang dengan kecintaan kita terhadap para pelaku sejarah dan para pahlawan, maka kita tidak akan menjadi suatu bangsa yang utuh,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa Surabaya memiliki sejarah perjuangan yang panjang.

Karena itu, generasi saat ini dinilai perlu terus mengenang tokoh dan peristiwa yang pernah terjadi di kota tersebut.

“Kita harus terus mengingat dan mencintai nilai-nilai perjuangan dari para perintis kemerdekaan dan juga menghormati keluarga dari pejuang kemerdekaan itu,” ujarnya.

Anggota DPRD Surabaya sekaligus kader Gerindra Surabaya, Alif Iman Waluyo, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI.

Kegiatan dilakukan dengan mendatangi keluarga para pejuang dan perintis kemerdekaan di sejumlah titik di Surabaya.

“Ini bagian dari memperingati 17 Agustus kemerdekaan kita. Salah satu program DPC Gerindra adalah sowan kepada keluarga pejuang yang pernah membantu memerdekakan Kota Surabaya dan Negara Indonesia,” katanya.

Selain kediaman Soetari di Kapasari, rombongan juga mendatangi kediaman Winarti, istri pejuang kemerdekaan, di Jalan Petemon 4/10C, Kecamatan Sawahan.

Rangkaian kegiatan juga mencakup kunjungan ke makam Wage Rudolf Soepratman untuk mengenang jasa pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya” tersebut.

“Untuk kegiatan hari ini sekitar tiga titik untuk veteran dan satu titik di makam Pak WR Soepratman,” ujarnya. (bob)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.