Fenomena 'Makan Tabungan' Mulai Hantam Warga Jogja: Memasuki Mode Bertahan Hidup​
Joko Widiyarso August 12, 2026 09:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, ​YOGYA - Fenomena "makan tabungan" atau tergerusnya simpanan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari semakin nyata dirasakan masyarakat kelas menengah di Kota Yogyakarta. 

Melonjaknya harga barang pokok yang tak diimbangi kenaikan pendapatan, membuat sebagian warga harus mengencangkan ikat pinggang, bahkan merelakan dana simpanan demi bertahan hidup.

​Kondisi mengkhawatirkan tersebut salah satunya dirasakan oleh Hartono, seorang karyawan swasta yang bermukim di wilayah Kota Yogyakarta. 

Ia tak menampik, dirinya termasuk satu di antara warga yang kini bergantung pada simpanan untuk menutup celah pengeluaran yang semakin membengkak.

​"Kondisi sekarang sepertinya banyak sih (yang makan tabungan), termasuk saya," ujar Hartono sembari tertawa getir, saat ditemui, Rabu (12/8/26).

​Ia menceritakan, beban finansialnya terasa kian berat saat momen-momen tertentu tiba bersamaan, seperti kisaran bulan Juli 2026 lalu, ketika memasuki tahun ajaran baru sekolah anak. 

Bagaimana tidak, dalam waktu yang hampir bersamaan, dirinya harus memutar otak untuk membagi gaji antara kewajiban bulanan dan biaya pendidikan.

​"Ya contohnya pas tahun ajaran baru kemarin. Bayangin saja, cicilan rumah, motor, jatuhnya bareng sama tanggal bayar sekolah anak. Seragam baru, buku-buku baru, semuanya lah," ungkapnya.

​Dengan pendapatan yang stagnan, menggerus tabungan menjadi satu-satunya jalan keluar logis bagi Hartono agar seluruh kewajiban tersebut tetap terbayar. 

Tak hanya untuk kebutuhan memenuhi mendesak tahunan, simpanannya pun kini kerap tercuil untuk sekadar menutup operasional harian rumah tangga.

​"Sebenarnya sama saja, tetap harus mencuil tabungan, karena kebutuhan sekarang serba mahal. Bahan makanan, bensin, semuanya naik," keluh pria 42 tahun itu.

"Kalau ditanya risiko kehilangan dana darurat, wah, kondisi sekarang mikirnya bagaimana bertahan hidup saja. Enggak tahu ke depan bagaimana, pasrah sama Gusti Allah saja, semoga semua baik-baik, lancar-lancar," imbuhnya.

Pangkas tabungan tiap bulan

​Senada dengan Hartono, tekanan ekonomi akibat kenaikan harga kebutuhan pokok juga dirasakan oleh Intan Dewi, seorang ibu rumah tangga warga Kota Yogyakarta. 

Bagaimana tidak, dirinya mengaku hampir setiap bulan merelakan uang simpanan yang susah payah dihimpun keluarga, terpangkas sedikit demi sedikit.

​"Sekarang hampir tiap bulan buat memenuhi kebutuhan itu kita harus memangkas tabungan. Ya bagaimana lagi, wong harga-harga naik semua, kebutuhan juga semakin banyak," katanya.

​Guna menekan laju pengikisan tabungan supaya tak kehabisan dana sama sekali, Intan menerapkan strategi penghematan yang cenderung ekstrem. 

Berbagai rencana hiburan hingga agenda rutin sakral keluarga besar, terpaksa dipangkas demi memprioritaskan kebutuhan perut keluarga kecilnya.

​"Paling sederhana ya menunda beli ini-itu yang belum butuh banget. Kemudian, jadwal mudik ke rumah orang tua, anak ngajak liburan, semua ditunda. Mode bertahan hidup dulu saja sekarang," jelasnya.

​Lebih lanjut, Intan pun menaruh harapan besar agar kondisi perekonomian segera membaik dan harga bahan pokok bisa kembali terjangkau oleh daya beli masyarakat.

Pasalnya, ia memandang, jika fenomena ini bertahan lama, banyak keluarga di tanah air, termasuk di Yogyakarta, yang terancam jatuh ke jurang kemiskinan.

​"Semoga perekonomian lekas membaik, harga-harga kebutuhan pokok turun, rupiah menguat. Ampun lah kalau kondisinya seperti ini terus," pungkasnya. (aka)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.