TRIBUNMANADO.CO.ID - Tragedi tabrakan maut dalam Drag Race berdarah di Kelurahan Upai, Kota Kotamobagu, provinsi Sulut bukan hanya merenggut korban jiwa.
Tapi juga menyebabkan korban materiil.
Ini dialami Abdullah Mokoginta.
Tabrakan itu terjadi depan pekarangan rumahnya.
Baca juga: Ini Kesaksian Pemilik Rumah di TKP Tabrakan Drag Race Berdarah Kotamobagu
"Pagar hancur, belum lagi gerobak serta pondok," kata dia kepada Tribunmanado Rabu (12/8/2026).
Ungkap dia, hancurnya gerobak merupakan pukulan terberat.
Sebab gerobak itu adalah tempat mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.
"Ini berat sekali," katanya.
Ia mengestimasi total kerugian berjumlah Rp 20 an juta.
Biaya terbesar adalah untuk gerobak.
"Karena gerobak itu cukup besar," katanya.
Menurut dia, hingga saat ini belum ada santunan dari pihak panitia.
Dirinya berharap ada santunan.
"Kami sangat berharap ada santunan, karena kami juga dirugikan," katanya.
Sebelumnya, Tabrakan maut dalam Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, kota Kotamobagu, provinsi Sulut, menewaskan 8 orang serta belasan lainnya terluka parah.
Horor itu terjadi di depan rumah Abdullah Mokoginta.
Saya menyambangi rumah Abdullah, Rabu (12/8/2026) siang.
TKP berada di pekarangan rumahnya.
Suasana di situ masih mencekam.
Puing gerobak yang hancur bertebaran, berikut tanaman yang tercabut dari akarnya.
Pita kuning police line masih melingkari tempat itu.
Abdullah menuturkan, saat kejadian itu dirinya tengah berada di belakang rumah.
"Tiba tiba terdengar bunyi kencang dan teriakan," kata dia.
Ia pun bergegas ke depan dan mendapati pemandangan menyayat hati.
Orang orang tergeletak di tanah serta saluran air.
Hanya dua orang yang masih sadar.
Segera ia memberi pertolongan
"Saya tarik orang tersebut ke depan rumah dan beri pertolongan," bebernya.
Dia kemudian melihat warga yang tumbang dinaikkan ke mobil lantas dibawa ke rumah sakit. (Art)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini