26 Relawan Dinsos Kepahiang Mulai Renovasi Gubuk Reot Tempat Paradila Tinggal Selama 13 Tahun
Hendrik Budiman August 12, 2026 06:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan  

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Sejak pagi senyum Paradila terlihat berbeda karena rumah kecil yang selama ini menjadi tempat tinggalnya di RT 11 RW 03, Kelurahan Pensiunan, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang mulai berbenah pada Rabu (12/8/2026). 

Puluhan orang bergotong royong memperbaiki rumah Paradila yang sebelumnya berada dalam kondisi tidak layak huni. 

Rumah yang sebelumnya dalam kondisi tidak layak huni tersebut memiliki berukuran sekitar 2,5 x 6 meter itu hanya memiliki dua ruangan dan satu kamar tidur. 

Dinding rumah masih menggunakan anyaman pelepah bambu yang sudah lapuk.  

Di beberapa bagian terlihat berlubang sehingga terpaksa ditutup dengan lemari tua agar angin tidak langsung masuk ke dalam rumah. 

Lantai rumah masih berupa tanah yang hanya dialasi tikar. 

Sementara atap seng bekas yang telah dimakan usia menjadi sumber persoalan setiap kali hujan turun.  

Baca juga: 13 Tahun Bertahan di Gubuk Reot, Rumah Paradila Akhirnya Direhab Tagana Kepahiang 12 Agustus 2026

Pekerjaan dimulai dari dipindahkan seluruh perabotan dan isi rumah Paradila ke rumah tetangga yang juga masih memiliki hubungan keluarga dengannya. 

Suasana berbeda terasa di sekitar rumah Paradila. Tidak hanya suara kayu dan peralatan kerja, tawa serta canda para relawan juga terdengar di sela-sela proses renovasi. 

Mereka bahu-membahu memasang rangka kayu, mengganti atap, memperbaiki lantai, serta memasang dinding menggunakan asbes dan sekat triplek.

RTLH - Kondisi rumah Paradila di Kepahiang pada Rabu (5/8/2026).Nestapa warga Kepahiang bernama Paradila yang berjuang bersama anaknya tinggal di rumah tidak layak selam 13 tahun.
RTLH - Kondisi rumah Paradila di Kepahiang pada Rabu (5/8/2026).Nestapa warga Kepahiang bernama Paradila yang berjuang bersama anaknya tinggal di rumah tidak layak selam 13 tahun. (M. Bima Kurniawan/Bima Kurniawan)

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kepahiang, Helmi Johan mengatakan, proses renovasi dimulai sejak pukul 08.00 WIB dengan melibatkan puluhan anggota pilar-pilar Sosial. 

"Kita dari Pemda Kepahiang melalui Dinsos hari ini sejak pagi tadi pukul 08.00 melakukan renovasi rumah Paradila," kata Helmi. 

Sebanyak sekitar 26 orang terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari sejumlah unsur Pilar-Pilar Sosial, mulai dari Taruna Siaga Bencana (Tagana), Resos, Pelopor hingga Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK). 

Bagi para relawan, pekerjaan hari itu bukan sekadar memperbaiki sebuah rumah.

Mereka juga sedang berusaha mengembalikan rasa aman dan kelayakan hidup bagi seorang warga yang selama ini tinggal dalam keterbatasan. 

Disisi lain, kondisi rumah Paradila sebenarnya pernah diajukan untuk mendapatkan program bedah rumah.

Namun, program tersebut belum terealisasi karena Paradila sempat berpindah tempat tinggal. 

"Sebelumnya memang pernah kita ajukan untuk bedah rumah, cuma yang bersangkutan ini pindah. Itulah mengapa kemarin belum terealisasikan untuk dilakukan bedah rumah," ujarnya. 

Sementara dana yang berhasil terkumpul sekitar Rp3 juta, ditambah bantuan dalam bentuk material bangunan. 

"Anggaran yang terkumpul saat ini sekitar tiga jutaan, ada pula bantuannya dalam bentuk bahan," kata Helmi. 

Perbaikan rumah tersebut dapat diselesaikan dalam satu hari. Namun, apabila pekerjaan belum rampung, tim akan melanjutkannya pada hari berikutnya. 

"Kita target dapat diselesaikan hari ini, namun jika belum selesai kita lanjutkan besok," ujarnya. 

Meski bagian utama rumah mulai diperbaiki, pekerjaan belum sepenuhnya selesai. Dinsos Kepahiang masih membuka ruang bagi masyarakat maupun donatur yang ingin membantu. 

Bantuan tambahan tersebut nantinya akan diarahkan untuk membangun kembali bagian dapur rumah Paradila yang juga membutuhkan perhatian. 

"Ke depan kita masih membuka donasi jika ada, untuk dapat membangun dapurnya lagi, seperti seng satu kodi lagi dan kayu ukuran 5x7 sekitar 20 batang lagi," ungkap Helmi. 

Di tengah keterbatasan, renovasi sederhana itu setidaknya menghadirkan harapan baru bagi Paradila. 

Rumah yang sebelumnya dinding lapuk, lantai tanah dan atap bocor perlahan mulai berubah menjadi hunian yang lebih aman dan nyaman untuk ditempati.

13 Tahun Tinggali Gubuk Reot

Sudah 13 tahun Paradila Sandi (49) bertahan hidup di sebuah rumah tidak layak huni di RT 11 RW 03, Kelurahan Pensiunan, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang.

Bersama putri bungsunya yang masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar, ia menjalani hari-hari dalam rumah sederhana yang nyaris tak mampu lagi melindungi mereka dari hujan dan angin.

Setiap pagi sebelum matahari benar-benar meninggi, Paradila sudah bersiap berangkat bekerja.

Sejak berpisah dengan suaminya pada 2013, ia memutuskan kembali ke rumah peninggalan orang tuanya.

Rumah yang berdiri di atas tanah keluarga itu kemudian menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi dirinya dan sang anak, meski kondisinya jauh dari kata layak.

Bangunan berukuran sekitar 2,5 x 6 meter itu hanya memiliki dua ruangan dan satu kamar tidur.

Dinding rumah masih menggunakan anyaman pelepah bambu yang sudah lapuk. 

Di beberapa bagian terlihat berlubang sehingga terpaksa ditutup dengan lemari tua agar angin tidak langsung masuk ke dalam rumah.

Lantai rumah masih berupa tanah yang hanya dialasi tikar.

Sementara atap seng bekas yang telah dimakan usia menjadi sumber persoalan setiap kali hujan turun. 

Air dengan mudah menetes ke dalam rumah sehingga Paradila harus memasang terpal dan menyiapkan ember di sejumlah titik untuk menampung kebocoran.

"Kalau hujan pasti bocor. Kasur, pakaian, dan barang-barang harus dipindahkan supaya tidak basah. Airnya kami tampung pakai ember," ujar Paradila.

Meski serba terbatas, rumah itu tetap menjadi tempat pulang bagi dirinya dan putri bungsunya. Anak sulung Paradila diketahui telah merantau mengikuti kerabat sekitar tiga tahun lalu sehingga kini ia hanya tinggal berdua bersama anak perempuannya.

"Saya punya dua anak. Yang sulung sudah ikut kerabat merantau. Sekarang tinggal berdua dengan anak perempuan yang masih kelas empat SD," tuturnya.

Bertahan dengan Penghasilan Rp40 Ribu Sehari

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Paradila bekerja di sebuah warung lontong milik warga. Setiap hari ia mulai bekerja sejak pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 13.00 WIB.

Dari pekerjaan tersebut, Paradila hanya memperoleh upah sekitar Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per hari.

Penghasilan itu harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan makan, biaya sekolah anak, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

"Pendapatan saya sekitar Rp35 ribu sampai Rp40 ribu sehari. Cukup tidak cukup ya harus dicukupkan," katanya.

Di tengah kondisi ekonomi yang pas-pasan, Paradila mengaku belum pernah mendapatkan bantuan program perbaikan rumah.

Ia juga belum pernah mengajukan usulan karena tidak memahami mekanisme pengajuan bantuan rumah layak huni.

"Belum pernah menerima bantuan. Kami juga belum pernah mengusulkan karena tidak tahu caranya," ungkapnya.

Kini, harapan terbesar Paradila sederhana. Ia ingin rumah yang telah ditempatinya selama lebih dari satu dekade itu dapat diperbaiki agar lebih aman dan nyaman untuk ditinggali bersama putrinya.

"Kalau memang ada bantuan, saya hanya berharap rumah ini bisa direhab supaya lebih layak ditempati," harapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.