TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perbedaan latar belakang, seragam, hingga status sosial acap kali menjadi sekat pembatas dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun, sekat itu seolah menguap di sepanjang jalan Malioboro menuju Titik Nol Kilometer, Yogyakarta, Rabu (12/8/2026) sore.
Sekitar seribu warga, mulai dari aparat TNI-Polri, elemen ormas keagamaan, hingga kelompok hobi, melebur menjadi satu barisan panjang pengawal bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter.
Pawai yang membelah kota ini bukan sekadar unjuk kemeriahan jelang hari kemerdekaan, melainkan sebuah pengingat lembut bahwa Republik ini dirajut untuk menjadi rumah yang setara bagi semua, termasuk bagi mereka yang terpinggirkan.
Berjalan beriringan dari Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), massa secara gotong royong mengangkat kain dwiwarna tersebut di atas kepala agar tidak jatuh dan menyentuh aspal.
Kegiatan bertajuk Parade Suara Inklusi ini digelar sebagai simbol bahwa di tengah beragam persoalan bangsa, masyarakat tetap memiliki semangat untuk bersatu.
Koordinator Kirab, Nurholis, memaparkan bahwa kemerdekaan sejatinya harus bermakna ruang yang inklusif.
Ia menekankan bahwa perayaan kemerdekaan belum usai jika hak-hak kelompok rentan, seperti penyandang disabilitas, belum sepenuhnya terpenuhi.
"Persatuan tidak hanya berarti menyatukan kelompok-kelompok yang memiliki latar belakang sama, tetapi juga memastikan seluruh elemen masyarakat memiliki ruang yang setara dalam kehidupan berbangsa. Kami berharap kegiatan ini semakin menggerakkan masyarakat untuk peduli terhadap kaum difabel sekaligus mempererat persatuan dan kebersamaan," tuturnya.
Untuk mewujudkan manifestasi keberagaman tersebut, panitia sengaja menggandeng berbagai unsur masyarakat.
Nurholis menyebutkan, elemen yang terlibat antara lain perwakilan Nahdlatul Ulama melalui Banser dan Fatayat, warga Muhammadiyah, hingga berbagai komunitas akar rumput.
Koordinator Kirab lainnya, Herjuno Kurniawan, menambahkan bahwa keberagaman peserta justru menjadi ruh utama dari parade ini.
Selain ormas, barisan pengawal bendera juga diisi oleh aparat kepolisian, prajurit militer, hingga Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).
Usia, latar belakang institusi, dan rutinitas harian tak lagi relevan saat semuanya memiliki identitas tunggal sebagai warga negara Indonesia.
“Ini kita bersatu untuk membawa bendera yang panjangnya 1.000 meter. Ini wujud kebinekaan, keberagaman yang menjadi satu tujuan,” kata Herjuno menegaskan.
Baca juga: Pegiat Seni dan UMKM di DIY Manfaakan Pendaftaran Hak Cipta Gratis di Teras Malioboro
Pesan persatuan yang dibawa dalam parade ini tidak hanya datang dari tokoh-tokoh pemuda atau aparat, melainkan juga dari kalangan warga senior.
Di antara barisan pengawal bendera, tampak kehadiran anggota Komunitas Sepeda Ontel Jogja (KOJA).
Suryadi (74), salah satu anggota KOJA, mengaku sangat antusias berpartisipasi menjaga bendera agar tetap membentang sempurna.
"Kami terbiasa melakukan berbagai aktivitas bersepeda, termasuk perjalanan Jogja-Borobudur, Jogja-Kaliurang, hingga Jogja-Parangtritis," jelasnya.
Namun, di balik antusiasme tersebut, terselip kritik tajam terhadap cara bangsa ini merayakan kemerdekaan setiap bulan Agustus.
Anggota KOJA lainnya, Yanto (63), secara tegas mengingatkan bahwa peringatan 17 Agustus berisiko kehilangan maknanya jika hanya diisi dengan kegiatan seremonial yang populis.
Baginya, momentum kemerdekaan adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi sejauh mana kesadaran sejarah dan kepedulian sosial telah dibangun.
"Jangan sekadar upacara, jangan sekadar hura-hura, tapi bagaimana kita membangun kesadaran kesejarahan dan kesadaran peduli terhadap yang lain. Jangan hanya pada hura-huranya, pada peringatan-peringatan yang seremonial. Tapi bagaimana kita memaknai bangsa ini perlu membangun kesadaran dan nilai-nilai," papar Yanto.
Lebih jauh, ia berharap agar penyelenggara negara sungguh-sungguh mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat tanpa menjadikan pembangunan sebatas alat pencitraan. "Harapannya kita benar-benar bisa mewujudkan kedaulatan rakyat," imbuhnya.
Suara dari jalanan Malioboro ini terasa kian dekat dengan realitas bangsa kita sekarang.
Di tengah suasana sosial-politik yang sering diwarnai silang pendapat, Parade Suara Inklusi memberi pesan sederhana tetapi kuat: perbedaan tak seharusnya memicu perpecahan.
Justru, keberagaman itu bisa jadi modal bersama untuk menjaga keutuhan negeri. (*)