TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Bagi warga Kota Tarakan, Kalimantan Utara, khususnya yang tinggal di kawasan pesisir dan dataran rendah, diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob yang diprakirakan terjadi pada 13-14 Agustus 2026.
Kepala BMKG Tarakan, M Sulam Khilmi, mengatakan potensi banjir rob tersebut berkaitan dengan kondisi pasang air laut yang terjadi pada periode tersebut.
"13 dan 14 Agustus itu ada potensi banjir rob," tegas M Sulam Khilmi.
Potensi tersebut perlu menjadi perhatian terutama bagi warga yang bermukim di kawasan pesisir maupun wilayah yang memiliki elevasi rendah.
M Sulam Khilmi menjelaskan, berdasarkan jadwal Air Laut Pasang, periode yang perlu diwaspadai warga terjadi pada sore hingga malam hari.
Air Laut Pasang mulai terjadi sekitar pukul 18.00 Wita dan mencapai puncaknya sekitar pukul 19.00-20.00 Wita.
Baca juga: BMKG Tarakan Perkirakan Potensi Banjir Rob Terjadi Hari Ini dan Besok, Imbau Warga Pesisir Waspada
"Pukul 18.00 WITA sampai pukul 21.00 WITA dan Puncaknya di pukul 19.00 WITA sampai pukul 20.00 WITA," ucap M Sulam Khilmi.
Artinya, warga yang berada di wilayah rawan genangan kawasan pesisir perlu meningkatkan kewaspadaan terutama pada rentang waktu tersebut. Namun, periode pasang tidak hanya terjadi pada malam hari.
BMKG juga mencatat adanya periode pasang menjelang pagi atau subuh di kisaran pukul 02.00 dini hari sampai pukul 05.00 WITA.
"Kemudian menjelang subuh itu juga merupakan periode dimana memang air secara air laut karakteristiknya memang pasang," jelasnya.
Dengan adanya potensi Air Laut Pasang tersebut, warga yang tinggal di kawasan pesisir dan dataran rendah diminta melakukan langkah antisipasi.
M Sulam Khilmi mengingatkan warga agar tidak menganggap sepele potensi banjir rob meskipun sebagian warga di kawasan pesisir sudah memahami pola pasang air laut. Menurutnya, kesiapsiagaan tetap diperlukan karena kondisi di lapangan dapat berubah.
"Harus waspada, mengantisipasi, berjaga-jaga walaupun mungkin mereka sudah hafal. Namun tidak ada salahnya. Bagaimanapun ketika kita siap hasilnya lebih bagus daripada tidak siap," tegasnya.
Ia menilai kesiapan masyarakat menjadi hal penting untuk mengurangi dampak apabila air laut benar-benar masuk ke kawasan permukiman.
Baca juga: Banjir Rob Ancam Pesisir Tarakan, Warga Diminta Waspada hingga 9 Desember
M Sulam Khilmi menjelaskan potensi banjir rob pada 13-14 Agustus bukan merupakan kondisi pasang tertinggi sepanjang tahun.
Namun, ketinggian air pada periode tersebut tetap cukup untuk membuat air laut berpotensi naik ke daratan, terutama di kawasan yang rendah dan dekat dengan pesisir.
Untuk ketinggian muka air, ia menjelaskan pengukurannya mengacu pada mean sea level (MSL) atau muka air laut rata-rata.
"Kalau di sini estimasinya kalau dari permukaan air normal dari men sea level itu bisa mencapai 6 meter dari men sea level," jelasnya.
M Sulam Khilmi kemudian meluruskan pemahaman mengenai titik acuan ketinggian air tersebut. Menurutnya, pengukuran tidak dilakukan berdasarkan kondisi air sedang pasang maupun surut, melainkan menggunakan muka air laut rata-rata sebagai titik referensi.
"MSL itu permukaan air normalnya, bukan air yang pasang surut atau pasang kemudian diukur dari jembatan-jembatan itu tidak. Tapi air normalnya," katanya.
Ia menjelaskan, MSL menjadi acuan dalam pengukuran elevasi yang digunakan dalam kajian meteorologi dan kondisi muka air.
"MSL itu di tekanan udara 1012,8. Jadi ada MSL. Kalau kami semuanya mengukur elevasi ya itu dari MSL, bukan dari air pasang atau air yang pasang surut," jelasnya.
Potensi banjir rob yang disampaikan BMKG tersebut diperkirakan berlangsung selama dua hari, yakni pada 13 dan 14 Agustus 2026. M. Sulam Khilmi menegaskan, periode tersebut merupakan waktu dengan potensi pasang yang lebih tinggi dibandingkan periode di sekitarnya, bukan berarti menjadi pasang tertinggi sepanjang tahun.
"Untuk prediksi tertingginya di periode ini, bukan tertinggi dalam satu tahun, periode tahun ini di tanggal 13-14 Agustus," jelasnya.
Selain pasang air laut, kondisi hujan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.Jika hujan deras terjadi bersamaan dengan periode pasang, potensi genangan dapat menjadi lebih besar karena air dari daratan, termasuk aliran sungai dan drainase, akan bertemu dengan kondisi muka air laut yang sedang tinggi.
Namun, berdasarkan prakiraan cuaca BMKG saat ini, potensi hujan deras dalam sepekan ke depan relatif kecil.
M Sulam Khilmi mengatakan BMKG terus memantau kondisi atmosfer melalui sistem pemantauan yang dimiliki.
"Alhamdulillah kalau melihat krisis tadi ya, krisis center ya, kami memang punya saluran krisis center," ujarnya.
Ia menyebut prakiraan hujan untuk satu pekan ke depan menunjukkan intensitas yang tidak terlalu tinggi.
"Kalau seminggu depan potensi hujannya tidak sampai 20 mm per hari," katanya.
Meski demikian, kondisi cuaca tetap dapat berubah apabila muncul gangguan atmosfer tertentu. Salah satu kondisi yang dapat meningkatkan potensi hujan ekstrem adalah munculnya sistem siklon tropis atau bibit siklon di wilayah utara.
Namun, hingga saat ini BMKG Tarakan belum mendeteksi adanya bibit siklon yang berpotensi memberikan pengaruh signifikan terhadap kondisi cuaca di Kaltara dalam waktu dekat.
"Kecuali misalnya ada siklon yang tumbuh di utara. Namun sampai saat ini bibit siklonnya juga belum ada," jelas M Sulam Khilmi.
Menurutnya, keberadaan bibit siklon umumnya sudah dapat dipantau beberapa hari sebelum berkembang menjadi sistem yang lebih kuat.
"Biasanya dalam kurang 7 hari bibit siklon itu sudah terdeteksi. Ini belum terdeteksi. Tekanan belum terdeteksi, bibit siklon belum terdeteksi," katanya.
Dengan kondisi tersebut, peluang terjadinya hujan deras dalam periode prakiraan saat ini relatif rendah.
"Peluangnya tidak hujan deras, jadi insyaallah aman," ujarnya.
Walaupun peluang hujan deras diprakirakan rendah, faktor sungai tetap perlu diperhatikan ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Tarakan dan wilayah sekitarnya memiliki sejumlah aliran sungai yang dapat berpengaruh terhadap kondisi genangan, terutama apabila hujan turun deras dalam waktu bersamaan dengan pasang air laut.
"Kalau banyak sungai besar, ada Sungai Sayap, sungai. Pas hujan deras bisa memperburuk banjirnya," pungkasnya.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan pesisir dan dataran rendah, untuk tetap memantau informasi cuaca dan pasang air laut menjelang periode 13-14 Agustus.
Masyarakat juga diminta tidak hanya memperhatikan potensi pasang pada sore hingga malam hari, tetapi tetap waspada pada periode menjelang subuh sekitar pukul 02.00-05.00 Wita.
(*)
Penulis: Andi Pausiah