Sosok Fahira Almira, Adik Sarah Keihl Viral Kasus Salah Diagnosa Usus Buntu, Dituding Black Campaign
Dedy Qurniawan August 12, 2026 09:03 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Selebgram Fahira Almira membagikan pengalamannya saat berobat ke tiga rumah sakit yang ada di Indonesia.

Menurut pengakuan Fahira, tiga rumah sakit di Indonesia mendiagnosa ia mengalami radang usus buntu (appendicitis).

Namun hasil yang berbeda didapat Fahira saat dirinya memeriksakan kondisi kesehatan di rumah sakit yang ada di Penang, Malaysia.

Rumah sakit di Penang menyatakan bahwa Fahira tidak mengalami apendisitis atau pembengkakan di usus buntunya, melainkan yang bermasalah adalah usus besar.

Pengalaman ini dibagikan oleh Fahira Almira di media sosialnya hingga menimbulkan reaksi beragam dari warganet.

Banyak di antaranya yang menduga bahwa konten yang diunggah Fahira adalah black campaign terhadap faskes di Indonesia.

Baca juga: Kronologi Aiptu Asep Suhara Tewas Ditabrak Mahasiswa Mabuk, Baru Pulang Patroli Kamtibmas

Tak hanya itu, ia dituding mendapat endorsement dari RS di Penang.

Sosok Fahira Almira

Fahira Almira lahir pada 16 Januari 2004, ia adalah adik dari selebgram Sarah Keihl.

Fahira berasal dari Jawa Timur, meski begitu ia memiliki darah keturunan Turki.

Adik Sarah Keihl ini diketahui menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya, Jurusan Administrasi Bisnis.

Selain dikenal sebagai adik Sarah Keihl, Fahira Mira merupakan seorang kreator konten sekaligus aktris muda berbakat. 

Gadis keturunan Turki ini memulai popularitasnya dari konten-konten kreatif yang diunggah di platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. 

Melalui karya-karyanya, Fahira mampu menarik jutaan pengikut dan menjadi salah satu figur inspiratif bagi generasi muda. 

Tidak hanya berkutat di media sosial, Fahira mulai melebarkan sayapnya di dunia akting.

Ia pernah membintangi film layar lebar Kutukan 9 Setan pada tahun 2023, sebuah langkah penting dalam perjalanan karirnya di dunia seni peran. 

Selain itu, ia juga terlibat dalam serial web Metamorfosa Cacing yang dirilis pada 2021, menunjukkan kemampuan aktingnya yang menjanjikan dan keseriusannya untuk terus berkembang di industri hiburan.

Pada 2024, Fahira turut membintangi film berjudul Negeri Para Ketua akan tayang. 

Dalam film ini, Fahira berperan sebagai Anjali, adik kesayangan Ketua Rakes (Van Jhoov), yang terlibat dalam konflik karena usaha merebut toko milik keluarganya. 

Karier

Fahira meriah jutaan followers karena dianggap warganet kontennya memberikan inspirasi dan hiburan buat mereka, sehingga tak mau tertinggal menyaksikan kehidupan sehari-hari nya.

Setelah sukses membuat konten, Fahira kini sedang nyaman di dunia akting. Sudah lima judul film yang ia bintangi.

"Main Film ini jujur cita-citaku dari kecil. Setelah melalui berbagai proses, aku bersyukur alhamdulillah ada di titik ini," kata Fahira Almira kepada Wartakotalive.com, ketika ditemui kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (10/7/2026) malam.

Baca juga: Nasib Wasit Tarkam di Bogor Dikeroyok Massa, Sempat Diisukan Tewas, Polisi Sebut Aman: Gapapa Sehat

Fahura menceritakan bahwa transisinya dari seorang kreator konten media sosial ke dunia akting profesional, tidaklah terjadi secara instan. 

Pada awal-awal keterlibatannya di industri perfilman, wanita keturunan Turki itu sempat merasa kaget dengan ritme kerja project layar lebar yang berbeda jauh dengan pembuatan konten pribadi.

"Dari yang awalnya hanya membuat konten, terus pertama kali syuting film sempat merasa kaget juga ya," ucapnya. 

"Tapi seiring berjalannya waktu, aku terus belajar dan belajar sampai akhirnya bisa berada di titik ini. Alhamdulillah," tambahnya.

Fahira tentu tidak luput dari sorotan publik dengan 1,8 juta followersnya. Banyak selebgram atau artis yang merasa ruang geraknya terbatasi karena ketatnya komentar netizen di dunia maya. 

Wanita asal Jawa Timur itu mengaku tidak beban memiliki jutaan followers. Justru ia jadikan semua warganet sebagai teman onlinenya.

"Enggak merasa terbatasi sih. Aku justru lebih menganggap netizen itu seperti teman online. Kami bisa berinteraksi, aku juga suka bikin sesi tanya jawab di media sosial. Dukungan utama kami sebagai figur publik kan memang datang dari mereka," jelasnya.

Kendati demikian, Fahira mengakui ada saja warganet yang kerap memberikan komentar negatif atau hinaan kepada dirinya. Tapi, ia tak mau ambil pusing dengan ulah mereka.

Fahira memilih cuek dengan komentar negatif, walaupun ia sering sekali membalas cuitan dari followers nya di instagram.

"Namanya kita bekerja di industri hiburan pasti ada saja komentar miring atau orang yang tidak suka. Tapi ya sudah, aku let it go saja. Biasanya hanya aku baca saja, tanpa perlu ditanggapi secara berlebihan," terangnya.

Fahira Almira menegaskan tidak akan memberikan respon buat warganet yang terus menerus menghinanya di media sosial, baginya yang terpenting adalah berkarya.

"Menurutku, orang-orang seperti itu (para pembenci) tidak usah dikasih panggung," ujar Fahira Almira. 

Fahira Dituding Black Campaign terhadap Faskes di Indonesia

Fahira Almira membagikan pengalamannya menjalani pemeriksaan usus buntu di rumah sakit Penang, Malaysia, beberapa waktu lalu.

Dalam video yang dibagikan di TikTok-nya, Fahira bercerita bahwa terdapat perbedaan diagnosis antara tiga rumah sakit di Indonesia dan rumah sakit tempatnya menjalani pemeriksaan di Penang.

Di tiga rumah sakit di Indonesia, Fahira mendapatkan diagnosis radang usus buntu (apendisitis) karena ukuran usus buntunya sudah berdiameter 8,1 milimeter, lebih besar daripada ukuran usus buntu normal yang hanya berdiameter 6-7 milimeter.

Oleh karenanya, dokter yang menanganinya di Indonesia menyarankan untuk segera mengambil tindakan operasi.

Berbeda dengan diagnosis dari rumah sakit di Indonesia, RS di Penang menyatakan bahwa Fahira tidak mengalami apendisitis atau pembengkakan di usus buntunya, melainkan yang bermasalah adalah usus besar.

Selebgram Sarah Keihl lelang keperawanannya untuk disumbangkan pada petugas medis dan terdampak Covid-19.
Selebgram Sarah Keihl . (Instagram @sarahkeihl)

Konten yang diunggahnya di TikTok pada Minggu (9/8) tersebut sontak menimbulkan reaksi beragam dari warganet.

Banyak di antaranya yang menduga bahwa Konten yang diunggah Fahira adalah black campaign terhadap faskes di Indonesia.

Tak hanya itu, ia dituding mendapat endorsement dari RS di Penang.

Saat Ini, konten radang usus buntu yang diunggah Fahira sudah mencapai lebih dari 5 juta tayangan dengan hampir 10 ribu komentar.

Epidemiolog Buka Suara

Menanggapi kontroversi tersebut, ahli kesehatan masyarakat dan epidemiolog, Dicky Budiman, menegaskan bahwa perbedaan hasil pemeriksaan antar-fasilitas kesehatan merupakan hal lumrah secara medis dan tidak serta-merta membuktikan adanya kesalahan atau malpraktik dari salah satu pihak.

Dicky menjelaskan, masyarakat perlu memahami bahwa alat pemindaian seperti ultrasonografi (USG) memiliki keterbatasan inherent.

Hasil pemeriksaan USG sangat bergantung pada keahlian, pengalaman, dan ketelitian tenaga medis yang mengoperasikannya (operator dependent), serta kecanggihan teknologi alat yang digunakan.

"Ini bukan fenomena aneh atau eksklusif di Indonesia atau di ASEAN. Secara objektif USG itu bersifat sangat operator dependent. Bahkan dalam studi medis, appendix (usus buntu) bisa gagal tervisualisasi pada 30 sampai 50 persen kasus," ungkap Dicky kepada Tribunnews, Rabu (12/8/2026).

Selain faktor operator, kondisi fisik dan anatomi tubuh pasien juga memegang peranan penting.

Penumpukan gas di dalam usus, obesitas, hingga posisi usus buntu yang tersembunyi di belakang usus besar (retrocecal) dapat menyulitkan pembacaan USG. Kondisi retrocecal ini sendiri dialami oleh sekitar 60 persen populasi.

Faktor lain yang kerap luput dari perhatian publik adalah rentang waktu antara pemeriksaan pertama dan berikutnya.

Peradangan usus buntu bersifat dinamis, kondisi peradangan bisa memburuk seiring waktu, tetapi juga dapat membaik secara spontan atau dikenal dengan istilah self-limiting appendicitis.

"Ketika ada jeda waktu yang cukup lama antara pemeriksaan di Indonesia dan di Penang, kondisi pasien bisa jadi memang sudah berubah. Jadi, perbedaan hasil tidak otomatis berarti salah satu pihak keliru," tambahnya.

Dicky juga menyebutkan adanya kemungkinan kondisi lain yang memicu gejala serupa radang usus buntu, salah satunya fecal impaction atau penumpukan tinja.

Penumpukan tinja dapat menyebabkan nyeri perut bagian kanan bawah sekaligus memicu sedikit pembesaran pada appendix.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak langsung menyimpulkan adanya kesalahan penanganan oleh rumah sakit di Indonesia.

Menurutnya, publik hanya melihat sepotong informasi dari konten media sosial tanpa memiliki akses ke rekam medis lengkap pasien, sementara pihak rumah sakit terikat oleh kerahasiaan medis.

"Perbedaan hasil antar-fasilitas kesehatan bisa terjadi secara sah karena keterbatasan inherent USG, bukan otomatis indikasi malpraktik," tutup Dicky.

(Bangkapos.com/Wartakotalive.com/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.